In This Economy, Bisnis Narkoba Jadi Paling Tahan Krisis: Bagaimana Bisa?
Jika menyoal bisnis mana yang paling tahan akan krisis di tengah kondisi serba tidak pasti sekarang, bisnis narkoba mungkin jadi salah satunya. Kok bisa?
RUNTUT.COM - Jika menyoal bisnis mana yang paling tahan akan krisis di tengah kondisi serba tidak pasti sekarang, bisnis narkoba mungkin jadi salah satunya. Pertanyaan, bagaimana bisa?
Laporan United Nations Office on Drugs and Crime (UNODC)2026 menunjukkan bagaimana narkoba terus berevolusi dalam menghadapi perubahan dunia. “Kita melihat lonjakan yang belum pernah terlihat sebelumnya, seperti dalam jenis narkoba baru yang beredar, dan khawatir ini lebih berbahaya dari sebelumnya,” kata Monica Juma, Direktur Eksekutif UNODC dalam pernyataan resmi.
Pada tahun 2024, UNODC menemukan 755 zat psikoaktif baru (NPS), dan 118 di antaranya dilaporkan untuk pertama kalinya. Artinya, produsen narkoba terus memproduksi jenis obat terlarang sintetis baru agar tidak ketahuan dan menghindari peraturan. Hal ini dilakukan untuk memenuhi permintaan obat tersebut.
Tren penggunaan narkoba secara global menunjukkan kecenderungan peningkatan. Selama periode 2014–2024, penggunaan obat jenis kanabis meningkat 40%, setara 256 juta pengguna, opioid meningkat 10%, setara 63 juta jiwa pada 2024, disusul ekstasi sebanyak 21 juta pengguna, kokain 25 juta, amfetamin 32 juta.
Kelihaian lain dari cara bisnis ini beradaptasi dapat dilihat dalam kasus berikut. Tahun 2024, setelah Perang Saudara di Suriah berakhir, suplai captagon nyaris ikut terhenti. Otoritas setempat melaporkan telah membongkar 16 laboratorium berskala industri dan 15 fasilitas penyimpanan yang lebih kecil, namun operator captagon tidak berhenti memutar otak. Ia mengubah bentuk captagon menjadi cair untuk dipasarkan di daerah perbatasan Suriah dan Lebanon. Meskipun cara ini dilaporkan tidak berhasil, kasus ini menunjukkan bahwa dalam kondisi apa pun, aktor dalam rantai narkoba akan terus memutar otak untuk berdagang.
Kejahatan Sebagai Mekanisme Penyesuaian Diri
Hal ini selaras dengan pemikiran Ucko & Marks (2023), kejahatan terorganisasi merupakan produk dari sejarah, kondisi sosial, sistem ekonomi, elite politik, dan rezim penegak hukum suatu negara. Perlu dipertanyakan mengapa kontrak sosial dan kesepakatan politik yang ada di suatu negara justru membuat kelompok kriminal bertahan? Ia menyuguhkan dua pilihan: kejahatan tersebut merupakan mekanisme penyesuaian diri atau bentuk eksploitasi.
Jika kita menelaah lebih dalam, negara yang terlibat dengan narkoba rata-rata adalah negara dengan persaingan kelas sosial-ekonomi-politik yang intens. Grafik berikut menunjukkan kuantitas penyitaan metamfetamin selama 2023–2024. Data ini dapat diartikan dalam dua kemungkinan: angka penyitaan yang tinggi bisa berarti upaya pemberantasan narkoba oleh pihak berwenang setempat juga tinggi atau justru menggambarkan kondisi suplai metamfetamin yang beredar.
Thailand menjadi negara dengan penyitaan metamfetamin tertinggi di dunia, disusul Amerika Serikat, Meksiko, Myanmar, dan Iran. Dalam kasus Thailand, negara ini masuk dalam kawasan Golden Triangle bersama dengan Myanmar dan Laos yang dikenal sebagai tempat produksi dan budi daya narkoba. Thailand menjadi tempat transit utama perdagangan metamfetamin yang berasal dari Myanmar.
“Krisis yang terjadi di Myanmar menaikkan kebutuhan terhadap hasil perdagangan narkoba,” ujar Benedikt Hofmann, Wakil Perwakilan Regional UNODC Asia Tenggara & Pasifik dalam pernyataan resmi.
Shadow Economy
Tentunya pemerintah setempat tidak akan tinggal diam. Upaya yang dilakukan untuk membasmi narkoba dikenal sebagai War on Drugs (WoD). Kebijakan WoD yang dikenal paling mematikan dan agresif adalah WoD era Duterte di Filipina. Meskipun demikian, setelah pengerahan kekuatan militer dan kapasitas institusional yang besar, dan memakan ribuan jiwa, jaringan narkoba tidak pernah benar-benar padam. Mereka hanya berubah bentuk.
Hal ini tidak lepas dari keterlibatan masyarakat di akar rumput yang merasakan shadow economy bisnis tersebut. Studi Lara Jr. dan de la Rosa (2020) yang dilakukan pada masyarakat Filipina menunjukkan bahwa unit keluarga dan marga adalah pendorong di balik ekonomi informal dan gelap ini. Orang Filipina cenderung mempertimbangkan risiko-risiko kehilangan kekuasaan dan peluang apabila menolak terlibat dalam jaringan bisnis narkoba di sana.
Meskipun susah sekali dihancurkan seperti noda membandel, bukan berarti membiarkan bisnis jaringan narkoba adalah solusi. Jika negara tidak turun tangan dengan mempertimbangkan kondisi sosial-ekonomi masyarakat akar rumput yang terlibat dalam jaringan narkoba, maka organisasi kriminal tersebut akan terus memperluas pengaruhnya. Hal ini akan sangat berbahaya, mengingat sifat dari organisasi kriminal: bertindak secara kolektif, menggunakan kekerasan, dan bersifat sangat merusak bagi tatanan masyarakat.