Runtut.com

Menghadir bersama Gema dari Dalam Diri

Perasaan adalah gema batin yang minta didengar. Mari belajar duduk bersama emosi dan menemukan ketenteraman di tengah rasa sakit.

3 menit baca
2
Menghadir bersama Gema dari Dalam Diri

馃幍 Agar terasa lebih meresap, saya menyarankan untuk membaca tulisan ini sembari mendengarkan lantunan piano Eternity dari Jurrivh & Luna Starling 馃幍

Kapan terakhir kali kita benar-benar mendengarkan emosi yang kita rasakan?

Apakah kita sudah cukup memberi ruang bagi setiap perasaan yang muncul, tanpa memaksanya untuk segera hilang?

Apakah selama ini kita telah mencoba berbagai cara, mulai dari membaca buku pengembangan diri (self-help), menonton siniar motivasi (podcast), hingga membaca kutipan-kutipan bijak (quotes)? Namun, meski telah mencoba berbagai cara untuk memahami diri, mengapa kita masih sering merasa terpicu (triggered) oleh situasi tertentu?

Bagaimana jika, selain terus mencari pemahaman baru, kita juga perlu belajar melakukan sesuatu yang benar-benar berbeda dalam menyikapi pikiran, emosi, dan pengalaman yang selama ini kita hadapi?

Pikiran dan perasaan kita datang dan pergi, silih berganti. Mencoba menolaknya tidak akan membuatnya hilang鈥攎alah membuat kita makin terikat padanya.

"Bagaimana jika yang sebenarnya kita butuhkan adalah 'bertemu' langsung dengan pikiran dan perasaan yang intens itu, lalu mengizinkannya menunjukkan seluruh wujudnya secara utuh?

Terdengar menakutkan? Tentu saja, itu sangat wajar. Pada awalnya, proses ini memang terasa menyakitkan. Namun pelan-pelan, kita akan menyadari bagaimana intensitas dan frekuensinya mulai mereda鈥攎eski keberadaannya mungkin tetap ada."

Dari sana, kita akan menerima 'hadiah' dari sebuah proses penerimaan: rasa sakit yang perlahan berdampingan dengan rasa tenteram. Bonusnya, kita jadi bisa lebih memahami diri sendiri.

Izinkan saya berbagi cerita dari pengalaman pribadi baru-baru ini. Saya sempat berada di situasi yang cukup berat bagi saya鈥攎eski mungkin bagi orang lain terasa sederhana鈥攈ingga membuat saya menangis tersedu-sedu.

Setelah memberi ruang bagi semua emosi untuk hadir sepenuhnya, saya menyadari bahwa rasa takut, sedih, dan bersalah, yang sebenarnya mendominasi. Saya juga menyadari, meski kadang yang terlihat di luar adalah kemarahan, tangisan itu memperjelas bahwa itu bukanlah kemarahan yang sesungguhnya.

Dari sinilah saya semakin sadar: sudah saatnya berhenti menghindar, dan mulai belajar untuk benar-benar hadir bersama pikiran serta perasaan, sembari tetap fleksibel.

Jujur saja, proses menghadirkan dan mengamati pengalaman batin secara utuh bukanlah hal yang mudah. Ada resistensi kuat di dalam diri yang berusaha menahan kita untuk mengambil langkah yang bermanfaat.

Kita punya dua pilihan: menyerah pada perlawanan itu dan tetap berlindung di zona nyaman, atau berani menantang diri sendiri untuk melakukan hal yang semula terasa mustahil.

Menantang diri berarti kita mengizinkan diri merasakan ketidaknyamanan, mendengarkan pikiran serta perasaan yang tak menyenangkan, namun tetap melangkah maju. Dengan begitu, kita membuktikan bahwa kita sanggup melakukan apa yang tadinya dianggap tidak mungkin oleh pikiran kita sendiri. Inilah sebuah terobosan鈥攕ebuah cara baru yang belum pernah kita lakukan sebelumnya dalam memahami diri.

Jadi, di balik emosi yang terpicu, barangkali ada pesan terselip bahwa selama ini kita belum benar-benar mendengarkannya. Daripada terus menghindar, mungkin yang kita butuhkan adalah belajar hadir utuh (menghadir) bersama perasaan kita.

Duduk bersamanya. Dan meski kerap kali terasa berat, mari memperlakukannya seperti setangkai bunga mawar: digenggam dengan penuh kehati-hatian, sembari mengagumi setiap detail wujudnya. Atau, seperti sedang duduk berdua bersama seorang teman kecil di bawah langit malam yang berbintang.

Bagaimanapun, perasaan adalah gema dari sudut di dalam diri yang mungkin sudah terlalu lama jarang kita kunjungi.

Selamat berproses!

N.B.

Jika Anda tertarik untuk mengenali pendekatan ini lebih dalam鈥攁tau jika penjelasan dalam tulisan ini terasa terlalu abstrak鈥攕aya sangat menyarankan untuk berkonsultasi dengan profesional.


Inspired by Acceptance and Commitment Therapy

| Menghadir & Berterima

Regards,
Andrea Han

Punya keberatan terhadap pemberitaan ini? Ajukan Hak Jawab

Komentar

Email tidak akan dipublikasikan. Komentar dimoderasi sebelum tampil.

Memuat komentar...