馃幍 Agar terasa lebih meresap, saya menyarankan untuk membaca tulisan ini sembari mendengarkan lantunan piano Eternity dari Jurrivh & Luna Starling 馃幍
Kapan terakhir kali kita benar-benar mendengarkan emosi yang kita rasakan?
Apakah kita sudah cukup memberi ruang bagi setiap perasaan yang muncul, tanpa memaksanya untuk segera hilang?
Apakah selama ini kita telah mencoba berbagai cara, mulai dari membaca buku pengembangan diri (self-help), menonton siniar motivasi (podcast), hingga membaca kutipan-kutipan bijak (quotes)? Namun, meski telah mencoba berbagai cara untuk memahami diri, mengapa kita masih sering merasa terpicu (triggered) oleh situasi tertentu?
Bagaimana jika, selain terus mencari pemahaman baru, kita juga perlu belajar melakukan sesuatu yang benar-benar berbeda dalam menyikapi pikiran, emosi, dan pengalaman yang selama ini kita hadapi?
Pikiran dan perasaan kita datang dan pergi, silih berganti. Mencoba menolaknya tidak akan membuatnya hilang鈥攎alah membuat kita makin terikat padanya.
"Bagaimana jika yang sebenarnya kita butuhkan adalah 'bertemu' langsung dengan pikiran dan perasaan yang intens itu, lalu mengizinkannya menunjukkan seluruh wujudnya secara utuh?
Terdengar menakutkan? Tentu saja, itu sangat wajar. Pada awalnya, proses ini memang terasa menyakitkan. Namun pelan-pelan, kita akan menyadari bagaimana intensitas dan frekuensinya mulai mereda鈥攎eski keberadaannya mungkin tetap ada."
Dari sana, kita akan menerima 'hadiah' dari sebuah proses penerimaan: rasa sakit yang perlahan berdampingan dengan rasa tenteram. Bonusnya, kita jadi bisa lebih memahami diri sendiri.
Izinkan saya berbagi cerita dari pengalaman pribadi baru-baru ini. Saya sempat berada di situasi yang cukup berat bagi saya鈥攎eski mungkin bagi orang lain terasa sederhana鈥攈ingga membuat saya menangis tersedu-sedu.
Setelah memberi ruang bagi semua emosi untuk hadir sepenuhnya, saya menyadari bahwa rasa takut, sedih, dan bersalah, yang sebenarnya mendominasi. Saya juga menyadari, meski kadang yang terlihat di luar adalah kemarahan, tangisan itu memperjelas bahwa itu bukanlah kemarahan yang sesungguhnya.
Dari sinilah saya semakin sadar: sudah saatnya berhenti menghindar, dan mulai belajar untuk benar-benar hadir bersama pikiran serta perasaan, sembari tetap fleksibel.


