Bayangkan seorang ibu balita yang menunda imunisasi anaknya bukan karena tidak peduli, tapi karena takut pada bisikan tetangga soal "Efek samping mengerikan" yang sebenarnya tak pernah terbukti. Cerita semacam ini bukan fiksi melainkan realita yang ditemukan mahasiswa Belajar Bersama Komunitas (BBK) 8 Universitas Airlangga di Desa Oro-Oro Ombo, Kecamatan Pronojiwo, Kabupaten Lumajang. Dari keresahan itu, lahirlah program FACT (Fight Against Taboos on Immunization and Exclusive Breastfeeding).
Urgensi program ini didukung data Profil Kesehatan Kabupaten Lumajang yaitu cakupan imunisasi dasar lengkap baru mencapai 79,4%, jauh dibawah target 95% untuk membentuk herd immunity (kekebalan kelompok). Puskesmas Kecamatan Pronojiwo juga mencatat bahwasanya sekitar 90% penolakan akan imunisasi dipicu oleh kekhawatiran orang tua terhadap Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI) dan hoaks yang beredar di masyarakat. Kondisi serupa juga terjadi pada pemberian ASI eksklusif, yang pemahamannya masih belum merata di kalangan ibu menyusui. Dari sinilah BBK 8 Oro Oro Ombo 1 tergerak untuk terjun langsung meluruskan mitos dengan edukasi berbasis bukti ilmiah.
Tidak hanya edukasi biasa, acara ini berkolaborasi dengan dr.Rahma Ira Mustikasari, M.Ked.Klin., Sp.A., dokter spesialis anak dengan keahlian khusus di bidang infeksi dan penyakit tropis Departemen Ilmu Kesehatan Anak RS Universitas Airlangga. Demi hadir di Lumajang, beliau rela menempuh perjalanan 200 km dari Surabaya. Kehadirannya menjadi kunci agar pesan yang disampaikan tidak sekedar informatif, tetapi juga kredibel dan mudah dipercaya masyarakat.
Rangkaian kegiatannya pertama yaitu pre-event (23-25 Juli 2026) berupa kampanye daring di media sosial, mengajak seluruh masyarakat untuk menyuarakan pentingnya imunisasi dan ASI eksklusif melalui unggahan challenge. Antusiasme cukup tinggi, yaitu terdapat 35 peserta yang turut aktif berpartisipasi dalam kampanye ini.
Puncaknya adalah main-event (26 Juli 2026), dihadiri oleh 25 peserta dari ibu balita, ibu menyusui, dan ibu hamil. Materi pertama membahas peran imunisasi sebagai benteng utama melawan ISPA, sedangkan materi kedua membahas seluk-beluk ASI eksklusif untuk optimalisasi tumbuh kembang anak. Tidak hanya penjelasan materi saja, peserta juga mendapat pengalaman untuk melihat demonstrasi posisi dan pelekatan menyusui yang baik dan benar menggunakan manekin. Dilanjutkan sesi tanya jawab interaktif, dimana peserta dapat bertanya sepuasnya terkait kekhawatiran mereka akan imunisasi dan ASI eksklusif. Hasil pre-test dan post-test menunjukkan peningkatan pengetahuan yang menggembirakan. Skor imunisasi naik 19,6% dari rata-rata 75,60 naik menjadi 95,60, sedangkan skor ASI eksklusif naik 20,8%, rata-rata 63,60 menjadi 87,20. Uji beda berpasangan menunjukkan nilai signifikansi p=0,000 pada seluruh aspek yang diukur, jauh di bawah ambang batas 0,05 yang lazim dipakai dalam penelitian kesehatan. Artinya, peningkatan pengetahuan ini bukan kebetulan statistik, melainkan efek nyata dari intervensi edukasi yang diberikan.

Program ditutup dengan post-event (27-28 Juli 2026) sebagai upaya menjangkau ibu hamil, ibu menyusui, serta ibu balita yang belum berkesempatan hadir di main-event. Pada hari pertama, kunjungan rumah (door to door) dilakukan bersama kader posyandu Harapan Jaya. Hasilnya, sebanyak 10 ibu hamil dan ibu balita teredukasi, 10 balita diukur tumbuh kembangnnya, sekaligus cek kesehatan gratis bagi para ibu. Tidak hanya berhenti disitu, jangkauan edukasi diperluas dengan menyasar 35 ibu balita di PAUD Sinar Harapan menggunakan poster imunisasi dan ASI eksklusif.
Melalui kolaborasi dan kombinasi dari seluruh rangkaian kegiatan mulai dari kampanye digital, edukasi tatap muka interaktif, serta kunjungan rumah, FACT berhasil menjangkau lebih dari 100 peserta dalam kurun waktu kurang dari satu minggu. Angka-angka tersebut bukan hanya sekadar statistik belaka, ada kepercayaan keliru yang mengakar di masyarakat yang berhasil diluruskan diganti dengan informasi baru yang kredibel disampaikan secara dekat, personal, dan berbasis data. Program kerja ini menjadi bukti bahwa langkah kecil mampu membuka jalan bagi generasi Oro Oro Ombo yang lebih sehat sejak dalam kandungan.







