Semarang – Upaya pengelolaan sampah organik berbasis masyarakat terus didorong melalui berbagai inovasi sederhana yang mudah diterapkan. Hal tersebut diwujudkan oleh mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKN-T) 92 Tim II Universitas Diponegoro yang melaksanakan program kolaboratif antara pembuatan kompos menggunakan biopori berbahan botol plastik bekas pada pot tanaman dengan pemanfaatan fermentasi air cucian beras sebagai pupuk organik di RW 07 Kelurahan Ngemplak Simongan, Kecamatan Semarang Barat, Kota Semarang.
Program yang dibimbing oleh Widyaningrum Utami, S.Farm., M.Clin.Pharm., Apt. ini merupakan bagian dari implementasi Program Kampung Iklim (ProKlim) yang bertujuan meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pengelolaan sampah organik sekaligus mendukung penghijauan lingkungan melalui teknologi sederhana, murah, dan mudah diaplikasikan di tingkat rumah tangga.
Melihat masih banyaknya limbah organik rumah tangga yang belum dimanfaatkan secara optimal, mahasiswa KKN-T 92 Tim II berkolaborasi menghadirkan dua inovasi yang saling melengkapi. Inovasi pertama berupa biopori mini yang dibuat dari botol plastik bekas dan dipasang langsung pada pot tanaman. Media tersebut diisi dengan sampah organik, seperti sisa sayuran dan daun kering, sehingga dapat terurai menjadi kompos yang langsung menyuplai unsur hara bagi tanaman. Sementara itu, inovasi kedua memanfaatkan air cucian beras yang difermentasi menjadi starter pupuk kompos agar proses pembuatan pupuk lebih cepat. Produk ini berguna untuk membantu meningkatkan pertumbuhan tanaman sekaligus mengurangi limbah cair rumah tangga.

Kedua program tersebut dilaksanakan secara bersamaan dalam satu rangkaian kegiatan sebagai bentuk kolaborasi antarprogram mahasiswa KKN-T 92 Universitas Diponegoro. Selain melakukan demonstrasi secara langsung, mahasiswa juga memberikan edukasi kepada warga mengenai pentingnya pemilahan sampah organik, proses pembuatan kompos, teknik fermentasi air cucian beras, hingga cara pemanfaatannya dalam perawatan tanaman. Agar informasi dapat dipahami dan diterapkan secara mandiri, mahasiswa turut membagikan leaflet yang memuat tahapan pembuatan, manfaat, serta petunjuk penggunaan kedua inovasi tersebut.







