Hari Kesehatan Mental Sedunia diperingati pada tanggal 10 Oktober, dengan tema yang berbeda-beda tiap tahunnya. Tahun ini, tema yang diusung oleh WHO (World Health Organization) yaitu 'Lived experiences heard: real voices, real change', yang intinya pengalaman hidup orang yang pernah mengalami gangguan mental sebaiknya didengarkan dan mereka dilibatkan sebagai penggerak aksi nyata kesehatan mental. Selama ini, kita sering mendengarkan pengalaman hidup penyintas dengan menghadirkan mereka sebagai pembicara di suatu seminar atau bentuk kegiatan lainnya, namun sangat jarang kita libatkan dalam upaya mengembangkan inovasi atau dalam pembuatan keputusan terkait layanan kesehatan mental. Dalam hal ini, harapannya suara mereka tidak hanya sekadar didengarkan, lebih dari itu mereka diberi kesempatan untuk ikut merancang layanan, memengaruhi keputusan, memperkuat dukungan sesama penyintas, melawan stigma, dan mengawasi kebijakan (World Health Organization, 2026).

Wawasan yang kita peroleh dari pengalaman hidup dapat menjadi sumber inovasi bagi layanan kesehatan mental, salah satunya dalam bidang psikoterapi. Sebut saja, Marsha M. Linehan pencetus terapi perilaku dialektis (Dialectical Behaviour Therapy) yang merupakan penyintas gangguan kepribadian ambang dan pernah dirawat di rumah sakit jiwa. Psikoterapi yang dikembangkannya terbukti efektif untuk perilaku bunuh diri dan gangguan kepribadian yang melibatkan disregulasi emosi. Tokoh lainnya, kita mengenal Steven Hayes pencetus terapi penerimaan dan komitmen (Acceptance and Commitment Therapy), yang pernah mengalami gangguan panik. Ketika dilanda serangan panik yang hebat, Steve menemukan pencerahan mengenai kekuatan penerimaan yang ampuh dibanding teknik-teknik pendekatan psikoterapi lainnya yang ia ketahui. Baik DBT ataupun ACT, menitikberatkan pada penerimaan dan di samping itu, pendekatan ini memiliki ciri khas yang lebih manusiawi.

Sebagaimana kutipan dari Elisabeth Kübler-Ross yang mengatakan bahwa orang yang berjiwa besar dan tangguh bukanlah orang yang hidupnya mudah, justru mereka yang pernah mengalami kehancuran (kegagalan, penderitaan, kehilangan), dan berhasil keluar dari kehancuran itu. Karena pernah berada di titik yang rapuh, mereka paham bagaimana rasanya di situasi yang sulit, sehingga pendekatan yang mereka lakukan diwarnai oleh kualitas kebijaksanaan, welas asih, ketulusan, dan empati — yang hanya bisa dirasakan dan sulit dijelaskan oleh kata-kata.

Setiap orang memiliki kerentanan dan kita tidak perlu berpura-pura kuat. Bagaimana jadinya jika kita mengakui sisi kerentanan yang ada pada diri kita, mempelajarinya dengan rasa ingin tahu dan welas asih, lalu mengembangkan wawasan untuk membantu orang lain. Kita semua bisa mengambil peran dalam upaya mengembangkan kesehatan mental — dimulai dari diri sendiri untuk negeri tercinta. Dengan menghindari stigma, misalnya.

Selamat memperingati Hari Kesehatan Mental Sedunia Tahun 2026. Pengalaman hidup yang didengarkan: suara nyata, perubahan nyata.

Regards,
Andrea Han

| Menghadir dan Berterima

Referensi:

World Health Organization. (2026). World Mental Health Day 2026: Lived experiences heard: real voices, real change. https://www.who.int/campaigns/world-mental-health-day/2026