Ada satu luka sunyi yang jarang dibicarakan secara jujur di banyak keluarga Indonesia: anak yang sudah dewasa, sudah bekerja, mungkin sudah menikah, tetapi hidupnya terus berada di tengah tarikan dua arah.
Di satu sisi, ia harus membantu orang tua. Di sisi lain, ia harus membangun rumah tangganya sendiri. Ia membayar kebutuhan ayah-ibu, membantu adik, menanggung cicilan, membayar sekolah anak, menyiapkan masa depan keluarga, tetapi sering lupa bahwa dirinya juga manusia yang bisa lelah.
Inilah yang hari ini sering disebut sebagai generasi sandwich.
Istilah ini merujuk pada kelompok usia produktif yang terhimpit dua tanggung jawab sekaligus: menopang orang tua dan membiayai anak atau keluarga inti. NU Online menyebut fenomena ini menjadi isu penting di kalangan anak muda Indonesia karena beban finansial dan moral sering membuat mereka berada dalam dilema antara kewajiban kepada orang tua dan hak anak.
Masalahnya, dalam kultur kita, beban itu sering dibungkus dengan satu kalimat sakral: “Namanya juga anak, harus berbakti kepada orang tua.”
Kalimat itu benar. Islam memang memuliakan orang tua. Tetapi persoalannya: apakah berbakti berarti harus menanggung semuanya sampai diri sendiri hancur? Apakah birrul walidain berarti anak tidak boleh punya batas? Apakah anak yang berkata “saya tidak sanggup” otomatis durhaka?
Di sinilah kita perlu membicarakan generasi sandwich secara lebih dewasa: bukan hanya dari sisi finansial, tetapi juga dari sisi agama, psikologi, relasi keluarga, dan keadilan antargenerasi.
Pakar tafsir Prof M Quraish Shihab, dalam ulasan NU Online, menjelaskan bahwa kata berbakti kepada orang tua dalam Al-Qur’an memakai istilah wabil walidaini, yang maknanya bukan sekadar “kepada orang tua”, tetapi “dengan orang tua”. Makna ini menekankan kedekatan, kebersamaan, dan relasi emosional antara anak dan orang tua.
Penekanan ini penting. Berbakti bukan hubungan satu arah, seolah anak hanya wajib memberi dan orang tua hanya berhak menerima. Ada unsur bersama, saling memahami, dan saling menjaga.
Prof Quraish juga menegaskan bahwa berbakti tidak boleh disalahartikan sebagai kepatuhan buta yang merugikan hak anak. NU Online mengutip penjelasannya bahwa anak punya hak, apalagi jika anak sudah memiliki kewajiban terhadap anak-anak dan keluarganya sendiri.
Pernyataan ini sangat relevan bagi generasi sandwich. Banyak anak merasa berdosa hanya karena tidak mampu memenuhi semua permintaan keluarga. Mereka takut disebut tidak tahu diri, durhaka, pelit, atau lupa asal-usul. Padahal, dalam Islam, kewajiban moral tidak boleh dipahami dengan cara yang menghancurkan keadilan.
Seorang anak boleh berbakti. Bahkan harus. Tetapi anak juga punya hak untuk menjaga rumah tangganya, kesehatannya, masa depan anak-anaknya, dan kewarasannya.
Sering kali generasi sandwich diberi nasihat yang terlalu sederhana: “Sabar saja, nanti rezeki datang.” Atau, “Kalau berbakti kepada orang tua, pasti hidup berkah.”
Nasihat seperti itu tidak salah, tetapi bisa menjadi tidak adil jika dipakai untuk menutup masalah struktural.
Generasi sandwich bukan sekadar orang yang kurang sabar. Mereka sering berada dalam kondisi finansial yang memang berat. Survei Diverse Asia 2024 yang dikutip Manulife Investment Management menyebut 94 persen responden Indonesia harus mengesampingkan kebutuhan dan keinginan diri sendiri karena mengutamakan kebutuhan orang tua yang telah memasuki usia pensiun. Survei itu dilakukan terhadap 4.000 orang di enam wilayah Asia, termasuk Indonesia.
Data lain menunjukkan beban ini tidak kecil. GoodStats, merujuk data Susenas BPS yang diolah Kompas, mencatat 4,55 juta penduduk milenial dan Gen Z Indonesia harus menunjang perekonomian lansia dalam keluarganya. Dari jumlah itu, 3,93 juta berada pada kelas ekonomi bawah dan menengah, dan 1,7 juta di antaranya telah memiliki anak.
Artinya, banyak orang muda bukan hanya sedang “membantu orang tua”. Mereka sedang menjadi penyangga ekonomi keluarga besar, sambil tetap harus membangun hidupnya sendiri.
Lebih berat lagi, kondisi finansial anak muda Indonesia juga belum ideal. OCBC Financial Fitness Index 2024 mencatat skor kesehatan finansial Indonesia berada di angka 41,25 dan disebut masih jauh dari kata ideal; riset ini dilakukan pada Juni–Juli 2024 dengan 1.241 responden usia 25–35 tahun di lima kota besar.
