Runtut.com

Pesta Babi dan Luka Ekologis Papua: Ketika Food Estate, Sawit, dan Tebu Masuk Tanah Adat

Film Pesta Babi menyoroti dampak proyek pangan dan energi di Papua Selatan terhadap hutan, masyarakat adat, dan masa depan lingkungan.

2 menit baca
18
Pesta Babi dan Luka Ekologis Papua: Ketika Food Estate, Sawit, dan Tebu Masuk Tanah Adat
Film ini menggambarkan masyarakat adat di selatan Papua yang menghadapi ekspansi industri dan proyek negara di tanah leluhur mereka. — Foto: Indonesia Baru/YouTube

Film Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita tidak bisa dilepaskan dari isu lingkungan. Di balik kontroversi pembubaran nobar, film ini membawa persoalan yang jauh lebih besar: perubahan lanskap Papua Selatan akibat proyek pangan, energi, sawit, tebu, dan food estate.

Film ini menggambarkan masyarakat adat di selatan Papua yang menghadapi ekspansi industri dan proyek negara di tanah leluhur mereka. Narasi film dimulai dari kedatangan kapal-kapal pembawa alat berat untuk mendukung PSN di bidang pangan dan energi, termasuk biodiesel sawit serta bioetanol tebu.

Papua sering dibayangkan sebagai ruang kosong yang menunggu pembangunan. Padahal bagi masyarakat adat, hutan bukan sekadar kumpulan pohon. Hutan adalah dapur, apotek, sekolah, ruang spiritual, identitas, dan arsip hidup suatu komunitas.

Greenpeace Indonesia dalam laporan tentang proyek tebu Merauke menyebut proyek tersebut menargetkan sekitar 560 ribu hektare lahan, setara ukuran Pulau Bali. Laporan itu juga menyebut konsorsium 10 perusahaan terlibat, dengan sembilan di antaranya terkait dua grup korporasi yang punya rekam jejak panjang di industri sawit.

Greenpeace juga memperkirakan pembukaan vegetasi alami untuk proyek tebu tersebut dapat menghasilkan emisi setara 221 juta ton CO₂, atau setara emisi tahunan 48 juta mobil. Selain itu, lebih dari 23 ribu hektare hutan, savana, dan lahan basah disebut telah dibuka dalam 18 bulan oleh dua perusahaan.

Data lain dari Yayasan Pusaka Bentala Rakyat menunjukkan persoalan Merauke bukan hal baru. Pusaka mencatat Merauke telah menjadi sasaran program pangan skala luas sejak MIRE, MIFEE, hingga PSN pangan dan energi. Briefing paper Pusaka menyoroti pengalaman food estate skala besar yang berisiko memicu perampasan tanah, konsentrasi penguasaan lahan, eksploitasi buruh, deforestasi, kekeringan, krisis pangan, kekerasan, dan pelanggaran HAM.

Inilah konteks yang membuat Pesta Babi penting dibaca sebagai film lingkungan. Ia tidak hanya menampilkan kerusakan alam, tetapi memperlihatkan bagaimana kerusakan alam selalu terkait dengan kuasa politik, izin usaha, aparat, dan ketimpangan informasi.

Pertanyaannya bukan apakah Indonesia butuh pangan dan energi. Tentu butuh. Pertanyaannya adalah: siapa yang membayar harga ekologis dan sosial dari proyek itu?

Jika pembangunan mengorbankan masyarakat adat, menghancurkan hutan, dan mengubah sistem pangan lokal tanpa persetujuan yang bebas, didahulukan, dan diinformasikan, maka pembangunan itu patut dipertanyakan.

Pesta Babi menjadi pengingat bahwa isu lingkungan bukan hanya soal pohon yang ditebang. Ia soal manusia yang kehilangan ruang hidup.

Punya keberatan terhadap pemberitaan ini? Ajukan Hak Jawab

Komentar

Email tidak akan dipublikasikan. Komentar dimoderasi sebelum tampil.

Memuat komentar...

Artikel Terkait

Lihat semua
Studi Ungkap Kepiting Tapal Kuda Ternyata Berkerabat Dekat dengan Laba-Laba
Iklim & Lingkungan

Studi Ungkap Kepiting Tapal Kuda Ternyata Berkerabat Dekat dengan Laba-Laba

Riset terbaru mengungkap kepiting tapal kuda memiliki hubungan evolusi dengan laba-laba dan kalajengking melalui analisis data genetika.

Rachmaddani Rizki Saputra· 2 minggu lalu
BMKG Ungkap 10 Wilayah Terpanas di Indonesia, Suhu Tertinggi Capai 37,8 Derajat Celsius
Iklim & Lingkungan

BMKG Ungkap 10 Wilayah Terpanas di Indonesia, Suhu Tertinggi Capai 37,8 Derajat Celsius

Periode kering dan penguatan El Nino turut memengaruhi kondisi suhu udara di sejumlah daerah Indonesia pada awal September 2026.

Rachmaddani Rizki Saputra· 10 September 2026
Karhutla Kalimantan Jadi Alarm, Ilmuwan Bagus Muljadi Desak Kebijakan Lingkungan Berbasis Data dan Riset
Iklim & Lingkungan

Karhutla Kalimantan Jadi Alarm, Ilmuwan Bagus Muljadi Desak Kebijakan Lingkungan Berbasis Data dan Riset

Karhutla Kalimantan kembali terjadi. Ilmuwan Bagus Muljadi dorong pemerintah menjadikan riset sebagai dasar kebijakan mitigasi bencana.

Rachmaddani Rizki Saputra· 21 Agustus 2026
 Merayakan HUT RI ke-81: Usai Karnaval Hari Kemerdekaan Monas Dipenuhi Sampah
Iklim & Lingkungan

Merayakan HUT RI ke-81: Usai Karnaval Hari Kemerdekaan Monas Dipenuhi Sampah

Kemeriahan HUT RI ke-81 di Monas menyisakan sampah dan menjadi bahan refleksi bagi masyarakat Indonesia tentang pentingnya menjaga kebersihan di ruang publik.

Betriani · 18 Agustus 2026
​Sisi Gelap di Balik Lemari Kita: Tren Kilat Fast Fashion
Iklim & Lingkungan

​Sisi Gelap di Balik Lemari Kita: Tren Kilat Fast Fashion

Menguak sisi gelap industri fast fashion. Telusuri bagaimana rantai pasok serat viskose dan rayon memicu deforestasi serta konflik lahan di Indonesia.

Mila Nabilah· 13 Juli 2026
Gender Just Climate Solutions Awards 2026 Dibuka, Soroti Kepemimpinan Perempuan dalam Aksi Iklim
Iklim & Lingkungan

Gender Just Climate Solutions Awards 2026 Dibuka, Soroti Kepemimpinan Perempuan dalam Aksi Iklim

Gender Just Climate Solutions Awards 2026 dibuka untuk menghargai inisiatif yang menggabungkan aksi iklim, kesetaraan gender, dan kepemimpinan perempuan.

Mila Nabilah· 1 Juli 2026