Mahasiswa UGM mengembangkan NeumaScope untuk skrining pneumonia balita dan Glicovia untuk prediabetes lewat air liur. Inilah cara kerja dan batasannya.
Pemeriksaan penyakit identik dengan jarum, darah, atau rontgen. Dua tim mahasiswa Universitas Gadjah Mada mencoba jalan lain lewat Program Kreativitas Mahasiswa Karya Cipta (PKM-KC) 2026. Satu mendengarkan paru-paru balita, satu lagi membaca air liur.
NeumaScope, mendengar paru dengan sensor
Menurut rilis UGM, NeumaScope merupakan alat skrining dini pneumonia noninvasif berbasis multimodal yang memadukan akustik paru, laju respirasi, distribusi termal, dan kecerdasan buatan. Ketua timnya, M. Galih Lensrich dari Teknik Fisika, bersama empat mahasiswa lintas disiplin, ingin alat ini bisa dipakai di fasilitas kesehatan primer tanpa bergantung pada rumah sakit besar.
VIVA Jogja menjelaskan bahwa data dari tiga parameter, yaitu suara paru, laju respirasi, dan suhu tubuh, diolah dengan algoritma Random Forest berbasis pembelajaran mesin. Alatnya terhubung ke aplikasi seluler berbasis Flutter lewat Bluetooth Low Energy.
Galih menegaskan NeumaScope bukan pengganti diagnosis dokter. Alat ini dikembangkan sebagai pendukung skrining awal untuk mengenali kondisi yang perlu pemeriksaan lanjutan, dan hasilnya masih bersifat indikatif.
Glicovia, membaca prediabetes dari air liur
Glicovia dikembangkan empat mahasiswa UGM lintas fakultas, yaitu Alya Ramadhani sebagai ketua, Naefi Luthfia Zahra, dan Emmily Martha Renaunia dari Fakultas Kedokteran Gigi, bersama Hendra Kurnia Maliqi dari Fakultas Teknik. Menurut laman FKG UGM, perangkat ini berbasis saliva dan memadukan sensor elektrokimia, kecerdasan buatan, dan Internet of Things.
Tim telah menyelesaikan perancangan sistem, pengembangan sensor, integrasi IoT, serta model kecerdasan buatan Support Vector Machine. Dengan pendanaan PKM-KC 2026, mereka menargetkan Glicovia melaju hingga Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (PIMNAS) dan berkembang menjadi perangkat skrining yang praktis, akurat, dan mudah diakses.
Yang sudah dan yang belum
Kedua alat berada pada tahap prototipe. Dalam sumber yang saya baca, belum ada angka akurasi atau hasil uji klinis yang dilaporkan, dan kata "akurat" pada Glicovia masih berupa target. Itu wajar untuk tahap awal. Tetapi alat kesehatan baru bisa dipercaya setelah diuji pada banyak pasien, dibandingkan dengan pemeriksaan standar, dan lolos regulasi.
Kelebihan yang tampak jelas adalah kerja lintas disiplin. Tim NeumaScope menggabungkan fisika dan teknik, sedangkan Glicovia mempertemukan kedokteran gigi dengan teknik. Persoalan kesehatan ternyata sering baru bisa dijawab ketika dua dunia yang jarang bertemu duduk di meja yang sama.
Mengapa layak diikuti
Pneumonia dan diabetes sama-sama penyakit yang paling tertolong bila terdeteksi lebih awal. Dua tim ini belum menjawab semuanya, tetapi arah yang mereka pilih, yaitu skrining yang sederhana, murah, dan bisa dipakai di layanan primer, adalah arah yang sedang dibutuhkan.
Punya keberatan terhadap pemberitaan ini? Ajukan Hak Jawab