Di banyak rumah dan warung, makan hampir selalu ditutup dengan teh. Entah hangat, manis, atau es teh. Rasanya seperti tanda titik di ujung kalimat.
Padahal ada satu hal yang jarang terpikir. Segelas teh di akhir makan mungkin sedang "berebut" zat besi dengan tubuhmu.
Jawaban singkat: Teh mengandung tanin yang dapat menghambat penyerapan zat besi nonheme. Dalam skripsi di IPB University, ketersediaan hayati zat besi pada kelompok yang diberi teh (0,61 sampai 0,66 persen) sedikit lebih rendah daripada kontrol (0,71 persen), meski perbedaan antarjenis teh tidak signifikan secara statistik.
Mengapa teh bisa memengaruhi zat besi?
Zat besi dibutuhkan untuk membentuk hemoglobin, komponen sel darah merah. Zat besi nonheme, yaitu yang berasal dari pangan nabati seperti bayam, tempe, dan kacang-kacangan, lebih mudah terganggu penyerapannya.
Skripsi di Institut Pertanian Bogor yang menjadi rujukan artikel ini membuka dengan latar bahwa salah satu penyebab anemia defisiensi besi di Indonesia adalah kebiasaan mengonsumsi pangan yang mengandung zat penghambat penyerapan zat besi. Salah satu zat yang diteliti adalah tanin, senyawa pada teh yang memberi rasa sepat.
Apa temuan peneliti di Bogor?
Penelitian itu menguji empat jenis teh, yaitu teh putih, teh hijau, teh oolong, dan teh hitam. Menurut ringkasan di repositori IPB, ketersediaan hayati zat besi pada kontrol adalah 0,71 persen, sedangkan pada teh putih 0,66 persen, teh hijau 0,62 persen, teh oolong 0,63 persen, dan teh hitam 0,61 persen.
Jika dihitung sebagai selisih dari kontrol, perbedaannya 6,3 persen untuk teh putih, 13,34 persen untuk teh hijau, 11,1 persen untuk teh oolong, dan 14,47 persen untuk teh hitam. Peneliti juga mencatat kecenderungan bahwa makin tinggi kadar tanin dalam teh, makin rendah ketersediaan hayati zat besinya.
Seberapa kuat temuan ini?
Penelitian itu sendiri memberi catatan jujur. Perbedaan ketersediaan hayati zat besi antarsampel teh tidak signifikan secara statistik, dan hubungan dengan kadar tanin pun tidak signifikan. Selain itu, ini penelitian skripsi, bukan studi besar yang telah ditelaah dalam jurnal ilmiah. Jadi temuan ini bukan bukti bahwa teh hitam paling "jahat". Lebih tepat jika dibaca sebagai petunjuk arah.




