Film Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita tidak bisa dilepaskan dari isu lingkungan. Di balik kontroversi pembubaran nobar, film ini membawa persoalan yang jauh lebih besar: perubahan lanskap Papua Selatan akibat proyek pangan, energi, sawit, tebu, dan food estate.
Film ini menggambarkan masyarakat adat di selatan Papua yang menghadapi ekspansi industri dan proyek negara di tanah leluhur mereka. Narasi film dimulai dari kedatangan kapal-kapal pembawa alat berat untuk mendukung PSN di bidang pangan dan energi, termasuk biodiesel sawit serta bioetanol tebu.
Papua sering dibayangkan sebagai ruang kosong yang menunggu pembangunan. Padahal bagi masyarakat adat, hutan bukan sekadar kumpulan pohon. Hutan adalah dapur, apotek, sekolah, ruang spiritual, identitas, dan arsip hidup suatu komunitas.
Greenpeace Indonesia dalam laporan tentang proyek tebu Merauke menyebut proyek tersebut menargetkan sekitar 560 ribu hektare lahan, setara ukuran Pulau Bali. Laporan itu juga menyebut konsorsium 10 perusahaan terlibat, dengan sembilan di antaranya terkait dua grup korporasi yang punya rekam jejak panjang di industri sawit.
Greenpeace juga memperkirakan pembukaan vegetasi alami untuk proyek tebu tersebut dapat menghasilkan emisi setara 221 juta ton CO₂, atau setara emisi tahunan 48 juta mobil. Selain itu, lebih dari 23 ribu hektare hutan, savana, dan lahan basah disebut telah dibuka dalam 18 bulan oleh dua perusahaan.








