Lim Kok Tong, Menyesap Legenda di Sudut Jalan W.R. Supratman
Satu abad hampir berlalu sejak 1925. Waktu boleh berganti, generasi boleh bergeser, tetapi sebuah warisan akan terus hidup selama masih ada orang yang bersedia
Kopi legendaris Lim Kok Tong dari Pematang Siantar di Jl. W.R Supratman, Pontianak. — Foto: Runtut.com
RUNTUT.COM - Ada kalanya perjalanan membawa kita ke sebuah tempat bukan karena telah merencanakannya, melainkan karena sesuatu yang berhasil mencuri perhatian kita. Bentuknya bisa beragam, bisa jadi sebuah bangunan tua, aroma masakan yang menyelinap di udara, atau sekadar tulisan di depan kedai yang seolah berbisik bahwa ada cerita panjang di balik secangkir minuman yang disajikannya. Sekiranya begitulah yang saya alami ketika sebuah tulisan memikat saya untuk singgah di Kopitiam Lim Kok Tong.
Sore itu, sekitar pukul 16.00, perjalanan menyusuri Jalan W.R. Supratman di Pontianak membawa kami pada sebuah persinggahan yang kemudian terasa lebih dari sekadar urusan mengisi waktu luang, Lim Kok Tong Kopitiam.
Tulisan legendaris yang terpampang di bagian depan kedai menjadi pemantik rasa penasaran saya. Kata legendaris memang punya daya pikat tersendiri, laksana sebuah undangan untuk menelusuri masa lalu, sekaligus tantangan kecil bagi lidah, benarkah cita rasa yang bertahan lintas generasi menyimpan sesuatu yang berbeda?
Kami berlima akhirnya memutuskan singgah. Begitu melangkah masuk, suasana kedai menghadirkan kesan yang berbeda dari sekadar sebuah tempat untuk menikmati kopi, ada sesuatu yang terasa lain. Kami kemudian memilih duduk berlima di sisi sudut kanan ruangan. Posisi yang cukup nyaman untuk mengamati suasana sekaligus menikmati ruang yang menyimpan kisah panjang sebuah usaha keluarga.
Perhatian saya kemudian tertuju pada dinding bagian belakang. Di sana terpampang rangkaian gambar dan catatan sejarah perjalanan Lim Kok Tong, dari generasi pertama hingga generasi-generasi penerusnya. Deretan dokumentasi itu seperti album keluarga yang dibuka lebar-lebar kepada setiap pengunjung. Bukan hanya memperlihatkan pergantian wajah dan generasi, tetapi juga mengisahkan bagaimana sebuah usaha kecil mampu melintasi zaman.
The Journey of Lim Kok Tong yang tertera di dinding kedai di Pontianak. — Foto: Runtut.com
Dari sanalah perjalanan cerita ini bermula. Kisah Lim Kok Tong ternyata berakar dari seorang perantau bernama Lim Tje Kie, generasi pertama keluarga tersebut. Pada awal 1900-an, ia meninggalkan kampung halamannya di Fu Jian, Po Cin, Tiongkok, dan datang ke Indonesia ketika berusia 15 tahun. Sebuah perjalanan panjang seorang remaja yang menyeberangi batas geografis demi mencari kehidupan di tanah yang baru.
Pada 1925, Lim Tje Kie mendirikan kedai kopi pertamanya di Jalan Cipto, Pematangsiantar, Sumatera Utara. Kedai itu diberi nama Keng Seng Can. Tempat yang awalnya menjadi ruang usaha keluarga tersebut kemudian tumbuh menjadi salah satu tempat ikonik di Kota Pematangsiantar.
Tahun 1925 menjadi penanda penting. Bukan semata tahun berdirinya sebuah kedai, tetapi awal dari sebuah tradisi yang kelak diwariskan lintas generasi. Di balik secangkir kopi, ada kisah tentang keberanian merantau, kerja keras, dan ketekunan membangun usaha dari awal.
Perjalanan kemudian berlanjut pada 1970. Lim Lok Tong, generasi kedua, mengambil alih pengelolaan kedai dan mengubah namanya menjadi Warkop Lok Tong. Pergantian nama itu menjadi bagian dari perkembangan usaha keluarga yang mulai memasuki babak baru.
Sepuluh tahun kemudian, pada 1980, pengelolaan bisnis kopi berada di tangan Thiet Guan (Lim Peng Japs). Pada generasi inilah pengembangan resep khas dan pembangunan fasilitas usaha pengolahan kopi menjadi bagian penting dari upaya menjaga konsistensi cita rasa. Pengolahan dan penyangraian kopi dilakukan melalui fasilitas pemanggangan sendiri atau roastery, agar karakter rasa yang menjadi identitas kopitiam tetap terjaga.
