Studi di Sungai Brantas menemukan mikroplastik di air, insang, dan saluran cerna ikan gambusia. Risikonya bagi manusia belum terjawab.
Kita membayangkan sampah plastik sebagai benda yang kelihatan jelas, seperti botol, kantong kresek, atau sedotan. Tetapi plastik yang lama berada di lingkungan akan terpecah menjadi serpihan yang jauh lebih kecil. Serpihan berukuran kurang dari 5 milimeter disebut mikroplastik.
Dan di salah satu sungai terbesar di Jawa Timur, para peneliti menemukan serpihan itu tidak hanya mengambang di air. Ia sudah berada di dalam tubuh ikan.
Intisari
Studi di Sungai Brantas menemukan mikroplastik di air serta di insang dan saluran cerna ikan gambusia.
Ukuran dan jumlahnya beragam, dengan jenis fragmen, serat, film, dan pelet.
Temuan ini menunjukkan adanya kontaminasi, tetapi belum menjawab seberapa besar risikonya bagi manusia.
Yang ditemukan di air dan di tubuh ikan
Tim peneliti Nanik Retno Buwono, Yenny Risjani, dan Agoes Soegianto mengambil sampel pada Januari sampai Maret 2020. Hasilnya dimuat di jurnal Emerging Contaminants (2021). Mereka mengidentifikasi mikroplastik berdasarkan jenis, ukuran, dan warnanya, dan menemukan empat jenis utama yaitu fragmen, serat, film, dan pelet.
Kelimpahan fragmen tertinggi tercatat 4.066,67 partikel per meter kubik pada sampel air, 1.352,78 partikel per gram pada sampel insang, dan 2.138,89 partikel per gram pada sampel saluran cerna. Angka ini menunjukkan bahwa partikel itu tidak berhenti di perairan, melainkan berpindah ke organ ikan.
Ikan yang diteliti adalah gambusia (Gambusia affinis), ikan kecil yang kerap dipakai untuk memantau kondisi lingkungan perairan.
Bukan sekadar singgah
Satu pertanyaan wajar kemudian muncul. Apakah partikel itu hanya numpang lewat? Sebuah studi lanjutan di jurnal Chemosphere (2022) meneliti gambusia dari Sungai Brantas dan melaporkan bahwa pencemaran mikroplastik memicu respons stres oksidatif pada insang dan saluran cerna ikan. Mikroplastik ditemukan di semua lokasi pengambilan sampel di sungai itu.
Stres oksidatif adalah ketidakseimbangan di tingkat sel yang bisa menjadi penanda bahwa tubuh organisme sedang terbebani.
Satu hal yang perlu diluruskan
Temuan ini tidak otomatis berarti bahwa makan ikan dari sungai mana pun akan membuat manusia sakit. Gambusia adalah ikan kecil penanda lingkungan, dan penelitian di atas mengukur keberadaan dan sebaran mikroplastik, serta respons pada ikannya. Ia tidak mengukur dampak pada kesehatan manusia.
Untuk menjawab risiko bagi manusia, para ilmuwan masih memerlukan data soal dosis paparan, jenis polimer, dan mekanisme biologisnya. Dua pertanyaan ini, yaitu apakah plastik ada di lingkungan dan apakah ia berbahaya bagi manusia, memang berbeda.
Lalu, apa artinya bagi Indonesia?
Dari sisi lingkungan, pesannya cukup jelas. Plastik yang kita lihat sebagai sampah tidak benar-benar hilang. Ia terpecah, terbawa air, dan bisa masuk ke ekosistem sungai yang menjadi sumber air dan kehidupan jutaan orang.
Perjalanannya bisa dimulai dari tempat yang sangat dekat, yaitu dari selokan di depan rumah. Dari sampah di daratan menuju air, menjadi serpihan, lalu masuk ke tubuh makhluk hidup. Yang tadinya sebuah botol kini menjadi ribuan partikel yang jauh lebih sulit kita lihat.
Pertanyaan singkat
Apa itu mikroplastik?
Partikel plastik berukuran kurang dari 5 milimeter, yang dapat berasal dari pecahan sampah plastik yang lebih besar.
Apakah mikroplastik di ikan berbahaya bagi manusia?
Belum ada kesimpulan dari studi Brantas. Penelitian itu menunjukkan adanya kontaminasi pada ikan dan respons stres oksidatif pada ikan, bukan risiko kesehatan manusia.
Catatan: artikel ini bersifat edukatif dan bukan nasihat kesehatan.
Punya keberatan terhadap pemberitaan ini? Ajukan Hak Jawab