RUNTUT.COM – Gaya hidup mengonsumsi seblak memengaruhi harga pasar di Jawa Timur terutama melalui lonjakan permintaan bahan baku pokok secara massal dan berkelanjutan.
Tingginya popularitas seblak prasmanan di kalangan generasi muda menciptakan rantai ketergantungan baru antara tren kuliner modern dan stabilitas harga komoditas pertanian serta industri makanan di pasar tradisional Jawa Timur.
Berikut adalah beberapa aspek utama bagaimana gaya hidup makan seblak memengaruhi dinamika harga pasar di Jawa Timur:
1. Fluktuasi Harga Cabai Rawit akibat Tingkat Kepedasan Berlevel
Konsumsi seblak identik dengan tantangan tingkat kepedasan (level). Ketika tren seblak melonjak secara masif di berbagai daerah seperti Malang, Sidoarjo, hingga Tulungagung, permintaan terhadap cabai rawit merah segar ikut meroket tajam dilansir dari jurnal Media Akademik (JMA).
Dampak Pasar: Permintaan yang konstan dari ribuan pelaku UMKM seblak membuat pasokan cabai di pasar induk Jawa Timur terserap cepat.
Saat musim hujan tiba dan pasokan petani terganggu, tekanan dari permintaan industri seblak memperparah lonjakan harga cabai rawit di tingkat pasar retail.
2. Kestabilan Harga Tepung Tapioka dan Kerupuk Mentah

Kerupuk aci (tapioka) merupakan bahan baku utama seblak yang tidak bisa digantikan.
Maraknya kedai seblak prasmanan mendorong konsumsi kerupuk mentah dalam skala tonase yang jauh lebih besar dibanding tahun-tahun sebelumnya.





