Klaten — Perpustakaan sekolah sering kali menyimpan harta karun berupa ensiklopedia berkualitas tinggi yang kaya akan ilmu pengetahuan. Namun, karena format penyajian dan bahasanya yang terkesan padat, buku-buku tersebut kerap kali berdebu di rak dan jarang tersentuh oleh siswa. Kondisi ini membuat potensi besar informasi di dalamnya menjadi terbuang sia-sia tanpa dimanfaatkan secara optimal. Oleh karena itu, diperlukan sebuah pendekatan kreatif agar sumber belajar berharga ini dapat diminati kembali oleh anak-anak.

Melihat fenomena tersebut, Rizqina Andita Fawzia, mahasiswa KKN Tim II Reguler 2026 dari program studi Ilmu Perpustakaan dan Informasi, menghadirkan inovasi layanan sirkulasi dan literasi informasi. Inovasi ini dilaksanakan di SDN 3 Jelobo pada Senin (27/7/2026) dengan menyasar seluruh siswa kelas 4. Melalui program bertajuk "Transformasi Literasi Visual Anak melalui Kemas Ulang Informasi Berbasis Ensiklopedia", kegiatan ini mengusung pendekatan yang interaktif. Rizqina mengajak siswa untuk mengolah kembali materi ensiklopedia yang berat menjadi karya visual yang menarik dan jauh lebih mudah dipahami.

Program ini lahir dari evaluasi terhadap kegiatan literasi sekolah yang sebelumnya cenderung berjalan pasif. Selama ini, pihak perpustakaan biasanya hanya mengajak siswa menonton video tanpa adanya tindak lanjut atau pendalaman materi yang lebih berarti. Melalui metode Information Repackaging (kemas ulang informasi) secara fisik, anak-anak kini diajak untuk terlibat secara langsung dalam proses belajar. Mereka diajarkan untuk bergeser dari sekadar konsumen informasi pasif menjadi produser informasi yang aktif, kritis, dan kreatif.

Sebelum sesi praktik dimulai, Rizqina terlebih dahulu membedah koleksi ensiklopedia perpustakaan untuk memilah materi yang relevan. Ia menyaring data rumit di dalamnya menjadi 2 hingga 3 fakta kunci tentang daur hidup kupu-kupu yang disesuaikan dengan tingkat pemahaman anak kelas 4. Selain itu, ia juga telah merancang tata letak dasar infografis pada kertas karton sebagai panduan acuan visual bagi para siswa. Persiapan matang ini dilakukan agar anak-anak tidak kebingungan saat mulai menyusun karya infografis mereka sendiri.

Kegiatan diawali dengan metode Interactive Storytelling atau dongeng visual untuk memantik antusiasme belajar siswa. Rizqina memimpin alur cerita mengenai metamorfosis kupu-kupu dengan gaya yang interaktif, komunikatif, dan ramah anak. Pada saat yang sama, ia memberikan panduan jelas tentang cara merangkum fakta cerita menjadi poin-poin tulisan infografis yang singkat namun informatif. Setelah sesi mendongeng selesai, anak-anak diajak praktik langsung membuat Infografis Kolase Fisik dengan menempelkan elemen gambar dan balon teks di atas karton.

Siswa melakukan presentase hasil karyanya
Siswa melakukan presentase hasil karyanya — (Dokumentasi: KKN-R Tim II Undip Tahun 2026)

Rangkaian acara yang berlangsung penuh semangat dan antusiasme ini dapat berjalan dengan sangat lancar dari awal hingga akhir. Hasil karya infografis kolase fisik buatan para siswa kemudian dirapi dan dikumpulkan oleh tim KKN. Karya-karya tersebut diintegrasikan langsung ke dalam tata ruang perpustakaan SDN 3 Jelobo sebagai elemen dekorasi baru. Kehadirannya kini berfungsi sebagai display dinding yang tidak hanya estetik secara visual, tetapi juga bernilai edukatif.

Pustakawan SDN 3 Jelobo, Ibu Sukani Ismawati, turut memberikan apresiasi tinggi atas keberhasilan dan keberlangsungan program KKN ini. Beliau menyampaikan rasa terima kasihnya karena pendekatan ilmu perpustakaan melalui kemas ulang informasi ini terbukti sangat efektif bagi siswa. Metode ini berhasil membuat anak-anak kelas 4 menjadi jauh lebih paham mengenai konsep daur hidup kupu-kupu secara mendalam. Selain itu, Ibu Sukani menuturkan bahwa hadirnya desain infografis yang mewarnai dinding perpustakaan berhasil menambah ketertarikan siswa-siswi lain untuk datang dan berkunjung.