RUNTUT.COM - Malam puncak Hari Lahir (Harlah) ke-27 Pengurus Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PC PMII) Mojokerto diisi dengan diskusi reflektif bersama Sabrang Mowo Damar Panuluh atau yang dikenal sebagai Mas Sabrang.

Melalui sesi bertajuk “Sinau Bareng Mas Sabrang”, peserta diajak membahas makna tradisi, pola berpikir kritis, serta peran pemuda dalam menghadapi persoalan sosial.

Kegiatan tersebut berlangsung pada Senin (28/9/2026) di Halaman Pujasera Desa Medali, Mojokerto. Diskusi mengangkat tema besar “Merawat Tradisi untuk Negeri” dengan pendekatan dialogis yang menggabungkan perspektif filsafat sosial, kebudayaan, dan logika berpikir.

Dalam forum tersebut, vokalis band Letto itu membahas pentingnya memahami tradisi bukan sekadar sebagai bentuk atau simbol yang diwariskan secara turun-temurun. Menurutnya, tradisi memiliki nilai dasar yang menjadi inti dari keberadaannya sehingga perlu dipahami sesuai konteks perkembangan zaman.

Tradisi, dalam pembahasan tersebut, dipandang sebagai bagian dari proses adaptasi sosial dan budaya. Perubahan zaman tidak selalu harus dimaknai sebagai ancaman terhadap tradisi, melainkan menjadi ruang untuk mengkaji kembali nilai yang terkandung di dalamnya agar tetap relevan dengan kebutuhan masyarakat.

Selain membahas tradisi, diskusi juga menyoroti posisi pemuda dan mahasiswa dalam kehidupan berbangsa. Mas Sabrang mengajak kader PMII untuk mengembangkan kemampuan berpikir kritis, terutama dalam memahami berbagai informasi dan persoalan yang berkembang di masyarakat.

Menurut putra Emha Ainun Nadjib itu, kemampuan mengolah informasi menjadi bagian penting bagi mahasiswa pergerakan. Proses memahami suatu masalah perlu dilakukan melalui analisis yang jernih agar seseorang mampu melihat persoalan secara lebih utuh sebelum menentukan sikap.

Sesi “Sinau Bareng” berlangsung secara interaktif melalui dialog antara Mas Sabrang dan para peserta. Sejumlah kader PMII dan masyarakat sekitar diberikan ruang untuk menyampaikan pertanyaan, pandangan, serta pengalaman terkait berbagai isu yang berkaitan dengan kehidupan pemuda.

Sejumlah topik yang dibahas dalam diskusi mencakup pencarian identitas generasi muda, persoalan sosial kemasyarakatan, dinamika kehidupan berbangsa, hingga hubungan antara ilmu pengetahuan dan nilai keagamaan dalam kehidupan sehari-hari.

Diskusi bersama Mas Sabrang juga memberikan kesempatan bagi peserta untuk melihat tradisi dari sudut pandang yang lebih luas. Bahwa tradisi tidak hanya dipahami sebagai warisan masa lalu, tetapi sebagai nilai yang dapat menjadi bahan pembelajaran dalam menghadapi tantangan sosial di masa kini.