Pamekasan – Kesuksesan sering kali lahir dari tempat yang tak terduga, bukan dari kemewahan apalagi fasilitas yang serba ada. Hal ini dibuktikan langsung oleh Musaffa Safril, Ketua PW GP Ansor Jawa Timur yang juga menjabat sebagai CEO Sarung Batik Tulis SBH. Baru-baru ini, ia membagikan kisah masa lalunya yang penuh keprihatinan sekaligus menggelitik saat menimba ilmu di Pondok Pesantren Darul Lughah Waddirasah Islamiyah, Palengaan.

​Kisah tersebut ia sampaikan melalui sebuah video ucapan selamat menyambut acara Haflah Akhirusanah ke-3 pesantren tersebut. Menariknya, di kalangan alumni angkatan 2000-2003, sosok pemimpin muda ini justru nyaris tidak dikenali dengan nama aslinya, melainkan dengan julukan "Jawalah".

​Julukan itu rupanya menyimpan sejarah lucu. Suatu pagi, pengasuh pesantren, Kiai Haji Ghazali Salim, memintanya memantau seorang santri menggunakan motor kesayangan sang kiai, sebuah Yamaha keluaran tahun 1975.

​"Sebetulnya saya belum bisa mengendarai sepeda motor. Cuma karena saya sungkan untuk menyampaikan itu, ya sudah saya coba saja, siapa tahu bisa. Ternyata benar, ketika jalan berapa meter saya nabrak pagar," kenang Musaffa membongkar insiden tersebut.

​Kejadian jatuhnya Musaffa itu terdengar oleh ustaz dan para santri lainnya, hingga ia harus ditolong oleh santri senior bernama Mas Lukman. Tugasnya pun batal dan digantikan orang lain.

​"Sejak saat itu, saya dapat julukan Jawalah itu. Dan mungkin sampai hari ini, santri-santri nggak ada yang kenal kalau Musaffa itu siapa, apalagi Safril itu siapa, nggak tahu. Teman-teman lebih familiar, lebih paham Jawalah," ungkapnya.

​Bertahan Hidup dengan Sayur Liar

​Di balik kisah lucunya, perjalanan Musaffa di pesantren sejatinya penuh air mata. Ia mengaku sebagai salah satu santri paling miskin pada masa itu. Demi bertahan hidup, ia menjadi orang pertama yang memanfaatkan dapur pondok untuk memasak beras kiriman ibunya. Namun untuk urusan lauk, ia harus memutar otak.

​"Untuk lauk pauknya, saya ngambil di ladang-ladang di dekat pondok. Terutama sayur-sayur yang liar. Biasanya itu yang saya makan," kisahnya.

​Keterbatasan ekonomi keluarganya juga membuatnya paling sering menunggak biaya pendidikan. "SPP mungkin paling jarang bayar itu saya dulu karena nggak mampu," akunya jujur. Beruntung, bendahara pesantren kala itu, Ustadz Hasbul, sangat memaklumi keadaannya sehingga ia nyaris tak pernah ditagih.

Sosok Musaffa Safril, tokoh muda yang semasa nyantri lebih akrab disapa "Jawalah", kini sukses memimpin GP Ansor Jatim sekaligus menjabat sebagai CEO Sarung Batik Tulis SBH.
Sosok Musaffa Safril, tokoh muda yang semasa nyantri lebih akrab disapa "Jawalah", kini sukses memimpin GP Ansor Jatim sekaligus menjabat sebagai CEO Sarung Batik Tulis SBH. — Dok. Pribadi H. Musaffa Safril

​Cita-citanya untuk terbang ke Mesir pun harus dikubur dalam-dalam karena ketiadaan biaya. Namun, atas restu sang kiai, ia merantau ke Surabaya dan berhasil menaklukkan kerasnya kehidupan.

​Kesuksesan Berawal dari Tangisan Kiai

​Bagi Musaffa, kesuksesannya saat ini bukanlah murni karena kehebatan dirinya. Ia selalu memandang Pesantren Darul Lughah sebagai rumah kedua, dan Ustaz Ghazali Salim sebagai sosok orang tua kandung yang membesarkannya dengan doa.

​Ada satu kenangan spiritual yang paling ia yakini menjadi kunci kesuksesan banyak alumni. Setiap Jumat pagi usai kegiatan Khatmil Quran, sang kiai selalu memimpin doa sambil menangis tersedu-sedu untuk seluruh santrinya.

​"Beliau pasti nangis. Bukan nangis yang dibuat-buat, tapi nangis yang betul-betul lahir dari hati mendoakan para santrinya. Baik yang ada di sana maupun yang sudah purna," tegas Musaffa.

​"Dan saya yakin dari doa-doa itu, kalau kemudian ada para alumni yang merasa sukses, berhasil hidupnya, gampang dan diberikan kemudahan jalan hidupnya, barangkali dari doa-doa tulus dan ikhlas beliau itu," tambahnya penuh keyakinan.

​Sebagai bentuk rasa takzimnya, Musaffa kini menitipkan anaknya sendiri untuk menuntut ilmu di pesantren yang sama. Menutup kisahnya, ia menitipkan sebuah pesan penting bagi generasi muda yang sedang berjuang meniti masa depan.

​"Ingat bahwa keberhasilan seseorang tidak hanya ditentukan oleh level kecerdasan, kepintaran, tidak hanya ditentukan oleh seberapa hebat orang tuanya, seberapa mampu secara finansial orang tuanya. Tetapi ada doa-doa ikhlas dari para Kiai di pesantren," pungkasnya.