Mangrove menyimpan karbon dalam jumlah besar, dan sebagian besarnya justru di lumpur. Simak temuan studi di Subang, Pemalang, dan Riding Panjang.
Dengar kata mangrove, apa yang pertama muncul di kepala? Mungkin abrasi, kepiting, atau pantai berlumpur yang tak terlalu enak dipandang.
Namun ada pekerjaan mangrove yang hampir tidak terlihat dari permukaan, yaitu mengunci karbon. Dan menurut sejumlah penelitian di Indonesia, bagian terbesarnya bukan di batang atau daun, melainkan di lumpur tempat akarnya berdiri.
Intisari
Studi IPB University di pesisir utara Subang (2026) memperkirakan stok karbon mangrove 183,73 ± 97,04 Mg C per hektare dengan bantuan citra satelit.
Dua studi lapangan lain menunjukkan sekitar empat perlima karbon mangrove tersimpan di sedimen.
Besarnya cadangan karbon sangat bervariasi antarlokasi, jadi luas hutan mangrove saja belum cukup menggambarkan.
Satelit menghitung pohonnya
Peneliti IPB, Santoso, memetakan sebaran mangrove di pesisir utara Subang memakai citra satelit Sentinel-2. Hasilnya, dalam studi di Jurnal Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan (2026), stok karbon diperkirakan 183,73 ± 97,04 Mg C per hektare, terdiri atas 130,11 Mg C karbon di atas permukaan dan 53,62 Mg C di bawah permukaan.
Pada luas 2.684 hektare, totalnya sekitar 268.577 Mg C, setara potensi serapan 984.782 Mg CO₂e. Para penulisnya menyebut temuan ini relevan bagi target FOLU Net Sink 2030 Indonesia.
Lalu, karbon di dalam lumpur
Di sinilah kejutannya. Pengukuran langsung di lapangan memperlihatkan bahwa sedimen menyimpan porsi yang sangat besar.
Sebuah studi di Desa Riding Panjang yang terbit di jurnal Universitas Tanjungpura menemukan rata-rata stok karbon 252,38 Mg C per hektare. Rinciannya, 40,63 di biomassa atas permukaan, 13,45 di biomassa bawah permukaan, dan 198,30 di sedimen.
Hasil serupa datang dari studi di Desa Mojo, Pemalang, di jurnal kelautan IPB University. Karbon biomassa berkisar 21,55 sampai 144,22 ton C per hektare, sedangkan karbon sedimen 98,45 sampai 181,06 ton C. Rata-rata totalnya 155,13 ton C per hektare, dengan sedimen sekitar 121,93 ton di antaranya. Para penulisnya juga mencatat bahwa substrat berpasir cenderung mengikat karbon lebih sedikit.
Jadi dari atas kita hanya melihat pohon kecil yang tumbuh di lumpur. Sebagian besar simpanannya ada di bawah, di tanah yang tak terlihat.
Angka ini perlu dibaca hati-hati
Ketiga studi memakai metode dan lokasi yang berbeda. Studi Subang menghitung dengan satelit, sedangkan dua lainnya mengukur plot di lapangan, sehingga angkanya tak bisa dibandingkan begitu saja. Rentang di Pemalang saja, dari 112,43 sampai 247,98 ton C per hektare, menunjukkan bahwa dua titik dalam satu kawasan bisa berbeda dua kali lipat.
Artinya, dua hutan mangrove dengan luas sama belum tentu menyimpan karbon sama banyak. Jenis tumbuhan, kerapatan, dan jenis substratnya ikut menentukan.
Apakah menanam mangrove otomatis menyelesaikan masalah iklim?
Tidak sesederhana itu. Peneliti Subang sendiri mengingatkan bahwa meningkatnya tekanan akibat aktivitas manusia mengancam fungsi mangrove sebagai penyerap karbon. Karbon yang terkunci bertahun-tahun di dalam lumpur hanya bernilai bila ekosistemnya tetap utuh.
Lalu, apa artinya bagi Indonesia?
Ekosistem mangrove sering disebut dalam pembahasan karbon biru (blue carbon), yaitu karbon yang tersimpan di ekosistem pesisir. Bagi Indonesia yang panjang pantainya luar biasa, pertanyaannya bukan hanya berapa hektare mangrove yang ada, tetapi seberapa sehat tanah dan sedimen di bawahnya.
Yang terlihat dari mangrove hanyalah sebagian kecil dari yang sebenarnya ia kerjakan.
Pertanyaan singkat
Apa itu karbon biru?
Karbon yang tersimpan dalam ekosistem pesisir dan laut seperti mangrove, baik dalam biomassa tumbuhan maupun dalam sedimen.
Mengapa sedimen mangrove bisa menyimpan banyak karbon?
Studi di Pemalang mencatat bahwa substrat berlumpur cenderung mengikat lebih banyak karbon daripada substrat berpasir, dan sedimennya menjadi tempat simpanan terbesar dalam studi-studi di atas.
Punya keberatan terhadap pemberitaan ini? Ajukan Hak Jawab