Runtut.com

Pasca Hari Laut Sedunia, Pengelolaan Pesisir, Ekonomi Biru, dan Konservasi Laut Jadi Agenda Prioritas Indonesia

Pasca Hari Laut Sedunia 2026, Indonesia memperkuat ekonomi biru, konservasi laut, pengelolaan pesisir, dan pengurangan sampah laut berkelanjutan.

4 menit baca
5
Hari Laut Sedunia
Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) ajak berbagai elemen kelola laut peringati Hari Laut Sedunia di Badung, Bali, Minggu (7/6/2026). — Antara

Bali - Pemerintah Indonesia menegaskan bahwa pengelolaan kawasan pesisir, penguatan ekonomi biru, konservasi laut, dan pengurangan sampah laut tetap menjadi agenda strategis nasional setelah peringatan Hari Laut Sedunia (World Ocean Day) 2026. Komitmen tersebut diperkuat melalui berbagai forum nasional maupun internasional, termasuk peringatan Hari Laut Sedunia di Bali pada awal Juni dan partisipasi Indonesia dalam Our Ocean Conference (OOC) ke-11 di Mombasa, Kenya, pada pertengahan Juni.

Peringatan Hari Laut Sedunia yang berlangsung di Peninsula Island, Nusa Dua, Bali, pada 7 Juni, menjadi momentum bagi Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) untuk mengajak pemerintah daerah, pelaku usaha, organisasi masyarakat sipil, akademisi, dan masyarakat pesisir memperkuat kolaborasi dalam menjaga keberlanjutan laut. Pemerintah menilai luasnya wilayah laut Indonesia tidak memungkinkan pengelolaannya dilakukan hanya oleh negara, sehingga diperlukan keterlibatan seluruh pemangku kepentingan dalam mewujudkan tata kelola laut yang berkelanjutan.

Direktur Jenderal Pengelolaan Kelautan KKP, A. Koswara, menegaskan bahwa kolaborasi merupakan kunci keberhasilan pengelolaan laut.

"Ini gambaran dari wujud kolaborasi terhadap tanggung jawab mengelola laut secara baik karena pemerintah tidak bisa sendiri mengelola laut yang begitu luas, perlu keterlibatan semua pihak."

Menurutnya, peringatan Hari Laut Sedunia bukan sekadar seremoni, melainkan momentum memperkuat komitmen bersama dalam menjalankan kebijakan ekonomi biru yang berorientasi pada keberlanjutan ekosistem sekaligus kesejahteraan masyarakat pesisir.

Konsep ekonomi biru menjadi salah satu fokus utama pemerintah. Kebijakan ini menekankan pemanfaatan sumber daya laut secara berkelanjutan tanpa mengorbankan fungsi ekologisnya. Selain menjaga ekosistem pesisir, ekonomi biru juga diharapkan mampu meningkatkan pendapatan nelayan, masyarakat adat pesisir, dan pelaku usaha kelautan melalui pengelolaan yang lebih bertanggung jawab.

Direktur Konservasi Ekosistem KKP, Firdaus Agung, mengatakan bahwa konservasi merupakan fondasi utama dalam implementasi ekonomi biru.

"Konservasi adalah tanggung jawab bersama pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan masyarakat. Dalam konteks ekonomi biru, masyarakat bukan sekadar pihak yang dilibatkan, tetapi pelaku utama sekaligus penerima manfaat dari upaya konservasi."

Ia menjelaskan bahwa penguatan konservasi di tingkat tapak dilakukan agar manfaat perlindungan ekosistem dapat dirasakan langsung oleh masyarakat pesisir melalui peningkatan ekonomi lokal sekaligus perlindungan keanekaragaman hayati laut.

Komitmen tersebut juga dibawa Indonesia ke panggung internasional. Dalam Our Ocean Conference (OOC) ke-11 di Mombasa, Kenya, Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono menyampaikan empat komitmen baru pemerintah, yaitu memperkuat tata kelola ruang laut, memperluas kawasan konservasi, meningkatkan efektivitas pengelolaan kawasan konservasi, dan mengembangkan solusi berbasis alam melalui karbon biru sebagai bagian dari mitigasi perubahan iklim. Komitmen tersebut membuka peluang pendanaan internasional hingga 260 juta dolar Amerika Serikat untuk mendukung konservasi ekosistem laut Indonesia.

Menteri Trenggono mengatakan:

"Empat komitmen yang kami sampaikan hari ini menegaskan langkah konkret Indonesia dalam memperkuat pengelolaan ruang laut, memperluas dan meningkatkan efektivitas kawasan konservasi, serta mengembangkan solusi berbasis alam seperti karbon biru untuk mitigasi perubahan iklim."

Menurutnya, penguatan tata kelola laut merupakan bagian penting dari upaya Indonesia menjaga ketahanan pangan, meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir, sekaligus memenuhi komitmen global dalam menghadapi perubahan iklim.

