Ada jenis lelah yang lahir bukan karena kita kekurangan, tetapi karena terlalu sering membandingkan.
Kita membuka media sosial, lalu melihat orang lain liburan, membeli rumah, memakai mobil baru, makan di tempat mahal, menikah dengan pesta indah, punya pasangan tampak sempurna, karier naik, bisnis berkembang, wajah bersih, tubuh ideal, hidup seperti tidak pernah gagal.
Padahal, yang kita lihat sering kali hanya potongan terbaik dari hidup seseorang. Namun potongan itu cukup untuk membuat hati gelisah.
Mengapa hidup saya begini-begini saja?
Mengapa teman saya sudah punya ini, sementara saya belum?
Mengapa rezeki orang lain seperti lancar, sementara saya terus berjuang?
Di titik inilah Islam menawarkan satu konsep yang terasa semakin penting di era flexing: qana’ah.
NU Online menjelaskan qana’ah sebagai sikap merasa cukup atas pemberian Allah, disertai syukur dan kemampuan menahan diri dari kerakusan. Qana’ah dipahami sebagai jalan untuk mengendalikan diri di tengah gemerlap dunia yang semakin menggoda.
Qana’ah bukan berarti berhenti berusaha. Bukan pula alasan untuk malas, miskin cita-cita, atau menolak kemajuan. Qana’ah adalah kemampuan menjaga hati agar tidak diperbudak oleh apa yang dimiliki orang lain.
Dulu, seseorang mungkin iri ketika melihat tetangga membeli motor baru atau saudara membangun rumah. Hari ini, perbandingan itu terjadi setiap menit.
Media sosial membuat kehidupan orang lain hadir terus-menerus di layar kita. Bukan hanya tetangga atau saudara, tetapi selebritas, influencer, teman lama, rekan kerja, bahkan orang asing yang tidak kita kenal.
DataReportal dalam Digital 2026: Indonesia mencatat Indonesia memiliki ekosistem digital yang sangat besar, dengan ratusan juta penduduk terhubung internet dan media sosial menjadi bagian penting dari perilaku online masyarakat. Laporan itu juga memuat data pengguna berbagai platform sosial besar di Indonesia, termasuk TikTok, Instagram, YouTube, dan Facebook.
Artinya, ruang perbandingan sosial semakin luas. Kita tidak lagi membandingkan hidup dengan lingkar kecil, tetapi dengan jutaan orang yang sedang memamerkan versi terbaik dari hidup mereka.
Masalahnya, media sosial tidak menampilkan kehidupan secara utuh. Ia menampilkan kurasi. Orang jarang mengunggah cicilan, konflik rumah tangga, rasa takut, gagal bayar, burnout, utang, kesepian, atau luka batin. Yang tampil adalah hasil akhir: senyum, barang baru, tempat indah, pencapaian, dan kesan sukses.
Di sinilah flexing bekerja: ia tidak hanya memamerkan harta, tetapi juga menciptakan standar hidup yang seolah harus dikejar semua orang.
Salah satu bahaya terbesar flexing bukan sekadar membuat orang ingin kaya. Bahayanya adalah membuat nikmat yang sudah dimiliki terasa tidak berarti.
Rumah sederhana terasa kurang karena melihat rumah orang lain lebih besar. Motor yang masih layak terasa memalukan karena melihat orang lain memakai mobil baru. Gaji yang cukup untuk hidup terasa kecil karena melihat teman bisa makan mewah setiap minggu.
Padahal, bisa jadi yang kita miliki sebenarnya sudah cukup. Tetapi karena mata terlalu sering melihat ke atas tanpa bimbingan syukur, hati menjadi gelisah.
NU Online dalam artikel tentang ketenangan di tengah hidup yang serba cepat menempatkan qana’ah sebagai kunci ketenangan hati dan kebahagiaan. Qana’ah membuat seseorang tidak terus-menerus dikejar ambisi dunia yang tidak ada habisnya.
Ini penting. Banyak orang hari ini tidak benar-benar miskin nikmat. Mereka hanya kehilangan kemampuan melihat nikmat yang sudah ada.
Dalam psikologi, membandingkan diri dengan orang lain disebut social comparison. Perbandingan ini tidak selalu buruk. Kadang, melihat keberhasilan orang lain bisa memotivasi. Namun di media sosial, perbandingan sering menjadi tidak sehat karena yang dilihat adalah citra yang sudah dipoles.
