Runtut.com

Mojokerto Dolanan dan Anak Muda yang Butuh Ruang Pulang

Mojokerto Dolanan bukan sekadar kegiatan bermain permainan tradisional, tetapi ruang sosial bagi anak muda yang butuh teman, cerita, dan identitas.

3 menit baca
18
Mojokerto Dolanan dan Anak Muda yang Butuh Ruang Pulang
Kegiatan Mojokerto Dolanan menjadi bagian dari upaya mengaktifkan kembali ruang publik lokal melalui permainan, komunitas, dan UMKM. — Foto: Dok. Panitia

Ada hal menarik dari Mojokerto Dolanan. Ia tidak lahir semata-mata dari keinginan membuat event. Ia lahir dari keresahan.

Putri, penanggung jawab acara Mojokerto Dolanan, menyebut kegiatan ini dibentuk karena melihat anak muda yang hopeless, tidak punya tujuan, tidak punya semangat, dan tidak punya teman bercerita. Kalimat itu penting, karena membuka cara pandang baru terhadap permainan tradisional. Dolanan bukan sekadar nostalgia, tetapi bisa menjadi ruang pulang.

Di zaman ketika hampir semua orang terhubung lewat gawai, banyak anak muda justru merasa sendirian. Mereka punya media sosial, tetapi tidak selalu punya tempat bercerita. Mereka punya hiburan digital, tetapi tidak selalu punya ruang untuk merasa diterima. Mereka punya banyak koneksi, tetapi belum tentu punya teman yang benar-benar hadir.

Mojokerto Dolanan mencoba mengisi ruang kosong itu dengan cara yang sederhana: mengajak orang bermain.

Permainan tradisional memiliki kekuatan yang sering diremehkan. Ia membuat orang bertemu, tertawa, bergerak, berdebat kecil, bekerja sama, dan menerima kekalahan tanpa harus merasa gagal. Di sana ada latihan sosial yang tidak bisa sepenuhnya digantikan oleh layar.

Putri menyebut permainan tradisional hari ini berada dalam kondisi krisis. Anak-anak makin jarang bermain kelereng, gobak sodor, engklek, lompat tali, atau permainan lama lainnya. Lebih jauh, ia melihat ada jati diri yang hilang ketika anak-anak tidak lagi mengenal dolanan tradisional.

“Yang hilang ketika anak-anak tidak lagi mengenal permainan tradisional adalah jati diri,” katanya.

Pernyataan itu bisa dibaca lebih luas. Jati diri bukan hanya tentang tahu nama permainan lama. Jati diri juga soal kemampuan hidup bersama: berani menyapa, berani kalah, berani tertawa, berani mencoba, dan berani menjadi bagian dari komunitas.

Sebagai praktisi teknologi yang menaruh perhatian pada isu publik, transformasi digital, dan perubahan sosial, saya melihat Mojokerto Dolanan sebagai contoh kecil tetapi penting. Di tengah kota yang bergerak makin digital, komunitas lokal justru menawarkan keseimbangan. Mereka tidak menolak teknologi. Mereka memakai media sosial untuk promosi, menggandeng kreator untuk dokumentasi, dan membuka informasi lewat platform digital.

Namun tujuan akhirnya tetap membawa orang keluar dari layar dan kembali bertemu secara langsung.

Mojokerto Dolanan juga menunjukkan bahwa ruang publik tidak harus selalu dibangun dari proyek besar. Kadang, ruang publik hidup karena ada komunitas yang mau datang, bermain, menghidupkan pasar yang sepi, melibatkan UMKM, dan mengajak warga sekitar ikut bergerak.

Pemilihan Pasar Ketidur menjadi contoh menarik. Awalnya lokasi itu dipilih karena ada anggota komunitas yang memiliki stan UMKM di sana. Namun setelah melihat tempatnya luas, strategis, dan masih sepi, panitia melihat peluang untuk menghidupkannya lewat kegiatan komunitas.

Di sini, dolanan bertemu dengan aktivasi ruang kota. Permainan anak bertemu dengan UMKM. Nostalgia bertemu dengan ekonomi lokal. Komunitas bertemu dengan agenda membangun kota.

Mojokerto Dolanan mungkin terlihat sederhana: orang berkumpul dan bermain. Tetapi justru kesederhanaan itu yang hari ini terasa penting. Karena di tengah dunia yang terlalu cepat, terlalu digital, dan terlalu individual, manusia tetap butuh ruang untuk bertemu.

Anak-anak butuh bermain. Orang tua butuh bernostalgia. Anak muda butuh teman. Kota butuh ruang hidup. Dan budaya butuh dirawat, bukan hanya dibicarakan.

Punya keberatan terhadap pemberitaan ini? Ajukan Hak Jawab

Komentar

Email tidak akan dipublikasikan. Komentar dimoderasi sebelum tampil.

Memuat komentar...

Artikel Terkait

Lihat semua
In This Economy, Bisnis Narkoba Jadi Paling Tahan Krisis: Bagaimana Bisa?
Perspektif

In This Economy, Bisnis Narkoba Jadi Paling Tahan Krisis: Bagaimana Bisa?

Jika menyoal bisnis mana yang paling tahan akan krisis di tengah kondisi serba tidak pasti sekarang, bisnis narkoba mungkin jadi salah satunya. Kok bisa?

Andini Putri Lestari· 15 jam lalu
Memahami Hukum Tata Negara untuk Menjadi Smart & Good Citizen di Era Digital
Perspektif

Memahami Hukum Tata Negara untuk Menjadi Smart & Good Citizen di Era Digital

Memahami Hukum Tata Negara membantu masyarakat memilah informasi, memahami kewenangan pemerintah, serta menyampaikan kritik secara cerdas dan bertanggung jawab.

Neza Kusuma Ningrum· 22 jam lalu
Jakarta Bukan untuk Semua Orang: Arena Pembuktian Bagi Mereka yang Menolak Menyerah
Perspektif

Jakarta Bukan untuk Semua Orang: Arena Pembuktian Bagi Mereka yang Menolak Menyerah

Mengapa Jakarta bukan untuk semua orang? Temukan realitas keras seleksi alam ibu kota dan alasan mengapa hanya mereka yang bermental baja yang bisa bertahan.

Ferdian Trikusuma· 3 hari lalu
Metode Public Speaking: Memilih Cara Bicara yang Tepat agar Presentasi Lebih Efektif
Perspektif

Metode Public Speaking: Memilih Cara Bicara yang Tepat agar Presentasi Lebih Efektif

Public speaking membutuhkan metode yang tepat. Kenali memoriter, using note, impromptu, dan manuscript agar presentasi lebih efektif dan percaya diri.

Ros Mawati· 5 hari lalu
Cara Berkomunikasi dengan Konsumen Menentukan Kepercayaan terhadap Bisnis
Perspektif

Cara Berkomunikasi dengan Konsumen Menentukan Kepercayaan terhadap Bisnis

Konsumen kini menilai bisnis dari kualitas produk hingga pengalaman pelayanan. Komunikasi yang cepat, empatik, dan solutif membangun kepercayaan.

Wardah Hafizhah· 1 minggu lalu
Mengupas Pelik Reforma Agraria
Perspektif

Mengupas Pelik Reforma Agraria

Reforma agraria bukan sekadar bagi-bagi sertifikat. Ini soal siapa menguasai tanah, siapa mengendalikan produksi, dan siapa menentukan arah negara.

Mila Nabilah· 1 minggu lalu