Maka ketika generasi sandwich mengeluh, itu bukan berarti mereka tidak ikhlas. Bisa jadi mereka memang sedang kehabisan napas.
Dalam tradisi keluarga Indonesia, anak sering ditempatkan sebagai “jaminan hari tua”. Sejak kecil, anak dididik untuk sukses agar kelak bisa membalas jasa orang tua. Secara moral, keinginan membantu orang tua adalah mulia. Tetapi jika seluruh sistem pensiun keluarga ditumpukan kepada anak, maka yang terjadi bukan lagi sekadar bakti, melainkan pewarisan beban.
Prof Quraish Shihab dalam NU Online membedakan antara tuntutan hukum dan tuntutan moral. Secara hukum, anak wajib membantu orang tua jika orang tua benar-benar membutuhkan dan anak memiliki kelebihan harta. Namun, solusi utamanya adalah komunikasi dua arah yang setara, layaknya persahabatan.
Kata kuncinya adalah kelebihan harta dan komunikasi.
Ini berarti anak tidak seharusnya dipaksa memberi di luar kemampuan. Jika anak harus berutang, mengorbankan pendidikan anaknya sendiri, menunda kebutuhan dasar keluarganya, atau mengabaikan kesehatan mentalnya, maka keluarga perlu duduk bersama dan berbicara jujur.
Islam tidak mengajarkan anak menjadi mesin ATM keluarga.
Islam mengajarkan ihsan, adab, kasih sayang, dan tanggung jawab. Tetapi tanggung jawab itu harus diletakkan dalam kemampuan nyata manusia. Bahkan dalam banyak prinsip syariat, beban kewajiban selalu terkait kemampuan.
Salah satu beban psikologis terbesar generasi sandwich adalah rasa bersalah. Mereka merasa gagal jika tidak bisa memberi. Merasa durhaka jika menolak. Merasa egois jika ingin menabung untuk diri sendiri. Merasa tidak tahu diri jika ingin istirahat.
Padahal, jujur tentang beban bukan dosa.
NU Online mengutip Prof Quraish yang menyatakan bahwa anak yang mengeluh kepada ayahnya justru menunjukkan kedekatan dengan ayahnya. Ia juga mendorong adanya persahabatan antara orang tua dan anak, transparansi ekonomi, serta empati dari kedua pihak agar beban generasi sandwich tidak menjadi penjara, tetapi gotong royong keluarga yang diridhai agama.
Ini pesan yang penting sekali.
Mengeluh bukan berarti membenci orang tua. Mengatakan “saya lelah” bukan berarti tidak sayang. Menyampaikan “saya belum mampu” bukan berarti durhaka. Justru keluarga yang sehat adalah keluarga yang bisa membicarakan beban tanpa saling mengancam dengan rasa bersalah.
Dalam banyak kasus, anak tidak butuh orang tua berhenti membutuhkan bantuan. Anak hanya butuh orang tua memahami bahwa bantuan itu ada batasnya.
Birrul walidain sering dibaca sebagai kewajiban anak kepada orang tua. Namun, dalam praktik keluarga modern, birrul walidain perlu bertemu dengan konsep keadilan keluarga.
Keadilan keluarga berarti orang tua dihormati, tetapi pasangan dan anak juga tidak diabaikan. Orang tua dibantu, tetapi masa depan keluarga inti tidak dihancurkan. Keluarga besar dirawat, tetapi anak tidak dipaksa menjadi satu-satunya penanggung beban.
Banyak konflik rumah tangga muncul karena pasangan merasa seluruh pendapatan keluarga habis untuk keluarga asal salah satu pihak. Banyak anak tumbuh dalam tekanan karena orang tuanya harus terus-menerus menanggung beban generasi sebelumnya. Banyak orang muda menunda menikah, menunda punya rumah, bahkan menunda memiliki anak karena merasa sudah “punya tanggungan” sebelum membangun keluarga sendiri.
Di sini, generasi sandwich bukan hanya isu personal. Ia adalah isu sosial.
Ia berkaitan dengan lemahnya literasi keuangan keluarga, minimnya persiapan pensiun, mahalnya biaya hidup, budaya malu membicarakan uang, dan anggapan bahwa anak yang baik adalah anak yang selalu mengiyakan.
Ini bagian yang harus dibicarakan dengan hati-hati.
Agama seharusnya menjadi rahmat. Tetapi dalam sebagian keluarga, dalil tentang bakti kepada orang tua kadang dipakai untuk menekan anak. Anak ditakut-takuti dengan durhaka, neraka, atau hilangnya berkah jika tidak memenuhi permintaan tertentu.
Padahal, nasihat agama tidak boleh dipakai untuk memeras rasa bersalah.
Jika orang tua benar-benar membutuhkan, anak memang harus membantu sesuai kemampuan. Tetapi jika permintaan sudah masuk wilayah gaya hidup, gengsi keluarga, pembiayaan saudara yang tidak mau mandiri, atau tuntutan yang membuat anak kehilangan hak dasarnya, maka perlu ada batas.
