Runtut.com
UmumBreaking News

Semangkuk Seblak Jadi Self Reward Gen Z di Tengah Himpitan Gaji UMR

Dari cabai hingga ceker, tingginya permintaan seblak di Jatim ubah harga pasar. Simak dampak tren kuliner ini pada finansial Gen Z bergaji di bawah UMR!

3 menit baca
2
Seblak ceker pedas
Seblak ceker pedas — Foto: Unilever Food Solutions

RUNTUT.COM – Gaya hidup mengonsumsi seblak memengaruhi harga pasar di Jawa Timur terutama melalui lonjakan permintaan bahan baku pokok secara massal dan berkelanjutan.

Tingginya popularitas seblak prasmanan di kalangan generasi muda menciptakan rantai ketergantungan baru antara tren kuliner modern dan stabilitas harga komoditas pertanian serta industri makanan di pasar tradisional Jawa Timur. 

Berikut adalah beberapa aspek utama bagaimana gaya hidup makan seblak memengaruhi dinamika harga pasar di Jawa Timur:

1. Fluktuasi Harga Cabai Rawit akibat Tingkat Kepedasan Berlevel

Konsumsi seblak identik dengan tantangan tingkat kepedasan (level). Ketika tren seblak melonjak secara masif di berbagai daerah seperti Malang, Sidoarjo, hingga Tulungagung, permintaan terhadap cabai rawit merah segar ikut meroket tajam dilansir dari jurnal Media Akademik (JMA). 

  • Dampak Pasar: Permintaan yang konstan dari ribuan pelaku UMKM seblak membuat pasokan cabai di pasar induk Jawa Timur terserap cepat.

    Saat musim hujan tiba dan pasokan petani terganggu, tekanan dari permintaan industri seblak memperparah lonjakan harga cabai rawit di tingkat pasar retail.

2. Kestabilan Harga Tepung Tapioka dan Kerupuk Mentah

Kerupuk sebagai toping Seblak
Kerupuk sebagai toping Seblak — foto: detik.com

Kerupuk aci (tapioka) merupakan bahan baku utama seblak yang tidak bisa digantikan.

Maraknya kedai seblak prasmanan mendorong konsumsi kerupuk mentah dalam skala tonase yang jauh lebih besar dibanding tahun-tahun sebelumnya. 

  • Dampak Pasar: Tren ini menjaga stabilitas harga tepung tapioka dan memicu pertumbuhan pabrik kerupuk lokal di Jawa Timur.

    Tingginya permintaan ini memengaruhi harga grosir komoditas bahan pembuat aci di pasar. 

3. Pergeseran Harga Topping Protein (Ceker, Bakso, dan Sosis)

Model penjualan seblak prasmanan yang sedang tren memberikan kebebasan konsumen memilih topping. Komoditas seperti ceker ayam, bakso, sosis, dan telur ayam menjadi buruan utama para pemilik kedai seblak.

  • Dampak Pasar: Bagian ayam seperti ceker, yang dahulu memiliki nilai ekonomi rendah, kini harganya merangkak naik dan stabil di pasar karena memiliki serapan pasar yang pasti dari ekosistem kuliner seblak. 

4. Munculnya Standar Harga Kuliner Baru untuk Kantong Pelajar

Gaya hidup makan seblak menciptakan segmen pasar dengan rentang harga psikologis tersendiri, umumnya berkisar antara Rp6.000 hingga Rp20.000 per porsi. 

  • Dampak Pasar: Kehadiran seblak murah dengan porsi mengenyangkan memaksa pelaku usaha kuliner lain (seperti penjual bakso, mie ayam, atau penyetan) untuk menjaga harga mereka tetap kompetitif agar tidak kehilangan pasar konsumen muda. 

Referensi: 


Punya keberatan terhadap pemberitaan ini? Ajukan Hak Jawab

Komentar

Email tidak akan dipublikasikan. Komentar dimoderasi sebelum tampil.

Memuat komentar...

Artikel Terkait

Lihat semua