Tidak semua orang memahami mengapa Marapthon Reza Arap bisa ramai. Bagi yang tidak mengikuti, pertanyaannya sederhana: apa menariknya menonton orang berbicara, bercanda, bermain, beraktivitas, bahkan kadang melakukan hal-hal yang dianggap tidak penting?

Namun bagi penontonnya, justru di situlah daya tariknya.

Marapthon bukan tontonan yang harus selalu punya alur. Ia lebih mirip suasana nongkrong yang disiarkan tanpa henti. Penonton bisa masuk kapan saja, pergi kapan saja, lalu kembali lagi tanpa merasa tertinggal terlalu jauh.

Format ini membuat Marapthon berbeda dari tayangan televisi. Televisi menuntut jadwal. Film menuntut fokus. Podcast menuntut durasi tertentu. Marapthon hadir seperti ruang yang selalu menyala.

DetikPop melaporkan Marapthon: The Last Tale menjadi musim terakhir dengan rencana penayangan 101 hari nonstop sejak 8 Februari hingga 20 Mei 2026. Sebelumnya, Medcom menulis Reza Arap mengumumkan penghentian Marapthon setelah musim ketiga, yang disebut menjadi episode pamungkas dari seri tersebut.

Ada beberapa alasan mengapa format seperti ini menarik.

Pertama, penonton mendapatkan rasa dekat. Dalam live streaming, kreator tidak tampil sebagai sosok yang jauh seperti selebritas televisi. Ia terlihat spontan, lelah, bercanda, marah, diam, tertawa, dan bereaksi secara real time. Ini menciptakan ilusi kedekatan yang kuat.

Kedua, ada rasa takut ketinggalan atau FOMO. Karena live berlangsung terus, penonton merasa harus kembali agar tidak kehilangan momen penting. Momen lucu, konflik kecil, ucapan spontan, atau kejadian absurd bisa terjadi kapan saja.

Ketiga, ada kekuatan komunitas. Penonton bukan hanya menonton Reza Arap, tetapi juga menonton bersama penonton lain. Kolom chat, potongan klip, diskusi di media sosial, dan meme membuat pengalaman menonton menjadi kolektif.

Keempat, Marapthon terasa lebih jujur daripada konten yang terlalu diedit. Di era ketika banyak konten terlihat terlalu sempurna, format live menawarkan sesuatu yang tampak mentah dan apa adanya.

Namun, daya tarik ini juga punya sisi abu-abu.

Ketika penonton terlalu menikmati spontanitas, batas antara hiburan dan perilaku problematik bisa menjadi kabur. Momen yang dipersepsikan sebagai mabuk, konsumsi alkohol, candaan kasar, atau perilaku impulsif bisa dianggap lucu karena terjadi dalam suasana tongkrongan. Padahal, bagi penonton muda, pola seperti itu dapat terbaca sebagai sesuatu yang normal atau keren.

Di sinilah pentingnya literasi tontonan. Penonton perlu memahami bahwa live streaming bukan ruang netral. Ia adalah hiburan, tetapi juga bisnis. Ia terasa spontan, tetapi tetap berada dalam ekonomi perhatian. Semakin banyak yang menonton, semakin besar nilainya.

Bagi Reza Arap dan timnya, Marapthon adalah eksperimen kreatif yang berhasil membangun komunitas. Bagi penonton, ia menjadi teman digital. Bagi industri hiburan, ia menjadi bukti bahwa format panjang masih bisa hidup di tengah dominasi video pendek.

Namun bagi masyarakat, fenomena ini menyisakan pertanyaan: apakah kita menonton karena benar-benar menikmati, atau karena takut tertinggal dari sesuatu yang bahkan tidak selalu penting?