Belakangan ini, sebuah kalimat beredar luas di media sosial, di Reels, TikTok, hingga caption foto pemandangan lautan putih di Arafah. Bunyinya kurang lebih begini:
"Siapa yang akan mempercayaiku, wahai Khadijah?"
Kalimat itu disebut sebagai pertanyaan Rasulullah ﷺ setelah menerima wahyu pertama. Dan ia membuat banyak orang terharu, terutama ketika disandingkan dengan footage jutaan manusia berpakaian ihram yang berdesakan di Tanah Suci. Ada sesuatu yang sangat manusiawi di dalamnya: gambaran seorang nabi yang dalam momen paling besar dalam hidupnya justru diliputi keraguan, bukan keangkuhan.
Tapi perlu diluruskan satu hal, dengan penuh rasa hormat: kalimat itu tidak ditemukan dalam riwayat hadits yang shahih. Tidak ada dalam Shahih Bukhari, Shahih Muslim, maupun kitab sirah yang menjadi rujukan ulama. Ia adalah ungkapan yang lahir dari keharuan generasi zaman sekarang, ekspresi kekaguman yang kemudian beredar seolah-olah kutipan Nabi.
Tapi justru di sinilah yang menarik. Karena perasaan di balik kalimat itu, keraguan, ketakutan, dan pertanyaan tentang siapa yang akan percaya, nyata, dan tercatat shahih dalam sejarah Islam.
Dalam hadits riwayat Aisyah radhiyallahu 'anha yang tersimpan dalam Shahih Bukhari (no. 3), dikisahkan bahwa setelah menerima wahyu pertama di Gua Hira, Rasulullah ﷺ pulang ke rumah dalam keadaan gemetar. Beliau menemui Khadijah dan berkata: "Aku mengkhawatirkan diriku." Bukan sebuah pengumuman kemenangan. Bukan deklarasi kebanggaan. Melainkan kalimat yang sangat manusiawi dari seseorang yang baru saja menanggung beban yang belum pernah dipikul siapa pun sebelumnya.
Khadijah, wanita yang kelak disebut sendiri oleh Rasulullah ﷺ sebagai orang yang "beriman kepadaku ketika semua orang, bahkan anggota keluarga dan sukuku sendiri tidak mempercayaiku" menjawab dengan menenangkan: "Demi Allah, Allah tidak akan menghinakanmu selamanya. Engkau adalah orang yang menyambung silaturahim, membantu orang lain, memuliakan tamu, dan menolong mereka yang tertimpa musibah."
Tidak ada pertanyaan "siapa yang akan mempercayaiku?" dalam riwayat yang shahih. Tapi rasa takut itu ada. Kekhawatiran itu nyata. Dan Khadijah, dengan kecerdasan dan kekuatan hatinya, menjadi orang pertama yang percaya sebelum siapa pun.
Lalu, 14 abad berlalu.
Musim haji 1447 H / 2026 M baru saja dimulai. Berdasarkan data resmi Badan Pusat Statistik Arab Saudi (General Authority for Statistics), total jamaah haji tahun ini mencapai 1.707.301 orang dari 165 negara, naik 2,04 persen dibanding tahun sebelumnya, meski tahun ini pelaksanaannya dibayangi konflik di kawasan Timur Tengah yang sempat mengganggu jalur penerbangan dan melonjakkan biaya perjalanan. Bahwa di tengah semua itu jamaah tetap datang, bahkan lebih banyak dari sebelumnya adalah sesuatu yang sulit dijelaskan hanya dengan logika kerumunan biasa.
Indonesia sendiri memberangkatkan 221.000 jamaah tahun ini, dengan kuota terbesar tetap dipegang Jawa Timur sebanyak 42.409 jamaah. Dan itu pun belum cukup. Daftar tunggu haji di banyak daerah masih mengular hingga puluhan tahun.
Sementara itu, data dari Pew Research Center yang dirilis Mei 2025 mencatat bahwa dari 2010 hingga 2020, Islam adalah agama dengan pertumbuhan paling cepat di antara semua agama besar dunia. Proporsi umat Islam dalam populasi global naik dari 23,9 persen menjadi 25,6 persen, dengan total jumlah yang kini menyentuh sekitar 2 miliar jiwa. Studi itu menganalisis lebih dari 2.700 sumber data dari 201 negara dan wilayah. Dan Pew memproyeksikan tren ini akan terus berlanjut dalam beberapa dekade ke depan.
Dua miliar. Dari satu orang yang pulang ke rumah dalam keadaan gemetar, meminta diselimuti, dan berkata: "Aku mengkhawatirkan diriku."
Itulah kenapa kalimat viral itu meski bukan hadits tetap mengandung kebenaran yang menggerakkan. Bukan karena redaksinya akurat secara historis, tapi karena ia menangkap sesuatu yang esensial: bahwa permulaan agama ini bukan dari kekuatan dan keperkasaan, melainkan dari kerendahan hati seorang manusia yang dipilih Allah, dan dari keberanian seorang perempuan yang pertama kali mempercayainya.
Setiap kali kita melihat foto lautan putih di Arafah, setiap kali kita mendengar suara takbir menggelegar dari Masjidil Haram, ada baiknya kita kembali ke malam di Gua Hira itu. Bukan untuk mereka-reka kalimat yang tidak tercatat, tapi untuk merasakan berat amanah yang pada mulanya hanya dipikul oleh dua orang: satu lelaki yang gemetar, dan satu perempuan yang percaya.
Dan dari dua orang itu, lahirlah 1,7 juta manusia yang tahun ini saja rela menempuh ribuan kilometer menembus gangguan penerbangan, biaya yang melonjak, dan panas 45 derajat di Mina demi berdiri di tanah yang sama, menjawab seruan yang sama.
Labbaikallahumma labbaik.








