Dosen dan mahasiswa UGM mengembangkan kayu transparan sebagai pengganti kaca jendela. Tim mencatat pendinginan hingga 10,5°C dibanding kaca. Masih di lab.
Dalam ilmu bangunan, jendela sering dianggap titik terlemah. Kaca membiarkan panas matahari masuk, lalu pendingin ruangan bekerja keras untuk membuangnya kembali. Di Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada (UGM), sebuah tim mencoba jalan lain, yaitu membuat jendela dari kayu.
Masalah yang dijawab
Menurut penjelasan Dr. Ir. Nur Abdillah Siddiq dari Departemen Teknik Nuklir dan Fisika, sebagaimana dimuat laman FT UGM, jendela merupakan komponen bangunan yang paling tidak efisien sekaligus jalur utama perpindahan panas. Dari situ ia bersama timnya meneliti kayu transparan sebagai material pendingin pasif untuk bangunan hijau, yaitu bangunan yang menekan kebutuhan pendingin ruangan lewat bahan, bukan lewat mesin.
Bagaimana kayu menjadi tembus pandang
Prosesnya tiga tahap. Pertama, delignifikasi, yaitu menghilangkan lignin yang memberi warna alami pada kayu sehingga kayu memutih. Kedua, impregnasi polimer. Ketiga, pemolesan (polishing). Metode umum ini juga dibahas dalam tinjauan di jurnal Molecules (2025), yang menyebut polimer pengisi dipilih dengan indeks bias yang mendekati matriks kayu agar hasilnya bening.
Tim UGM telah menguji beberapa jenis kayu, yaitu mahoni, maple, jati, mindi, dan balsa, dan kini meneliti kayu endemik Kalimantan. Menurut Nur Abdillah, material ini diuji dari sisi mekanik, akustik, optik, dan termal. Kuat tariknya mencapai 80 MPa, dan keunggulan utamanya ada pada kinerja termal dengan perbedaan pendinginan hingga 10,5°C dibanding kaca konvensional.
Peran mahasiswa di baliknya
Riset ini juga tumbuh lewat skripsi. Di repositori UGM, skripsi Laurentius Kevin Hendinata yang dibimbing Nur Abdillah Siddiq menguji transparansi beberapa jenis kayu. Hasilnya, kayu mahoni mencapai transmitansi 86,03 persen dan maple 81,43 persen, sedangkan kayu sungkai dan mindi dengan metode yang dipakai memberi hasil kurang memuaskan. Skripsi lain, karya Geraldy Eka Putra Hardiwiyanto, mengembangkan kayu transparan termokromik, yaitu kayu yang ditambah pigmen sehingga warnanya berubah mengikuti suhu, sebagai pengganti kaca.
Yang sudah, dan yang belum
Kayu transparan tidak sebening kaca. Skripsi Kevin mencatat bahwa material ini bersifat berkabut (haze) akibat hamburan optik, sehingga cocok untuk cahaya yang lembut, tetapi belum untuk pandangan setajam kaca. Perbandingan 10,5°C dan kuat tarik 80 MPa juga berasal dari pengujian tim sendiri, belum dari uji lapangan pada bangunan nyata.
Perjalanan berikutnya adalah keluar dari laboratorium. Pada Senin (28/9/2026), FT UGM menggelar seminar berjudul "Kayu Transparan untuk Bangunan Berkelanjutan: Dari Inovasi Laboratorium Menuju Implementasi Industri", menurut laman FT UGM.
Mengapa layak diikuti
Banyak inovasi material berhenti di jurnal. Yang menarik dari riset ini adalah ia bergerak di dua jalur sekaligus. Dosen mengerjakan pengujian lanjutan, sementara mahasiswa menggarap variasinya lewat skripsi. Jika berhasil melewati tahap industri, jendela dari kayu bisa menjadi cara lain mendinginkan bangunan di negeri yang tak pernah kekurangan panas.
Punya keberatan terhadap pemberitaan ini? Ajukan Hak Jawab