Batas bukan durhaka. Batas adalah cara menjaga agar bakti tidak berubah menjadi luka.
Batas juga bukan berarti memutus hubungan. Batas bisa berupa menentukan nominal bantuan bulanan, membagi tanggung jawab dengan saudara lain, membuat prioritas kebutuhan, membuka laporan keuangan keluarga, atau menyepakati bahwa bantuan tertentu tidak bisa diberikan jika harus berutang.
Dalam bahasa sederhana: membantu orang tua adalah ibadah, tetapi mengatur batas agar tidak hancur juga bagian dari amanah.
Generasi sandwich sering dianggap urusan keluarga. Padahal ini juga kegagalan sistem sosial yang lebih besar.
Jika jutaan anak muda harus menanggung lansia tanpa dukungan memadai, berarti ada masalah dalam sistem perlindungan sosial, pensiun, jaminan kesehatan, lapangan kerja, dan literasi keuangan. Jika generasi produktif terus-menerus menjadi bantalan informal bagi keluarga besar, maka kemampuan mereka untuk menabung, membeli rumah, berinvestasi, menikah, memiliki anak, dan naik kelas sosial ikut terhambat.
Fenomena ini dapat menjadi lingkaran antargenerasi. Orang tua tidak punya pensiun, anak menanggung. Karena anak menanggung terlalu berat, ia tidak sempat menyiapkan masa tuanya. Kelak, anaknya lagi yang menanggung. Rantai itu terus berulang.
Manulife Investment Management mencatat bahwa rasio pendapatan pensiun terhadap pendapatan saat ini di Indonesia masih sekitar 10 persen. Artinya, dengan program pensiun yang tersedia, rata-rata masyarakat Indonesia hanya akan menikmati sebagian kecil dari pendapatan bulanannya saat pensiun.
Ini bukan sekadar masalah keluarga yang kurang rapi mengatur uang. Ini masalah kebijakan publik.
Maka, membahas generasi sandwich secara religi harus dilengkapi dengan kesadaran sosial: keluarga perlu adil, tetapi negara juga harus hadir.
Lalu apa yang bisa dilakukan generasi sandwich?
Pertama, bedakan antara kebutuhan dan keinginan. Membiayai obat orang tua berbeda dengan membiayai gaya hidup keluarga besar. Membantu kebutuhan pokok berbeda dengan memenuhi tuntutan sosial yang tidak mendesak.
Kedua, bicarakan uang secara terbuka. Banyak keluarga hancur bukan karena miskin, tetapi karena tidak pernah jujur soal kemampuan. Anak diam karena takut durhaka. Orang tua meminta karena tidak tahu kondisi anak. Saudara lain menghindar karena tidak pernah ada pembagian peran.
Ketiga, buat batas bantuan. Misalnya, bantuan bulanan tetap, dana kesehatan tertentu, atau sistem patungan dengan saudara. Bantuan yang jelas lebih sehat daripada bantuan yang datang terus-menerus tanpa batas.
Keempat, jangan korbankan dana darurat. Anak yang membantu orang tua tetap harus punya cadangan untuk dirinya dan keluarga inti. Jika semua habis hari ini, krisis kecil besok bisa membuat semuanya runtuh.
Kelima, rawat relasi, bukan hanya transaksi. Orang tua tidak selalu hanya butuh uang. Kadang mereka butuh ditemani, didengar, diajak bicara, atau diberi rasa aman. Anak juga butuh didengar bahwa ia tidak sedang baik-baik saja.
Keenam, berhenti merasa semua harus ditanggung sendiri. Jika ada saudara, bicarakan. Jika ada keluarga besar, libatkan. Jika ada bantuan sosial, akses. Jika perlu konseling finansial atau psikologis, jangan malu.
Generasi sandwich sering terlihat kuat karena terbiasa menanggung. Tetapi yang terbiasa menanggung pun bisa retak.
Islam memuliakan orang tua, tetapi Islam juga tidak menghapus hak anak. Birrul walidain adalah jalan kemuliaan, bukan jalan untuk menghancurkan diri. Berbakti adalah ibadah, tetapi ibadah tidak seharusnya mengubah anak menjadi korban diam-diam dari sistem keluarga yang tidak adil.
Orang tua perlu dihormati. Anak perlu disayangi. Pasangan dan anak-anak dalam keluarga inti juga perlu dilindungi. Semua ini tidak harus saling bertabrakan jika keluarga mau berbicara jujur.
Barangkali itulah makna terdalam dari pesan Prof Quraish: berbakti bukan sekadar “kepada” orang tua, tetapi “dengan” orang tua. Ada kebersamaan di sana. Ada komunikasi. Ada empati dua arah.
Generasi sandwich tidak sedang minta dibebaskan dari cinta kepada orang tua. Mereka hanya ingin cinta itu tidak membuat mereka hancur sendirian.








