Salah satu perdebatan yang muncul dari fenomena live streaming seperti Marapthon Reza Arap adalah soal momen yang dipersepsikan menampilkan kondisi mabuk atau konsumsi alkohol.
Bagi sebagian penonton, hal itu dianggap biasa. Mereka melihatnya sebagai hiburan orang dewasa, bagian dari suasana nongkrong, atau spontanitas yang membuat live terasa lebih nyata. Namun bagi sebagian yang lain, konten seperti itu menimbulkan kekhawatiran karena bisa ditonton ulang, dipotong menjadi klip, lalu menyebar ke audiens yang lebih muda.
Pertanyaannya: kenapa konten seperti itu sering terasa menghibur?
Secara psikologis, perilaku yang tidak biasa, spontan, dan sulit diprediksi memang mudah menarik perhatian. Orang yang sedang kehilangan kontrol, berbicara tanpa filter, atau melakukan hal absurd sering dianggap lucu karena keluar dari norma sehari-hari. Di ruang digital, momen semacam ini cepat berubah menjadi bahan klip, meme, dan obrolan publik.
Namun masalahnya, sesuatu yang lucu belum tentu sehat untuk dinormalisasi.
Konsumsi alkohol dalam konten digital berada di wilayah sensitif. YouTube tidak otomatis melarang semua konten yang memuat alkohol, tetapi platform memiliki aturan tentang regulated goods, dangerous content, dan kelayakan iklan. YouTube menyatakan konten yang dimaksudkan untuk menjual barang atau layanan tertentu yang diatur tidak diperbolehkan, meski ada pengecualian untuk konteks edukatif, dokumenter, ilmiah, atau artistik. YouTube juga menyebut live stream harus mematuhi Community Guidelines.
Dengan kata lain, konten konsumsi alkohol bisa saja tetap tayang, tetapi bukan berarti tanpa risiko sosial.
Risiko pertama adalah normalisasi. Ketika momen mabuk ditampilkan sebagai sesuatu yang lucu, santai, atau keren, sebagian penonton dapat menangkap pesan bahwa perilaku itu wajar untuk ditiru.
Risiko kedua adalah audiens remaja. Live streaming kreator besar tidak selalu hanya ditonton orang dewasa. Potongan konten dapat menyebar lintas platform dan menjangkau penonton yang tidak berada dalam konteks awal.
Risiko ketiga adalah hilangnya batas antara hiburan dan dorongan perilaku. Jika konten hanya memperlihatkan konsumsi alkohol sebagai bagian dari kehidupan orang dewasa, perdebatan mungkin berbeda. Namun jika konten terlihat merayakan mabuk berlebihan, mendorong orang lain ikut minum, atau menjadikan kehilangan kontrol sebagai puncak hiburan, pertanyaannya menjadi lebih serius.
Kasus serupa pernah menjadi perhatian dalam konteks iklan dan media sosial. Di Australia, Ad Standards menilai konten merek fashion White Fox melanggar standar karena dianggap mendorong konsumsi alkohol berlebihan dalam video Coachella yang melibatkan influencer dan berpotensi menjangkau audiens muda. Panel menyoroti normalisasi minum berlebihan, termasuk referensi untuk membuat orang lain mabuk dan konsumsi banyak tequila.
Kasus itu bukan tentang Marapthon, tetapi relevan sebagai pembanding: masyarakat global mulai lebih sensitif terhadap konten digital yang menampilkan alkohol secara glamor, terutama ketika audiensnya muda.
Karena itu, pembicaraan tentang Marapthon tidak perlu jatuh pada penghakiman moral. Orang dewasa memiliki ruang privat dan kebebasan berekspresi. Tetapi ketika ruang itu disiarkan kepada publik, terutama oleh figur besar, maka tanggung jawab sosial ikut melekat.
Konten mabuk mungkin terlihat menghibur. Namun di hadapan jutaan pasang mata, hiburan selalu punya konsekuensi.