Sebuah tinjauan ilmiah di Current Opinion in Psychology menjelaskan bahwa peluang untuk melakukan perbandingan sosial semakin besar melalui teknologi seperti aplikasi mobile dan media sosial. Banyak studi menemukan hubungan negatif antara perbandingan sosial dan kesehatan mental, meski para peneliti juga mengingatkan bahwa hubungan sebab-akibatnya kompleks dan perlu metode yang kuat.
Riset lain di Frontiers in Psychology pada 2025 menemukan bahwa paparan terhadap perbandingan sosial ke atas di media sosial berperan dalam hubungan antara penggunaan media sosial, harga diri, dan gejala depresi. Efeknya disebut signifikan meski tidak sepenuhnya besar, yang berarti faktor lain seperti kondisi pribadi dan konteks sosial tetap berpengaruh.
Dengan bahasa sederhana: sering melihat hidup orang lain yang tampak lebih sukses bisa membuat sebagian orang merasa dirinya tertinggal, kurang berharga, atau gagal.
Di sinilah qana’ah menjadi relevan bukan hanya sebagai nasihat agama, tetapi juga sebagai pagar psikologis. Ia membantu manusia berhenti menjadikan hidup orang lain sebagai ukuran mutlak kebahagiaan diri.
Ada salah paham yang sering muncul: qana’ah dianggap sama dengan pasrah miskin.
Padahal qana’ah bukan anti-kaya. Banyak ulama, saudagar, dan tokoh Muslim dalam sejarah memiliki harta, tetapi tetap qana’ah karena harta tidak menguasai hati mereka.
Qana’ah bukan soal sedikit atau banyaknya uang. Qana’ah adalah posisi hati terhadap rezeki.
Orang miskin bisa tidak qana’ah jika hatinya terus iri, marah, dan merasa Allah tidak adil. Orang kaya juga bisa tidak qana’ah jika hartanya banyak tetapi masih rakus, takut miskin, dan tidak pernah merasa cukup.
Sebaliknya, orang sederhana bisa qana’ah jika ia tetap berusaha, bersyukur, tidak malas, tidak iri, dan tidak membiarkan hidupnya dikendalikan oleh standar orang lain.
NU Online menulis bahwa qana’ah ditunjukkan dengan syukur dan menghindari kerakusan. Ia menjadi cara mengekang diri dalam memburu keinginan karena merasa cukup dengan apa yang telah diperoleh.
Jadi, qana’ah bukan berhenti bergerak. Qana’ah adalah bergerak tanpa kehilangan ketenangan.
Budaya flexing tidak hanya memengaruhi perasaan. Ia juga memengaruhi keputusan finansial.
Orang membeli barang bukan karena benar-benar butuh, tetapi karena ingin terlihat berhasil. Orang memaksakan liburan bukan karena siap secara finansial, tetapi karena ingin punya bahan unggahan. Orang mengejar gaya hidup tertentu bukan karena itu membuatnya tenang, tetapi karena takut dianggap kalah.
Inilah yang membuat flexing berbahaya. Ia mengubah konsumsi menjadi pertunjukan.
Dalam Islam, konsumsi bukan dilarang. Memakai pakaian bagus, makan enak, memiliki rumah nyaman, atau menikmati rezeki tidak otomatis salah. Yang menjadi masalah adalah ketika konsumsi berubah menjadi kesombongan, pemborosan, atau cara merendahkan orang lain.
Qana’ah mengajarkan kita bertanya sebelum membeli:
Apakah saya benar-benar butuh?
Apakah ini sesuai kemampuan?
Apakah saya membeli karena manfaat atau karena ingin dilihat?
Apakah ini mendekatkan saya pada syukur atau justru pada pamer?
Pertanyaan-pertanyaan seperti ini sangat penting di zaman ketika algoritma terus menampilkan gaya hidup yang membuat manusia merasa kurang.
Qana’ah tidak bisa dipisahkan dari syukur. Orang yang qana’ah bukan berarti tidak punya keinginan. Ia tetap punya cita-cita. Tetapi ia tidak membenci hidupnya hari ini hanya karena belum sampai ke sana.
Syukur membuat seseorang mampu berkata: saya masih punya kekurangan, tetapi saya juga punya nikmat.
Saya belum kaya, tetapi masih bisa makan.
Saya belum punya rumah besar, tetapi masih punya tempat pulang.
Saya belum punya jabatan tinggi, tetapi masih punya pekerjaan.
Saya belum sempurna, tetapi masih diberi kesempatan memperbaiki diri.
