Malang - Di tengah gempuran menjamurnya kedai kopi komersial yang berorientasi pada gaya hidup konsumtif, Komunitas Kalimetro yang berlokasi di Kelurahan Merjosari, Kota Malang, konsisten hadir menawarkan oase intelektual. Menyatukan konsep warung kopi dan perpustakaan mandiri, Kalimetro sukses menjadi ruang publik kultural bagi mahasiswa lintas kampus dan masyarakat akar rumput untuk berdiskusi serta membangun nalar kritis di era modernisasi.

Berdasarkan analisis situasi di lapangan, kelompok mahasiswa dari Universitas Negeri Malang (UM) yang terdiri dari Anflorystareva Cleadenataciea, Choirunisa Tri Wulandari, dan Kevin Mahrus Ali menjadikan lokasi ini sebagai fokus Studi Masyarakat Indonesia (SMI). Kajian komprehensif ini menyoroti lima pilar program observasi utama, mulai dari reproduksi ekosistem kebudayaan literasi, bertahannya dinamika paguyuban di lanskap urban, dekonstruksi stratifikasi sosial, peran komunitas sebagai agen civil society, hingga edukasi literasi media sebagai budaya tanding (counter-culture).

Program studi lapangan ini merupakan upaya nyata untuk memahami bagaimana masyarakat merespons digitalisasi yang sering kali membuat laju informasi menjadi dangkal. Selama masa observasi, tim mendapati bahwa reproduksi kebudayaan di Kalimetro terjadi secara sirkular dan organik. Aktivitas membaca dipadukan dengan forum-forum kritis seperti bedah berita dan Tadarus Islam Progresif, yang mendidik pengunjung agar tidak sekadar menelan informasi secara pasif.

Representasi pengelola Kalimetro, Kak Amin, menuturkan bahwa keunikan tata kelola menjadi daya tarik utama komunitas ini dalam bertahan. “Di sini tidak ada sistem keanggotaan resmi atau birokrasi yang kaku. Siapa pun yang datang kami anggap dan rangkul sebagai rekan komunitas. Pendekatan yang sepenuhnya egaliter tanpa sekat kelas ini justru membuat ruang-ruang diskusi kami tidak pernah sepi dan selalu dipenuhi antusiasme,” ujarnya.

Kegiatan Diskusi
Kegiatan Diskusi — Dok Pribadi

Program observasi ini juga memberikan pandangan baru bagi dunia akademis. Ketua kelompok peneliti, Kevin Mahrus Ali, menyampaikan, “Kalimetro bagaikan laboratorium hidup. Mereka membuktikan bahwa nilai gotong royong dan solidaritas khas perdesaan masih sangat relevan dihidupkan di kawasan perkotaan yang individualis. Melalui ruang inklusif ini, hierarki sosial berhasil dibongkar menjadi interaksi yang setara, menjadikan tempat ini sebagai sarana advokasi dan edukasi sosial yang nyata bagi pemuda.” Ungkap mahasiswa program studi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan tersebut.

Melalui laporan hasil studi ini, diharapkan model ruang publik alternatif seperti Kalimetro dapat menjadi rujukan inspiratif bagi elemen masyarakat lainnya. Ke depannya, keberadaan ruang-ruang diskusi mandiri yang memfasilitasi gerakan literasi tanpa sekat kelas sosial ini perlu terus didukung guna mencetak generasi yang berdaya secara literasi dan peka terhadap realitas sosial di sekitarnya.