Runtut.com

TPA Randegan dan Ancaman Pencemaran: Ketika Sampah Kota Menekan Ruang Hidup Warga

TPA Randegan Mojokerto disorot karena beban sampah harian, open dumping, air lindi, dan potensi pencemaran lingkungan di sekitar permukiman warga.

2 menit baca
25
TPA Randegan dan Ancaman Pencemaran: Ketika Sampah Kota Menekan Ruang Hidup Warga
Setiap hari, sampah dari aktivitas warga kota dikumpulkan, diangkut, lalu berakhir di tempat pembuangan akhir. — Foto: Dok. Jawa Pos Radar Mojokerto

TPA Randegan di Kota Mojokerto memperlihatkan satu masalah besar yang sering luput dari perhatian publik: sampah tidak pernah benar-benar hilang. Ia hanya berpindah tempat.

Setiap hari, sampah dari aktivitas warga kota dikumpulkan, diangkut, lalu berakhir di tempat pembuangan akhir. Bagi sebagian besar masyarakat, urusan sampah dianggap selesai ketika kantong sampah keluar dari rumah. Namun bagi warga sekitar TPA Randegan, persoalan justru dimulai ketika sampah itu tiba di lingkungan mereka.

Anggota Komisi XII DPR RI, Meitri Citra Wardani, menyoroti kondisi TPA Randegan dalam inspeksi mendadak. Ia mendorong revitalisasi menyeluruh dan intervensi cepat untuk menyelamatkan warga dari dampak pencemaran lingkungan yang dinilai semakin mengkhawatirkan.

Salah satu masalah utama yang disorot adalah beban sampah harian. Dalam laporan Reporter.id, Meitri menyebut TPA Randegan dipaksa menerima sekitar 70 hingga 90 ton sampah per hari. Ia juga menilai sistem open dumping yang masih berjalan telah memicu pencemaran air lindi dan merusak kualitas air tanah warga sekitar TPA.

Air lindi adalah cairan yang muncul dari tumpukan sampah. Cairan ini dapat membawa zat organik, logam, bakteri, dan senyawa pencemar lain. Jika tidak dikelola dengan baik, air lindi bisa meresap ke tanah, mencemari sumber air, dan mengganggu kualitas lingkungan di sekitar TPA.

Dalam konteks TPA Randegan, isu air lindi menjadi serius karena lokasi TPA berada dekat dengan lingkungan warga. Ketika bau, rembesan, dan pencemaran masuk ke ruang hidup masyarakat, persoalan sampah berubah menjadi persoalan keadilan ekologis.

Sebelumnya, TPA Randegan pernah dipromosikan sebagai lokasi yang tidak hanya menampung sampah, tetapi juga mengolah pupuk, menjadi tempat edukasi, dan memanfaatkan sampah menjadi gas. Bahkan pada 2024, ada laporan bahwa pengelolaan TPA Randegan diarahkan pada penerapan control landfill, saluran air lindi, dan pemanfaatan gas metana.

Namun, keluhan warga dan sorotan DPR menunjukkan bahwa klaim inovasi harus diuji dengan kenyataan di lapangan. Apakah bau berkurang? Apakah air lindi tertangani? Apakah warga merasa aman? Apakah sumber air terlindungi? Apakah kapasitas TPA masih memadai?

Masalah TPA Randegan juga diperparah oleh dugaan masuknya sampah dari luar wilayah administrasi Kota Mojokerto. Dalam laporan Fraksi PKS, Meitri menyoroti tingginya volume sampah kiriman dari Kabupaten Mojokerto yang ikut memperberat kondisi TPA Randegan.

Jika benar terjadi, maka persoalan ini tidak bisa hanya ditangani oleh Pemerintah Kota Mojokerto. Perlu ada koordinasi lintas daerah, pembatasan volume, kejelasan tanggung jawab, dan pengawasan terhadap asal sampah.

Penyelesaian Randegan tidak cukup dengan memperluas lahan atau menambah armada. Kota perlu bergerak ke hulu: mengurangi sampah dari rumah tangga, memperkuat bank sampah, memilah sampah organik dan anorganik, mengolah sampah sejak sumbernya, serta membatasi ketergantungan pada TPA.

Karena jika semua sampah terus dilempar ke Randegan, maka TPA itu hanya menunggu waktu menjadi krisis lingkungan yang lebih besar.

Punya keberatan terhadap pemberitaan ini? Ajukan Hak Jawab

Komentar

Email tidak akan dipublikasikan. Komentar dimoderasi sebelum tampil.

Memuat komentar...

Artikel Terkait

Lihat semua
Studi Ungkap Kepiting Tapal Kuda Ternyata Berkerabat Dekat dengan Laba-Laba
Iklim & Lingkungan

Studi Ungkap Kepiting Tapal Kuda Ternyata Berkerabat Dekat dengan Laba-Laba

Riset terbaru mengungkap kepiting tapal kuda memiliki hubungan evolusi dengan laba-laba dan kalajengking melalui analisis data genetika.

Rachmaddani Rizki Saputra· 2 minggu lalu
BMKG Ungkap 10 Wilayah Terpanas di Indonesia, Suhu Tertinggi Capai 37,8 Derajat Celsius
Iklim & Lingkungan

BMKG Ungkap 10 Wilayah Terpanas di Indonesia, Suhu Tertinggi Capai 37,8 Derajat Celsius

Periode kering dan penguatan El Nino turut memengaruhi kondisi suhu udara di sejumlah daerah Indonesia pada awal September 2026.

Rachmaddani Rizki Saputra· 10 September 2026
Karhutla Kalimantan Jadi Alarm, Ilmuwan Bagus Muljadi Desak Kebijakan Lingkungan Berbasis Data dan Riset
Iklim & Lingkungan

Karhutla Kalimantan Jadi Alarm, Ilmuwan Bagus Muljadi Desak Kebijakan Lingkungan Berbasis Data dan Riset

Karhutla Kalimantan kembali terjadi. Ilmuwan Bagus Muljadi dorong pemerintah menjadikan riset sebagai dasar kebijakan mitigasi bencana.

Rachmaddani Rizki Saputra· 21 Agustus 2026
 Merayakan HUT RI ke-81: Usai Karnaval Hari Kemerdekaan Monas Dipenuhi Sampah
Iklim & Lingkungan

Merayakan HUT RI ke-81: Usai Karnaval Hari Kemerdekaan Monas Dipenuhi Sampah

Kemeriahan HUT RI ke-81 di Monas menyisakan sampah dan menjadi bahan refleksi bagi masyarakat Indonesia tentang pentingnya menjaga kebersihan di ruang publik.

Betriani · 18 Agustus 2026
​Sisi Gelap di Balik Lemari Kita: Tren Kilat Fast Fashion
Iklim & Lingkungan

​Sisi Gelap di Balik Lemari Kita: Tren Kilat Fast Fashion

Menguak sisi gelap industri fast fashion. Telusuri bagaimana rantai pasok serat viskose dan rayon memicu deforestasi serta konflik lahan di Indonesia.

Mila Nabilah· 13 Juli 2026
Gender Just Climate Solutions Awards 2026 Dibuka, Soroti Kepemimpinan Perempuan dalam Aksi Iklim
Iklim & Lingkungan

Gender Just Climate Solutions Awards 2026 Dibuka, Soroti Kepemimpinan Perempuan dalam Aksi Iklim

Gender Just Climate Solutions Awards 2026 dibuka untuk menghargai inisiatif yang menggabungkan aksi iklim, kesetaraan gender, dan kepemimpinan perempuan.

Mila Nabilah· 1 Juli 2026