Syukur bukan cara menolak realitas sulit. Syukur adalah cara agar realitas sulit tidak membuat hati buta terhadap karunia Allah.
Dalam budaya flexing, manusia terus diajari melihat apa yang belum dimiliki. Dalam qana’ah, manusia dilatih melihat apa yang sudah Allah titipkan.
Salah satu kemerdekaan terbesar manusia adalah tidak lagi hidup untuk membuktikan sesuatu kepada orang lain.
Tidak semua pencapaian harus diposting. Tidak semua rezeki harus dipamerkan. Tidak semua kebahagiaan harus divalidasi komentar. Tidak semua hidup harus terlihat sukses di mata orang.
Qana’ah membuat seseorang lebih tenang karena ukuran hidupnya tidak sepenuhnya ditentukan oleh dunia luar.
Ia tetap bekerja, tetap belajar, tetap mencari rezeki, tetap memperbaiki nasib. Tetapi ia tidak menghukum dirinya hanya karena perjalanan orang lain terlihat lebih cepat.
Setiap orang punya takdir, ujian, rezeki, dan waktunya masing-masing. Yang terlihat cepat belum tentu berkah. Yang terlihat lambat belum tentu gagal.
Media sosial sering membuat manusia menilai hidup dengan timbangan yang rapuh: angka like, jumlah pengikut, barang bermerek, tempat liburan, pasangan yang tampak romantis, atau gaya hidup yang terlihat mapan.
Padahal dalam Islam, kemuliaan manusia tidak diukur dari apa yang dipamerkan, tetapi dari takwa, akhlak, amanah, dan manfaat bagi sesama.
Di sinilah umat perlu lebih sadar. Jangan sampai media sosial menggantikan timbangan iman. Jangan sampai hidup yang sederhana tetapi halal terasa hina hanya karena tidak terlihat mewah. Jangan sampai keluarga yang hangat terasa kurang hanya karena tidak seindah unggahan orang lain. Jangan sampai rezeki yang cukup terasa kecil karena mata terlalu sering melihat flexing.
Cara Melatih Qana’ah di Era Flexing
Pertama, kurangi paparan konten yang membuat hati sakit. Jika ada akun yang terus membuat iri, gelisah, atau rendah diri, tidak ada salahnya dibisukan atau tidak diikuti. Menjaga hati juga bagian dari ikhtiar spiritual.
Kedua, biasakan mencatat nikmat kecil. Makan cukup, tubuh sehat, keluarga masih ada, pekerjaan masih berjalan, teman baik, waktu beribadah, dan kesempatan belajar adalah rezeki yang sering kalah oleh ambisi besar.
Ketiga, bedakan inspirasi dan provokasi. Konten orang sukses bisa menjadi inspirasi jika membuat kita lebih giat. Tetapi jika membuat kita membenci hidup sendiri, berarti itu sudah menjadi racun.
Keempat, jangan membeli demi validasi. Jangan sampai keputusan finansial diambil hanya agar terlihat berhasil.
Kelima, perbanyak relasi nyata. Kadang hati gelisah karena terlalu lama tinggal di dunia perbandingan digital. Bertemu keluarga, sahabat, tetangga, guru, atau komunitas bisa mengembalikan manusia pada realitas yang lebih utuh.
Keenam, ingat bahwa semua orang punya ujian. Orang yang terlihat sukses belum tentu bebas luka. Orang yang terlihat bahagia belum tentu tidak menangis. Media sosial bukan kitab kehidupan seseorang.
Di era flexing, merasa cukup adalah bentuk perlawanan.
Perlawanan terhadap budaya pamer.
Perlawanan terhadap algoritma yang membuat kita terus membandingkan.
Perlawanan terhadap rasa kurang yang sengaja dipelihara agar kita terus membeli, mengejar, dan merasa tertinggal.
Qana’ah bukan berarti berhenti bercita-cita. Qana’ah adalah menjaga hati agar cita-cita tidak berubah menjadi kerakusan. Qana’ah bukan menolak kaya. Qana’ah adalah memastikan bahwa ketika kaya pun hati tetap tunduk kepada Allah, bukan kepada pujian manusia.
Pada akhirnya, orang yang paling kaya bukan selalu yang hartanya paling banyak. Orang yang paling merdeka adalah yang hatinya tidak mudah dibuat miskin oleh pameran hidup orang lain.
Di tengah dunia yang terus berkata “lihat mereka sudah punya apa”, qana’ah mengajak kita bertanya lebih dalam: apa saja yang sudah Allah cukupkan untukku hari ini?








