Di tengah aktivitas harian yang semakin padat dan serba digital, Mojokerto Dolanan Vol.02 hadir dengan konsep yang sederhana tetapi mengena: kembali bermain.

Mengusung tema Back to Retro, kegiatan yang digelar di Pasar Ketidur, Surodinawan, Sabtu, 16 Mei 2026, ini mengajak warga Mojokerto bernostalgia dengan suasana permainan tradisional. Peserta tidak hanya datang untuk bermain, tetapi juga mengenakan dresscode retro style, mengikuti best costume, dan menikmati suasana pasar yang dihidupkan kembali oleh komunitas.

Putri, penanggung jawab acara Mojokerto Dolanan, menjelaskan bahwa tema retro dipilih karena masih sejalan dengan semangat dolanan tradisional. Menurutnya, permainan tradisional identik dengan suasana era 70-an, 80-an, dan 90-an.

“Karena temanya dolanan tradisional, kita mau mengangkat sesuatu yang berbau era permainan tradisional, era 70, 80, 90-an. Retro masuk dalam kategori tema jadul,” kata Putri.

Konsep berbeda di setiap volume juga menjadi strategi panitia agar Mojokerto Dolanan tidak terasa monoton. Kegiatan intinya tetap bermain permainan tradisional, tetapi kemasannya dibuat lebih menarik.

“Sebenarnya kegiatannya masih sama, bermain jadul. Cuma konsepnya dibedakan, dibungkus lebih menarik lagi,” ujar Putri.

Dresscode retro style dipakai untuk menarik audiens dan meramaikan suasana. Panitia juga menyiapkan best costume pilihan panitia bagi peserta yang tampil paling sesuai tema.

“Tujuannya menarik audiens dan meramaikan. Untuk best costume, kita memilih teman-teman yang sesuai dengan tema,” kata Putri.

Selain dresscode, doorprize juga menjadi salah satu pemancing minat peserta. Menurut Putri, hadiah bukan tujuan utama, tetapi bisa membuat warga semakin tertarik datang dan ikut bermain.

Di acara tersebut, peserta memainkan berbagai permainan seperti gobak sodor, lompat tali, kucing-kucingan, kasti, dakon, monopoli, ular tangga, catur, dan kelereng. Suasana kegiatan berlangsung ramai. Anak-anak, keluarga, komunitas, dan masyarakat umum ikut membaur.

“Banyak anak-anak, banyak keluarga yang datang bawa anaknya, bawa saudaranya, suami istri juga. Dari komunitas dan masyarakat umum juga banyak,” ujar Putri.

Bagi sebagian orang tua, kegiatan ini menjadi ruang nostalgia. Mereka bisa kembali mengingat masa kecil ketika permainan belum didominasi layar. Bagi anak-anak, Mojokerto Dolanan menjadi pengalaman baru: bermain tanpa gadget, bertemu teman baru, dan merasakan keseruan permainan fisik di ruang terbuka.

Putri menyebut salah satu tujuan kegiatan ini memang untuk memperkenalkan kembali euforia bermain tanpa gadget. Ia melihat banyak orang hari ini memiliki banyak hiburan digital, tetapi tetap merasa stres.

“Sekarang orang pakai gadget tapi makin stres. Banyak hiburan tapi mereka stres. Jadi kita menghadirkan permainan ini supaya teman-teman merasakan euforianya bermain tanpa gadget,” katanya.

Mojokerto Dolanan membuktikan bahwa hiburan tidak selalu harus mahal, digital, atau rumit. Kadang, yang dibutuhkan hanya ruang terbuka, teman bermain, permainan lama, dan kemauan untuk tertawa bersama.