Gelombang panas ekstrem terus melanda sebagian besar wilayah Eropa dan Amerika Utara hingga awal Juli 2026. Suhu yang menembus 40 derajat Celsius di sejumlah negara memicu krisis kesehatan masyarakat, kebakaran hutan, gangguan transportasi, lonjakan konsumsi listrik, hingga tekanan terhadap sistem energi. Para ilmuwan menyatakan bahwa peristiwa cuaca ekstrem tersebut hampir mustahil terjadi tanpa pengaruh perubahan iklim akibat aktivitas manusia.
Gelombang panas mulai berkembang sekitar 20 Juni dan kemudian menyebar dari Eropa Barat menuju Eropa Tengah, Timur, hingga kawasan Balkan. Prancis, Inggris, Jerman, Italia, Spanyol, Belanda, Belgia, Swiss, Austria, Hungaria, Rumania, Serbia, dan Polandia menjadi negara-negara yang mengalami suhu jauh di atas rata-rata musim panas. Di sejumlah wilayah, temperatur mencapai lebih dari 40 derajat Celsius, sementara suhu malam tetap berada di atas 20 derajat Celsius sehingga tubuh manusia tidak memperoleh waktu yang cukup untuk memulihkan diri dari paparan panas sepanjang hari.
Di Amerika Utara, kondisi serupa terjadi di wilayah timur Amerika Serikat dan sebagian Kanada. Meningkatnya penggunaan pendingin ruangan menyebabkan konsumsi listrik melonjak tajam. Departemen Energi Amerika Serikat bahkan mengeluarkan status darurat untuk wilayah jaringan listrik PJM Interconnection, jaringan listrik terbesar di negara tersebut, setelah operator memperingatkan adanya risiko kekurangan pasokan listrik akibat tingginya permintaan selama gelombang panas.
Dampak gelombang panas tidak hanya dirasakan oleh sektor energi. Rumah sakit di berbagai kota Eropa melaporkan peningkatan pasien akibat sengatan panas, dehidrasi, dan gangguan pernapasan. Sekolah-sekolah ditutup, berbagai kegiatan publik dibatalkan, jalur kereta mengalami gangguan akibat rel yang melengkung karena panas, sementara beberapa ruas jalan di Jerman dilaporkan retak dan meleleh. Pemerintah di sejumlah negara juga mengeluarkan peringatan kesehatan serta membatasi aktivitas luar ruangan bagi kelompok rentan seperti lansia, anak-anak, dan pekerja lapangan.
Di Prancis, otoritas kesehatan mencatat lonjakan kematian yang dikaitkan dengan suhu ekstrem. Sejumlah laporan menyebutkan lebih dari seribu kematian berlebih (excess deaths) terjadi selama gelombang panas berlangsung, sementara sebagian besar korban merupakan warga lanjut usia. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) juga memperingatkan bahwa panas ekstrem kini menjadi salah satu ancaman kesehatan paling mematikan di Eropa.
Selain korban jiwa, gelombang panas meningkatkan risiko kebakaran hutan di kawasan Mediterania dan Balkan. Otoritas di Kroasia, Italia, Yunani, dan negara-negara Balkan mengerahkan pemadam kebakaran untuk mengendalikan titik api yang bermunculan di tengah kondisi vegetasi yang semakin kering. Sementara itu, negara-negara Eropa Timur menghadapi tantangan tambahan karena banyak bangunan dan infrastruktur yang tidak dirancang untuk menghadapi suhu setinggi itu.
Para ilmuwan menilai fenomena ini dipicu oleh pola atmosfer yang dikenal sebagai Omega Block, yakni sistem tekanan tinggi yang terperangkap di atas Eropa selama berhari-hari sehingga udara panas terus menumpuk tanpa adanya hujan atau angin yang mampu menurunkan suhu. Namun, mereka menegaskan bahwa pola cuaca tersebut bukanlah satu-satunya penyebab. Pemanasan global akibat emisi gas rumah kaca telah membuat gelombang panas seperti ini menjadi jauh lebih mungkin terjadi dan jauh lebih intens dibandingkan beberapa dekade lalu.