Di sinilah warisan resep menemukan maknanya. Sebuah resep tidak hanya hidup sebagai catatan komposisi bahan, melainkan sebagai pengetahuan yang terus dipraktikkan. Ada ketelitian dalam memilih biji, kecermatan mengolah, pengalaman menentukan tingkat sangrai, hingga kesetiaan menjaga karakter rasa. Semua itu menjadi bagian dari tradisi yang tidak bisa diwariskan hanya dengan menyerahkan selembar kertas resep kepada penerusnya.
Memasuki era 2000-an, Lim Ming kembali melakukan perubahan nama usaha menjadi Lok Kong dan membuka gerai berikutnya di Sumatera Utara. Perkembangan ini memperlihatkan bagaimana usaha keluarga tersebut terus beradaptasi dengan perubahan zaman tanpa sepenuhnya meninggalkan akar sejarahnya.
Babak berikutnya terjadi pada 2019. Lim Kok Tong membuka gerai flagship pertamanya di kawasan Pantai Indah Kapuk (PIK), Jakarta. Dari sebuah kedai kopi di Pematangsiantar yang dirintis pada 1925, perjalanan usaha ini telah menjangkau wilayah yang lebih luas.
Membaca kronologi tersebut sambil duduk di Lim Kok Tong Kopitiam Pontianak menghadirkan pengalaman yang menarik. Ada semacam pertemuan antara masa lalu dan masa kini. Kita mungkin datang hanya untuk menikmati kopi, tetapi kemudian menemukan cerita tentang seorang anak muda yang meninggalkan kampung halamannya pada usia 15 tahun, mendirikan kedai pada 1925, lalu mewariskan usaha yang terus berkembang hingga generasi berikutnya.
Para Pewaris Rasa, Penjaga Tradisi Lintas Generasi
Hampir seabad bukanlah waktu yang singkat bagi sebuah bisnis kuliner untuk bertahan. Selera manusia berubah, teknologi pengolahan berkembang, persaingan semakin ramai, dan gaya hidup masyarakat terus berganti. Namun, ada satu hal yang tampaknya menjadi benang merah perjalanan Lim Kok Tong: sebuah upaya menjaga karakter cita rasa melalui resep dan proses pengolahan yang diwariskan.
Di tengah perkembangan industri kopi yang semakin dinamis, kisah seperti ini menjadi pengingat bahwa inovasi dan tradisi tidak harus saling meniadakan. Keduanya dapat berjalan beriringan. Sebuah usaha boleh memperluas jangkauan, memperbarui konsep kedai, dan menjangkau generasi konsumen yang lebih muda, tetapi tetap memiliki akar yang jelas tentang dari mana semuanya bermula.
Sore itu, kami berlima mungkin hanya berniat mencari tempat untuk menikmati kopi dan berbincang sejenak. Namun, persinggahan tersebut memberikan pengalaman yang lebih dari kunjungan ke sebuah kedai belaka.
Saya jadi berpikir, setiap cangkir kopi sesungguhnya memiliki perjalanan yang tidak selalu terlihat. Ada lapisan perjuangan dari kelas pekerja mulai dari mereka yang menggarap tanah tempat biji kopi tumbuh, tangan-tangan yang memanen, proses panjang pengolahan, penyangraian, racikan, hingga akhirnya tersaji di atas meja. Dan pada kedai yang memiliki sejarah panjang, ada satu lapisan cerita lagi, yakni perihal manusia yang menjaga agar semua proses itu terus berlangsung dari generasi ke generasi.
Mungkin itulah alasan mengapa kata legendaris di depan kedai tadi berhasil membuat kami berhenti. Sebab legenda tidak selalu hadir dalam kisah-kisah besar atau tokoh yang namanya tercatat dalam buku sejarah. Kadang-kadang, ia tumbuh dari sebuah kedai seperti ini, dari tangan seorang perantau, dari resep yang diwariskan, dan dari keluarga yang memilih untuk meneruskan apa yang telah dirintis para pendahulunya.
Dari Pematangsiantar menuju berbagai kota, hingga akhirnya kami menemukannya di Jalan W.R. Supratman, Pontianak. Sebuah perjalanan panjang yang mengajarkan bahwa secangkir kopi bukan hanya tentang rasa yang singgah di lidah, melainkan juga sejarah yang hidup di baliknya.
Sebab, kopi mungkin habis dalam beberapa tegukan, tetapi cerita yang menyertainya bisa bertahan jauh lebih lama.