Metode Public Speaking: Memilih Cara Bicara yang Tepat agar Presentasi Lebih Efektif
Pernah merasa sudah menguasai materi presentasi, tetapi begitu berdiri di depan kelas justru lupa harus mulai dari mana? Atau malah sibuk mengingat setiap kalimat sampai tidak sempat melihat audiens?
Situasi seperti ini cukup sering dialami mahasiswa. Public speaking bukan hanya tentang berani berbicara di depan banyak orang. Cara menyampaikan materi juga perlu diperhatikan. Salah satu hal yang dapat membantu adalah memilih metode public speaking yang sesuai dengan situasi dan kemampuan pembicara.
Mengenal Empat Metode Public Speaking
Ada beberapa cara yang dapat digunakan untuk menyampaikan gagasan di depan audiens. Masing-masing memiliki karakteristik yang berbeda.
Pertama, memoriter, yaitu metode dengan menghafalkan keseluruhan teks atau naskah sebelum tampil. Cara ini dapat membantu pembicara yang ingin menguasai alur penyampaian secara detail. Namun, pembicara perlu berhati-hati agar tidak terlalu bergantung pada hafalan.
Kedua, using note. Dalam metode ini, pembicara hanya menyiapkan kisi-kisi atau garis besar materi sebagai panduan. Poin-poin tersebut kemudian dikembangkan saat berbicara. Jadi, pembicara tidak perlu menghafalkan seluruh naskah.
Ketiga, impromptu, yaitu berbicara secara spontan tanpa naskah atau persiapan yang panjang. Metode ini membutuhkan kemampuan untuk menyusun gagasan dengan cepat dan menyampaikannya secara jelas.
Keempat, reading manuscript, yaitu membaca naskah secara penuh ketika menyampaikan materi. Metode ini biasanya dapat digunakan dalam situasi yang lebih formal ketika ketepatan isi atau susunan kalimat perlu dijaga.
Dengan memahami perbedaan tersebut, pembicara dapat mempertimbangkan metode yang paling sesuai dengan kebutuhan presentasinya.
Mengapa Using Note Bisa Membantu Presentasi?
Bagi mahasiswa yang sering melakukan presentasi, using note bisa menjadi salah satu pilihan yang praktis. Pembicara cukup menyiapkan catatan berisi kata kunci, urutan pembahasan, atau poin penting yang tidak boleh terlewat.
Misalnya, seorang mahasiswa akan mempresentasikan materi selama 10 menit. Daripada membawa naskah panjang, ia dapat membuat catatan sederhana seperti “pengertian – penyebab – contoh – solusi – kesimpulan”. Dari poin tersebut, penjelasan dapat dikembangkan menggunakan bahasa sendiri.
Cara seperti ini membuat pembicara tidak harus terus membaca kertas atau menghafalkan setiap kalimat. Catatan juga dapat membantu pembicara tetap melihat audiens dan menyesuaikan penyampaian berdasarkan respons mereka.







