MALANG – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Fakultas Sains, Teknologi, dan Matematika (FSTeM) Universitas Brawijaya menggelar pelatihan pembuatan lilin aromatik berbahan dasar minyak jelantah melalui program kerja LAMBDA (Lilin Aromatik Berbahan Dasar Minyak Bekas) di Balai Desa Banjarsari, Kecamatan Ngajum, Kabupaten Malang, pada Selasa (14/07). Kegiatan ini diikuti oleh warga sekitar sebagai upaya meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pengelolaan limbah rumah tangga sekaligus memperkenalkan pemanfaatan minyak jelantah menjadi produk yang memiliki nilai guna dan nilai ekonomi.

Minyak jelantah masih menjadi salah satu limbah rumah tangga yang sering dijumpai di Desa Banjarsari. Selain berasal dari penggunaan sehari-hari di rumah, limbah ini juga dihasilkan oleh sejumlah pelaku UMKM, khususnya yang bergerak di bidang kuliner. Selama ini, minyak bekas pakai umumnya langsung dibuang karena masyarakat belum mengetahui bahwa minyak tersebut masih dapat dimanfaatkan menjadi produk lain yang lebih bermanfaat.

Melihat kondisi tersebut, mahasiswa KKN FSTeM Universitas Brawijaya mengajak masyarakat mengenal cara mengolah minyak jelantah menjadi lilin aromatik. Kegiatan diawali dengan sosialisasi mengenai dampak pembuangan minyak jelantah terhadap lingkungan, kemudian dilanjutkan dengan pengenalan bahan dan alat yang digunakan dalam proses pembuatan lilin.

Setelah sesi penyampaian materi, peserta diajak mempraktikkan langsung proses pembuatan lilin aromatik. Mahasiswa KKN mendampingi setiap tahapan, mulai dari menyaring minyak jelantah, mencampurkan parafin dan asam stearat, menambahkan pewarna, hingga menuangkan essential oil sebagai pewangi sebelum lilin dicetak ke dalam wadah.

Penanggung jawab program kerja LAMBDA, Muhammad Arfa Fathian, menjelaskan bahwa bahan-bahan yang digunakan sengaja dipilih agar mudah diperoleh masyarakat sehingga pelatihan dapat dipraktikkan kembali di rumah. "Kami sengaja menggunakan bahan yang mudah dicari. Hampir semuanya bisa dibeli di toko kimia, bahkan sekarang juga banyak tersedia di toko online. Harapannya setelah pelatihan ini warga bisa mencoba membuatnya sendiri di rumah, bahkan kalau nanti berkembang bisa menjadi produk yang memiliki nilai jual" ujarnya.

Suasana pelatihan semakin meriah ketika peserta mulai menambahkan essential oil ke dalam campuran lilin. Aroma yang harum langsung tercium dan membuat ibu-ibu maupun anak-anak tampak antusias mengikuti setiap prosesnya.

Praktik pembuatan lilin aromatik bersama ibu-ibu PKK dan anak-anak
Praktik pembuatan lilin aromatik bersama ibu-ibu PKK dan anak-anak — Dokumen pribadi

Salah seorang peserta mengaku kegiatan ini memberikan pengetahuan baru dan bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. "Selama ini saya bingung minyak bekas itu harus diapakan, jadi biasanya langsung dibuang. Setelah ikut kegiatan ini ternyata minyak jelantah masih bisa dimanfaatkan menjadi lilin. Kegiatan seperti ini sangat bermanfaat karena limbah minyak memang paling sering ada di rumah," ungkapnya.

Antusiasme masyarakat terlihat dari jumlah peserta yang hadir. Sebanyak 25 warga mengikuti pelatihan hingga selesai, melampaui target awal yang ditetapkan sebanyak 15 peserta. Seluruh rangkaian kegiatan berlangsung sesuai dengan rencana, mulai dari penyampaian materi hingga praktik pembuatan lilin. Pada akhir kegiatan, setiap peserta membawa pulang hasil karya mereka.

Hasil akhir lilin aromatik
Hasil akhir lilin aromatik — Dokumen pribadi

Melalui program kerja LAMBDA, mahasiswa KKN FSTeM 2026 Universitas Brawijaya berharap masyarakat Desa Banjarsari semakin paham bahwa minyak jelantah masih dapat dimanfaatkan dan tidak harus berakhir sebagai limbah. Pengolahan minyak jelantah menjadi lilin aromatik juga menjadi salah satu bentuk penerapan SDGs 12 (Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab) melalui pemanfaatan kembali limbah rumah tangga. Produk yang dihasilkan juga memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai usaha kreatif masyarakat, sejalan dengan SDGs 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi).