Demak - Kamis (6/8/2026), mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) MIT Posko 102 UIN Walisongo Semarang melaksanakan program Digitalisasi Pendampingan UMKM melalui pembuatan QRIS dan Google Maps bagi pelaku usaha di Desa Tlogodowo, Kecamatan Wonosalam, Kabupaten Demak. Program ini dilaksanakan sebagai upaya membantu pelaku UMKM beradaptasi dengan perkembangan teknologi digital, mengingat masih banyak masyarakat yang belum terbiasa memanfaatkan layanan digital dalam menjalankan usahanya.
Pendampingan dilakukan secara door to door dengan mendatangi para pelaku UMKM untuk memberikan edukasi mengenai manfaat QRIS sebagai metode pembayaran non-tunai serta Google Maps sebagai media untuk memperkenalkan lokasi usaha kepada masyarakat yang lebih luas. Selama proses pendampingan, mahasiswa KKN juga membantu secara langsung proses pendaftaran hingga layanan tersebut dapat digunakan.
Salah satu UMKM yang didampingi adalah Fira Tea, sebuah kedai teh milik Bu Fira. Saat tim KKN menawarkan bantuan pembuatan lokasi usaha di Google Maps, Bu Fira mengaku masih belum terbiasa menggunakan teknologi tersebut.
“Saya itu gaptek dengan Google Maps, biasanya yang otak-atik itu anak saya,” ujar Bu Fira.
Menanggapi hal tersebut, Koordinator Bidang Ekonomi Kreatif KKN, Davif, menjelaskan bahwa pencantuman lokasi usaha di Google Maps dapat memudahkan pelanggan menemukan kedai sehingga berpotensi meningkatkan jumlah pengunjung.
Namun, Bu Fira sempat menyampaikan keraguannya karena memiliki rencana memindahkan lokasi usahanya. “Sebenarnya saya mau pindah lokasi, Mas. Biar nanti kalau Maps itu di depan rumah saya. Tapi, belum tahu kapan pindahnya,” katanya.
Mendengar hal tersebut, anggota tim Ekonomi Kreatif, Tiara, memberikan solusi agar lokasi usaha tetap didaftarkan terlebih dahulu. “Bagaimana jika dibuatkan terlebih dahulu? Nanti andaikata pindah kami bantu buat lagi dan kami tinggali nomor telepon untuk lebih lanjutnya,” jelas Tiara.
Setelah mendapatkan penjelasan tersebut, Bu Fira akhirnya menyetujui pembuatan Google Maps untuk usahanya.
Pendampingan berikutnya dilakukan kepada Bu Kholifah, pemilik toko sembako di Desa Tlogodowo. Saat ditawari pembuatan QRIS, Bu Kholifah mengaku sebelumnya pernah mendapatkan tawaran serupa, tetapi menolaknya karena belum memahami manfaat dan proses pembuatannya.
“Saya itu dulu pernah ditawarin buat barcode begitu, Mas. Tapi saya nggak mau karena saya nggak paham, jadi saya nggak ngambil,” tutur Bu Kholifah.
Menanggapi hal tersebut, Davif menjelaskan bahwa pembuatan QRIS tidak dipungut biaya dan proses pembuatannya juga cukup mudah karena seluruh tahapan akan didampingi oleh mahasiswa KKN. Mendengar penjelasan tersebut, Bu Kholifah kemudian bertanya,
“Gampang atau tidak? Kalau gampang ya nggak apa-apa.”
Mahasiswa KKN kemudian menjelaskan bahwa pelaku UMKM hanya perlu menyiapkan beberapa dokumen, sementara proses pendaftaran akan dibantu hingga selesai. Setelah memahami prosedurnya, Bu Kholifah akhirnya bersedia membuat QRIS untuk tokonya.
Tidak hanya Bu Fira dan Bu Kholifah, mahasiswa KKN juga melakukan pendampingan kepada sejumlah pelaku UMKM lainnya di Desa Tlogodowo. Sebagian besar pelaku usaha menyampaikan kendala yang hampir sama, yakni kurang memahami penggunaan teknologi digital, terutama dalam pembuatan QRIS dan pencantuman lokasi usaha di Google Maps. Beberapa di antaranya bahkan mengira layanan tersebut memerlukan biaya atau prosesnya cukup rumit.
Setelah mendapatkan penjelasan mengenai manfaat digitalisasi usaha serta adanya pendampingan secara langsung dari mahasiswa KKN, alhamdulillah seluruh pelaku UMKM yang didampingi menyambut program ini dengan baik dan menyetujui pembuatan QRIS maupun Google Maps sesuai kebutuhan usahanya. Mereka berharap layanan tersebut dapat mempermudah transaksi dengan pelanggan sekaligus membantu usaha mereka lebih mudah ditemukan oleh masyarakat.
Melalui program Digitalisasi Pendampingan UMKM ini, mahasiswa KKN MIT Posko 102 UIN Walisongo Semarang berharap semakin banyak pelaku usaha di Desa Tlogodowo yang mampu memanfaatkan teknologi digital sebagai sarana untuk mengembangkan usaha, meningkatkan kualitas pelayanan kepada pelanggan, serta memperluas jangkauan pemasaran di era digital.