Selain konservasi, pemerintah juga menempatkan pengurangan sampah laut sebagai prioritas. Sampah plastik masih menjadi ancaman serius bagi ekosistem laut Indonesia karena merusak habitat pesisir, mengganggu kehidupan biota laut, dan menurunkan hasil tangkapan nelayan. KKP melalui program Laut Sehat Bebas Sampah (Laut Sebasah) menargetkan penurunan volume sampah laut sebesar 50 persen pada 2029 melalui pendekatan dari hulu hingga hilir, mulai dari daerah aliran sungai, kawasan pesisir, pelabuhan, hingga aktivitas pelayaran.

Data KKP menunjukkan bahwa keberadaan sampah plastik di laut dapat menurunkan hasil tangkapan ikan hingga 30 persen, sementara sekitar 30–40 persen alat tangkap nelayan mengalami kerusakan akibat tersangkut sampah laut. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa pencemaran laut bukan hanya persoalan lingkungan, tetapi juga berdampak langsung terhadap ekonomi masyarakat pesisir.

Di sisi lain, Kementerian Lingkungan Hidup juga menegaskan bahwa perlindungan laut tidak dapat dipisahkan dari pengelolaan kawasan pesisir. Pemerintah mendorong pemulihan ekosistem pesisir, pengendalian pencemaran, serta penguatan kolaborasi lintas sektor agar perlindungan laut tidak berhenti di garis pantai, melainkan mencakup seluruh bentang ekosistem dari daratan hingga lautan.

Rangkaian kebijakan tersebut menunjukkan bahwa pasca Hari Laut Sedunia 2026, Indonesia berupaya memperkuat pendekatan terpadu dalam pengelolaan wilayah pesisir dan laut. Melalui pengembangan ekonomi biru, perluasan kawasan konservasi, pengurangan sampah laut, serta penguatan kerja sama nasional dan internasional, pemerintah berharap perlindungan ekosistem laut dapat berjalan seiring dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat yang menggantungkan hidupnya pada sumber daya pesisir dan kelautan.

Punya keberatan terhadap pemberitaan ini? Ajukan Hak Jawab

Komentar

Email tidak akan dipublikasikan. Komentar dimoderasi sebelum tampil.

Memuat komentar...

Artikel Terkait

Lihat semua
Studi Ungkap Kepiting Tapal Kuda Ternyata Berkerabat Dekat dengan Laba-Laba
Iklim & Lingkungan

Studi Ungkap Kepiting Tapal Kuda Ternyata Berkerabat Dekat dengan Laba-Laba

Riset terbaru mengungkap kepiting tapal kuda memiliki hubungan evolusi dengan laba-laba dan kalajengking melalui analisis data genetika.

Rachmaddani Rizki Saputra· 1 minggu lalu
BMKG Ungkap 10 Wilayah Terpanas di Indonesia, Suhu Tertinggi Capai 37,8 Derajat Celsius
Iklim & Lingkungan

BMKG Ungkap 10 Wilayah Terpanas di Indonesia, Suhu Tertinggi Capai 37,8 Derajat Celsius

Periode kering dan penguatan El Nino turut memengaruhi kondisi suhu udara di sejumlah daerah Indonesia pada awal September 2026.

Rachmaddani Rizki Saputra· 10 September 2026
Karhutla Kalimantan Jadi Alarm, Ilmuwan Bagus Muljadi Desak Kebijakan Lingkungan Berbasis Data dan Riset
Iklim & Lingkungan

Karhutla Kalimantan Jadi Alarm, Ilmuwan Bagus Muljadi Desak Kebijakan Lingkungan Berbasis Data dan Riset

Karhutla Kalimantan kembali terjadi. Ilmuwan Bagus Muljadi dorong pemerintah menjadikan riset sebagai dasar kebijakan mitigasi bencana.

Rachmaddani Rizki Saputra· 21 Agustus 2026
 Merayakan HUT RI ke-81: Usai Karnaval Hari Kemerdekaan Monas Dipenuhi Sampah
Iklim & Lingkungan

Merayakan HUT RI ke-81: Usai Karnaval Hari Kemerdekaan Monas Dipenuhi Sampah

Kemeriahan HUT RI ke-81 di Monas menyisakan sampah dan menjadi bahan refleksi bagi masyarakat Indonesia tentang pentingnya menjaga kebersihan di ruang publik.

Betriani · 18 Agustus 2026
​Sisi Gelap di Balik Lemari Kita: Tren Kilat Fast Fashion
Iklim & Lingkungan

​Sisi Gelap di Balik Lemari Kita: Tren Kilat Fast Fashion

Menguak sisi gelap industri fast fashion. Telusuri bagaimana rantai pasok serat viskose dan rayon memicu deforestasi serta konflik lahan di Indonesia.

Mila Nabilah· 13 Juli 2026
Gender Just Climate Solutions Awards 2026 Dibuka, Soroti Kepemimpinan Perempuan dalam Aksi Iklim
Iklim & Lingkungan

Gender Just Climate Solutions Awards 2026 Dibuka, Soroti Kepemimpinan Perempuan dalam Aksi Iklim

Gender Just Climate Solutions Awards 2026 dibuka untuk menghargai inisiatif yang menggabungkan aksi iklim, kesetaraan gender, dan kepemimpinan perempuan.

Mila Nabilah· 1 Juli 2026