Upaya mewujudkan lingkungan pembelajaran yang lebih inklusif terus dilakukan oleh mahasiswa Universitas Brawijaya melalui Program Kreativitas Mahasiswa Karsa Cipta (PKM-KC). Tim PKM-KC Universitas Brawijaya bersama dosen pendamping berhasil mengembangkan VERO (Voice Recognition and Openness), sebuah Learning Management System (LMS) berbasis kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) yang dirancang untuk menjembatani komunikasi antara teman tuli, teman dengar, dan dosen dalam proses pembelajaran di perguruan tinggi.
VERO dikembangkan sebagai solusi atas masih terbatasnya akses komunikasi yang dimiliki mahasiswa dengan disabilitas pendengaran di lingkungan pendidikan tinggi. Meskipun berbagai platform pembelajaran digital telah berkembang pesat, sebagian besar belum menyediakan fitur yang mampu mendukung komunikasi dua arah secara real-time menggunakan bahasa isyarat. Kondisi tersebut membuat mahasiswa tuli masih bergantung pada pendamping atau penerjemah bahasa isyarat ketika mengikuti kegiatan akademik.
Melalui integrasi teknologi Computer Vision, Deep Learning, serta dukungan data pelatihan (dataset) yang berbasis pada Bahasa Isyarat Indonesia (BISINDO) dan Sistem Isyarat Bahasa Indonesia (SIBI), VERO menghadirkan berbagai fitur yang dirancang untuk meningkatkan aksesibilitas pembelajaran. Sistem ini mampu menerjemahkan bahasa isyarat menjadi teks, mengubah suara menjadi teks (speech-to-text), mengubah teks menjadi suara (text-to-speech), menyediakan digital whiteboard, hingga mendukung diskusi pembelajaran daring yang lebih inklusif.
Sebagai bagian dari tahapan pengembangan, tim PKM-KC melaksanakan pengujian sistem (system testing) untuk mengetahui tingkat kebermanfaatan serta penerimaan pengguna terhadap VERO. Pengujian dilakukan pada dua perguruan tinggi, yaitu Universitas Brawijaya pada Kamis, 30 Juli 2026, dan Universitas Negeri Malang pada Senin, 3 Agustus 2026.
Kegiatan ini melibatkan teman tuli dan teman dengar sebagai pengguna secara langsung. Seluruh peserta diberikan kesempatan untuk mencoba berbagai fitur yang tersedia pada VERO sekaligus melakukan simulasi komunikasi dalam konteks pembelajaran. Pengujian berlangsung dengan lancar dan mendapat antusiasme yang tinggi dari para peserta.
Selama proses pengujian, peserta dapat merasakan bagaimana teknologi yang dikembangkan mampu membantu proses komunikasi menjadi lebih mudah dan efektif. Tidak hanya berfokus pada aspek teknis sistem, kegiatan ini juga menjadi sarana untuk memperoleh masukan secara langsung dari calon pengguna sehingga pengembangan VERO dapat terus disempurnakan sesuai kebutuhan di lapangan.
Respon yang diberikan para peserta menunjukkan penerimaan yang positif terhadap inovasi LMS VERO. Baik teman tuli maupun teman dengar menilai bahwa VERO memiliki potensi besar dalam mendukung terciptanya pembelajaran yang lebih inklusif di perguruan tinggi. Kehadiran berbagai fitur berbasis kecerdasan buatan (AI) dinilai mampu mengurangi hambatan komunikasi yang selama ini masih sering ditemui dalam proses pembelajaran dan aktivitas akademik.







