Runtut.com

Kota yang Diam-diam Turun Menemui Laut

Jakarta tak hanya diancam laut yang naik. Tanahnya sendiri turun, di titik tertentu hingga 25 sentimeter per tahun. Esai tentang kota yang tenggelam.

3 menit baca
1
Kota yang Diam-diam Turun Menemui Laut
Tanggul Muara Baru, Penjaringan, Jakarta Utara membatasi antara wilayah lautan dengan daratan pesisir Jakarta. — Kompas.com/Zintan Prihatini

Ada kota yang tidak diterjang gelombang, melainkan pelan-pelan turun menjemput laut. Tak ada dentuman, tak ada hari ketika semuanya runtuh sekaligus. Yang ada hanyalah selisih beberapa sentimeter setiap tahun, cukup kecil untuk diabaikan, cukup besar untuk mengubah segalanya jika dihitung dalam satu masa hidup.

Di Muara Baru, Penjaringan, pada 8 Januari 2026, anak-anak bermain di dekat tanggul laut. Tak jauh dari sana, sebuah masjid terendam air laut. Foto-foto itu dimuat Tempo bersama kabar dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bahwa penurunan tanah di Jakarta bagian utara rata-rata sekitar 3,5 sentimeter per tahun, yang meningkatkan risiko banjir lebih dari 40 persen.

Yang naik dan yang turun

Selama bertahun-tahun, kita menunjuk laut sebagai pelakunya. Laut memang naik, tetapi pelan. Seorang dosen Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian ITB, sebagaimana dikutip CNN Indonesia pada 2022, menyebut pengukuran satelit altimetri selama dua dekade menunjukkan kenaikan muka air laut hanya sekitar 6 milimeter hingga 1 sentimeter per tahun. Sementara itu, hasil pengukurannya di Jakarta selama 20 tahun menunjukkan titik-titik yang turun sampai 10 sentimeter per tahun, bahkan ada yang 20.

Profesor riset BRIN Eddy Hermawan pernah menjelaskan bahwa kenaikan muka air laut di Jakarta sekitar 3 milimeter per tahun, dan karena itu penurunan muka tanahlah yang perlu direm.

Dengan kata lain, laut sedang naik pelan-pelan, tetapi kota ini turun lebih cepat. Seperti orang yang berdiri di perahu yang diam-diam bocor, lalu sibuk memarahi ombak.

Tanah yang dihisap dari bawah

Mengapa tanah turun? Dalam laporan ABC Indonesia, Amalia dari RUJAK Center for Urban Studies menyebut penurunan tanah dapat disebabkan penyedotan air tanah, beban pembangunan di atas tanah, serta sedimentasi. Ahli geodesi ITB Heri Andreas, yang meneliti penurunan tanah Jakarta sejak 1997, dalam wawancara lama dengan Kumparan menyebut beban bangunan dan pengambilan air tanah berlebih sebagai pemicu utama.

Gambarannya sederhana dan menyesakkan. Kota ini membangun makin tinggi di atas tanah yang makin lembek, sambil terus menyedot air dari bawah kakinya sendiri. BRIN menyarankan pemberhentian penggunaan air tanah sebagai langkah mitigasi utama.

Para ahli tidak selalu sepakat. Dalam liputan CNN Indonesia yang sama, seorang alumnus teknik geologi ITB berpendapat bahwa penyedotan air tanah tidak berdampak pada penurunan muka tanah Jakarta. Kita memang sedang berurusan dengan ilmu yang masih diperdebatkan, tetapi arah kecemasannya serupa. Tanah itu turun.

Tembok yang makin tinggi

Di sisi laut, jawaban yang tampak paling kasatmata adalah tembok. Gubernur Jakarta Pramono Anung, menurut Metro TV, menyatakan pembangunan proyek tanggul pantai terpadu NCICD berlanjut pada 2025 sampai 2026, termasuk beberapa segmen di Ancol Barat dan Muara Angke. Namun Eddy Hermawan mengingatkan bahwa tanggul raksasa hanyalah penanggulangan sementara.

Sebab tembok yang makin tinggi tidak menghentikan tanah di bawahnya turun. Ia hanya menunda saat air menemukan jalannya.

Angka yang tak seirama

Berapa cepat sebenarnya kota ini turun? Jawabannya bergantung pada siapa yang ditanya dan di mana mengukur. BRIN menyebut rata-rata sekitar 3,5 sentimeter per tahun di Jakarta Utara. Staf khusus Gubernur Chico Hakim, dikutip ABC Indonesia, menyebut kisaran rata-rata 5 sampai 10 sentimeter per tahun. Tim geodesi ITB menyebut hingga 25 sentimeter per tahun di Jakarta Utara dan memperingatkan bahwa jika tak ada yang dilakukan, sekitar 95 persen wilayah Jakarta Utara bisa berada di bawah laut pada 2050.

Angka-angka itu tidak harus saling meniadakan. Ada yang rata-rata, ada yang titik terparah. Tetapi semuanya menunjuk satu arah, yaitu ke bawah.

Sebuah renungan tentang menggali

Kita senang menyebut bencana sebagai sesuatu yang datang dari luar, dari langit, dari laut, dari nasib. Padahal sebagian kecemasan itu mungkin ditulis oleh tangan kita sendiri, dalam bentuk pompa air, beton, dan keinginan untuk selalu membangun lebih tinggi.

Sebuah kota bisa tenggelam bukan karena laut menyerang, tetapi karena penghuninya tak kunjung berhenti menggali di bawah kaki sendiri. Dan sungguh aneh, kita masih bertanya kapan air akan datang, padahal ia sudah lama berjalan pelan ke arah kita, dan kita yang turun menyambutnya.

Punya keberatan terhadap pemberitaan ini? Ajukan Hak Jawab

Komentar

Email tidak akan dipublikasikan. Komentar dimoderasi sebelum tampil.

Memuat komentar...