Tegal, Jawa Tengah – Apa yang biasanya dianggap sebagai sampah, ternyata masih bisa memiliki nilai guna. Hal inilah yang coba dikembangkan di Desa Rembul, Kecamatan Bojong, Kabupaten Tegal, melalui pemanfaatan sampah organik untuk budidaya maggot Black Soldier Fly (BSF).

Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Tematik Inovasi (KKN-T Inovasi) Institut Pertanian Bogor (IPB) memperkenalkan melalui program “Transformasi Sampah Organik melalui Budidaya Maggot.”

Gagasan ini berangkat dari kondisi pengelolaan sampah di TPS 3R Desa Rembul. Pemilahan sampah sebenarnya sudah dilakukan, yakni dengan memisahkan sampah organik dan anorganik. Sampah anorganik yang masih memiliki nilai ekonomi dapat dipilah untuk dijual kembali. Sementara itu, sampah organik sebagian dimanfaatkan untuk pembuatan kompos. Pengomposan umumnya membutuhkan waktu yang cukup lama. Ketika jumlah sampah organik yang masuk lebih banyak daripada kemampuan pengolahannya, sampah pun berpotensi menumpuk di TPS 3R.

Dari kondisi tersebut, muncul gagasan untuk mencoba cara lain dalam mengolah sampah organik. Bukan hanya mengurangi sampah, tetapi juga menghasilkan sesuatu yang memiliki nilai tambah.

Ketika Sampah Menjadi Pakan Maggot

Maggot BSF diperkenalkan kepada masyarakat Desa Rembul sebagai salah satu alternatif pengolahan sampah organik. Sampah organik yang sebelumnya menumpuk dapat dimanfaatkan sebagai pakan maggot. Setelah dipelihara, maggot yang dihasilkan dapat dimanfaatkan sebagai pakan alternatif untuk ikan, ayam, dan ternak lainnya.

Potensi tersebut cukup relevan dengan kondisi Desa Rembul yang memiliki aktivitas peternakan dan pertanian. Dengan begitu, pengelolaan sampah dan pemanfaatan hasil budidaya dapat saling terhubung.

Zahroh et al. (2023) menyebutkan bahwa maggot BSF memiliki kandungan protein sekitar 40–50% dan lemak 29–32%. Kandungan tersebut membuat maggot berpotensi dimanfaatkan sebagai salah satu sumber protein dalam pakan ternak.

Tidak hanya menghasilkan maggot, proses budidayanya juga menghasilkan residu yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan kompos. Artinya, terdapat lebih dari satu bentuk pemanfaatan yang dapat diperoleh dari proses pengolahan sampah organik tersebut.

Tidak Sekadar Sosialisasi

Pengenalan budidaya maggot di Desa Rembul tidak berhenti pada penyampaian materi. Mahasiswa KKN-T Inovasi juga mengajak masyarakat melihat secara langsung bagaimana budidaya BSF dilakukan.

Kegiatan sosialisasi dan demonstrasi dilaksanakan pada Sabtu, 25 Juli 2026, di Pelataran BUMDes Sinar Rembulan, Desa Rembul. Dalam kegiatan tersebut, peserta diperkenalkan dengan siklus hidup BSF, mulai dari telur, larva, pupa, hingga lalat dewasa. Mahasiswa juga membuat satu unit kandang maggot berukuran 50 × 50 × 100 cm sebagai sarana percontohan. Kandang tersebut dilengkapi media oviposisi berupa susunan kayu berongga yang dapat menjadi tempat bagi lalat BSF betina meletakkan telur.

Melalui demonstrasi tersebut, masyarakat dapat melihat secara langsung tahapan budidaya, bukan hanya membayangkannya dari penjelasan atau materi tertulis.

Dari Satu Kandang untuk Dikembangkan

Unit kandang yang dibuat dalam kegiatan ini memang masih berskala sederhana. Namun, keberadaannya diharapkan dapat menjadi contoh awal yang dapat dikembangkan setelah kegiatan KKN selesai.

Pengembangan selanjutnya dapat dilakukan dengan menambah kapasitas kandang sesuai dengan jumlah sampah organik yang tersedia di TPS 3R. Semakin banyak sampah organik yang dapat dikumpulkan dan dipilah dengan baik, semakin besar pula peluang pengembangan unit budidaya.

Tidak menutup kemungkinan, konsep serupa juga diterapkan di tingkat rumah tangga. Setiap rumah dapat memiliki unit budidaya maggot sederhana untuk mengolah sebagian sampah organik yang dihasilkan sehari-hari. Jika dilakukan secara bertahap, pengolahan sampah dari sumbernya dapat membantu mengurangi beban TPS 3R. Sampah organik tidak semuanya harus berakhir di tempat pengolahan, tetapi sebagian dapat dimanfaatkan terlebih dahulu menjadi pakan maggot.

Membangun Kebiasaan Baru dalam Mengelola Sampah

Lebih dari sekadar mengenalkan budidaya maggot, program ini membawa pesan bahwa pengelolaan sampah dapat dimulai dari kebiasaan sederhana. Pemilahan sampah dari rumah menjadi langkah awal yang penting sebelum sampah dibawa ke TPS 3R dan menumpuk.

Keberlanjutan program juga membutuhkan keterlibatan masyarakat. Pengelola TPS 3R dapat menjadi bagian penting dalam pengembangan unit budidaya, sedangkan masyarakat dapat berperan dengan memilah dan menyediakan sampah organik yang sesuai. Kelompok PKK, Karang Taruna, dan perangkat desa juga dapat dilibatkan dalam pengembangan keterampilan serta pemanfaatan hasil budidaya.

Pada akhirnya, inovasi ini bukan hanya tentang bagaimana mengurangi sampah, tetapi juga tentang bagaimana mengubah cara pandang terhadap sampah. Sesuatu yang sebelumnya dianggap tidak berguna dapat menjadi bagian dari siklus yang memberikan manfaat bagi lingkungan dan masyarakat.

Jika dikelola secara konsisten dan dikembangkan bersama, budidaya maggot dapat menjadi salah satu langkah kecil Desa Rembul menuju pengelolaan sampah yang lebih mandiri dan berkelanjutan.