Runtut.com

Kelas Menengah, Kelas yang Selalu Satu Kejutan dari Jatuh

Kelas menengah Indonesia menyusut dari 57,33 juta menjadi 47,85 juta. Esai tentang kelas yang tampak mapan tapi hanya selangkah dari jatuh.

3 menit baca
1
Kelas Menengah, Kelas yang Selalu Satu Kejutan dari Jatuh
Ilustrasi. Pekerja kantoran dalam kereta komuter pada jam sibuk. — ANTARA FOTO/Aditya Pradana Putra

Kelas menengah punya wajah yang mudah dikenali. Pekerja kantoran dengan kemeja yang disetrika rapi, motor atau mobil yang masih dicicil, kopi pagi di tangan, dan percakapan tentang tabungan yang selalu terdengar akan segera dimulai. Dari luar, mereka tampak mapan. Tetapi ketika angka-angka dibuka, yang muncul bukan kemapanan, melainkan keseimbangan di atas tali.

Yang menyusut diam-diam

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan jumlah penduduk kelas menengah turun dari 57,33 juta orang (21,45 persen) pada 2019 menjadi 47,85 juta orang (17,13 persen) pada 2024. Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti, seperti dikutip Tempo, menyebut ada sekitar 9,48 juta orang yang turun kelas, dan menyebut itu sebagai salah satu efek jangka panjang (scarring effect) pandemi Covid-19.

Mereka tidak lenyap. Mereka turun satu anak tangga. Menurut Investortrust yang mengutip BPS, kelompok menuju kelas menengah naik menjadi 137,5 juta orang atau 49,22 persen penduduk, sementara kelompok rentan miskin tercatat 67,69 juta orang atau 24,23 persen.

Kelas yang diukur dengan pengeluaran

Perlu dicatat dulu apa yang dimaksud BPS. Merujuk Bank Dunia, kelas menengah adalah mereka yang pengeluarannya 3,5 sampai 17 kali garis kemiskinan. Pada Maret 2024, menurut Bloomberg Technoz, itu berarti pengeluaran di atas Rp2.040.262 hingga sekitar Rp9,9 juta per orang per bulan.

Angka itu per kapita. Dalam hitungan sederhana, keluarga beranggota empat orang baru menyentuh batas bawah kelas menengah jika pengeluarannya sekitar Rp8,16 juta per bulan. Tidak sedikit orang yang merasa menengah, tetapi tidak tercatat demikian. Sebaliknya, ada yang tercatat menengah tetapi tak merasa lapang.

Jarak yang terlalu dekat

Bagian paling mengusik datang dari BPS sendiri. Median pengeluaran kelas menengah tercatat Rp2.846.440 per kapita per bulan, hanya Rp806.178 di atas batas bawah. BPS menulis, sebagaimana dikutip Bloomberg Technoz, bahwa jika terjadi guncangan ekonomi, kelompok ini rentan jatuh ke kelompok menuju kelas menengah.

Artinya, kelas menengah bukan tebing yang kokoh. Ia lebih mirip tepian yang landai, tempat satu kejutan, entah sakit, kehilangan pekerjaan, atau harga yang tak kunjung sabar, sudah cukup untuk menggelincirkan.

Tabung yang menyala di dapur mereka

Gambaran lain datang dari pengolahan data Susenas oleh NEXT Indonesia Center. Lembaga itu mencatat bahwa 79,27 persen keluarga kelas menengah dan 88,35 persen keluarga menuju kelas menengah bergantung pada LPG kemasan 3 kilogram, tabung yang sejak awal dirancang untuk kelompok yang lebih rentan. Lembaga yang sama menghitung jumlah kelas menengah turun dari 52,3 juta pada 2016 menjadi 46,7 juta pada 2025.

Perlu hati-hati membandingkan. Angka NEXT berasal dari pengolahan yang berbeda dari rilis BPS, sehingga totalnya tidak persis sama. Namun arah ceritanya serupa, yaitu menyusut.

Kelas yang menopang, tetapi jarang ditopang

Menurut ANTARA yang mengutip BPS, kelas menengah dan kelompok menuju kelas menengah bersama-sama menyumbang setidaknya 81,49 persen konsumsi rumah tangga nasional. Dengan kata lain, dapur perekonomian dinyalakan oleh orang-orang yang justru paling sedikit memegang jaring pengaman. Mereka tidak cukup miskin untuk dibantu, dan tidak cukup kaya untuk dilupakan.

Sebuah renungan tentang tali

Barangkali yang paling sulit dari menjadi kelas menengah adalah rasa tak boleh mengeluh. Mereka tampak baik-baik saja, padahal hitungan di balik kemeja rapi itu tak sedap. Di tengah inflasi yang menanjak dan rupiah yang melemah, mereka diminta tetap menjadi penopang konsumsi, pembayar pajak, dan penjaga optimisme.

Kita sering bertanya bagaimana menolong yang jatuh. Kita jarang bertanya bagaimana menahan mereka yang sedang berjalan di tepi. Padahal tali itu tak panjang, dan angin sedang bertiup.

Punya keberatan terhadap pemberitaan ini? Ajukan Hak Jawab

Komentar

Email tidak akan dipublikasikan. Komentar dimoderasi sebelum tampil.

Memuat komentar...

Artikel Terkait

Lihat semua