Runtut.com

Segelas Teh Usai Makan, Diam-Diam Bisa Mengganggu Zat Besi

Teh mengandung tanin yang dapat menghambat penyerapan zat besi. Simak temuan peneliti IPB dan waktu minum teh yang lebih aman bagi tubuh.

3 menit baca
1
Segelas Teh Usai Makan, Diam-Diam Bisa Mengganggu Zat Besi
Ilustrasi. Secangkir teh hangat. — iStockphoto/OlegKov via cnnindonesia.com

Di banyak rumah dan warung, makan hampir selalu ditutup dengan teh. Entah hangat, manis, atau es teh. Rasanya seperti tanda titik di ujung kalimat.

Padahal ada satu hal yang jarang terpikir. Segelas teh di akhir makan mungkin sedang "berebut" zat besi dengan tubuhmu.

Jawaban singkat: Teh mengandung tanin yang dapat menghambat penyerapan zat besi nonheme. Dalam skripsi di IPB University, ketersediaan hayati zat besi pada kelompok yang diberi teh (0,61 sampai 0,66 persen) sedikit lebih rendah daripada kontrol (0,71 persen), meski perbedaan antarjenis teh tidak signifikan secara statistik.

Mengapa teh bisa memengaruhi zat besi?

Zat besi dibutuhkan untuk membentuk hemoglobin, komponen sel darah merah. Zat besi nonheme, yaitu yang berasal dari pangan nabati seperti bayam, tempe, dan kacang-kacangan, lebih mudah terganggu penyerapannya.

Skripsi di Institut Pertanian Bogor yang menjadi rujukan artikel ini membuka dengan latar bahwa salah satu penyebab anemia defisiensi besi di Indonesia adalah kebiasaan mengonsumsi pangan yang mengandung zat penghambat penyerapan zat besi. Salah satu zat yang diteliti adalah tanin, senyawa pada teh yang memberi rasa sepat.

Apa temuan peneliti di Bogor?

Penelitian itu menguji empat jenis teh, yaitu teh putih, teh hijau, teh oolong, dan teh hitam. Menurut ringkasan di repositori IPB, ketersediaan hayati zat besi pada kontrol adalah 0,71 persen, sedangkan pada teh putih 0,66 persen, teh hijau 0,62 persen, teh oolong 0,63 persen, dan teh hitam 0,61 persen.

Jika dihitung sebagai selisih dari kontrol, perbedaannya 6,3 persen untuk teh putih, 13,34 persen untuk teh hijau, 11,1 persen untuk teh oolong, dan 14,47 persen untuk teh hitam. Peneliti juga mencatat kecenderungan bahwa makin tinggi kadar tanin dalam teh, makin rendah ketersediaan hayati zat besinya.

Seberapa kuat temuan ini?

Penelitian itu sendiri memberi catatan jujur. Perbedaan ketersediaan hayati zat besi antarsampel teh tidak signifikan secara statistik, dan hubungan dengan kadar tanin pun tidak signifikan. Selain itu, ini penelitian skripsi, bukan studi besar yang telah ditelaah dalam jurnal ilmiah. Jadi temuan ini bukan bukti bahwa teh hitam paling "jahat". Lebih tepat jika dibaca sebagai petunjuk arah.

Arah yang sama muncul dalam penelitian lain di Indonesia. Sebuah studi pada remaja putri menelaah hubungan kebiasaan minum teh dan konsumsi pangan pendorong zat besi dengan kadar hemoglobin. Para penulisnya mengingatkan bahwa konsumsi teh berlebihan, terutama saat makan, dapat menghambat penyerapan zat besi, sedangkan pangan pendorong seperti vitamin C dan protein hewani membantu penyerapannya.

Jadi, haruskah berhenti minum teh?

Tidak perlu. Teh bukan musuh. Yang berpengaruh adalah waktunya. Anjuran yang sering dikutip dalam literatur gizi di Indonesia, termasuk dalam studi tentang minum teh setelah makan pada remaja putri di Makassar, adalah memberi jeda sekitar satu jam antara makan dan minum teh.

Kalau kamu termasuk yang perlu lebih memperhatikan zat besi, misalnya remaja putri, perempuan yang menstruasi, atau ibu hamil, jeda itu patut dicoba. Di akhir makan, buah kaya vitamin C seperti jeruk atau jambu biji bisa menjadi pendamping yang lebih bersahabat bagi zat besi.

Perubahannya sederhana, hanya soal urutan. Jadi lain kali, ketika tangan sudah meraih gelas teh sehabis makan, mungkin cukup berkata pada diri sendiri, "Tehnya nanti dulu, ya."

Tanya jawab

Apakah teh hitam paling menghambat penyerapan zat besi?
Dalam skripsi IPB, teh hitam menunjukkan selisih terbesar dari kontrol (14,47 persen). Namun perbedaan antarjenis teh tidak signifikan secara statistik, sehingga belum bisa disimpulkan bahwa satu jenis teh pasti paling berpengaruh.

Apakah minum teh menyebabkan anemia?
Tidak otomatis. Anemia punya banyak penyebab. Kebiasaan minum teh hanya salah satu faktor yang dikaitkan dengan penyerapan zat besi, terutama pada orang yang asupan zat besinya memang rendah.

Apa yang membantu penyerapan zat besi dari pangan nabati?
Menurut studi pada remaja putri, pangan pendorong seperti vitamin C dan protein hewani dapat meningkatkan penyerapan zat besi.

Artikel ini bersifat edukatif dan bukan pengganti saran dokter. Jika kamu curiga kekurangan zat besi, periksakan diri ke tenaga kesehatan.

Punya keberatan terhadap pemberitaan ini? Ajukan Hak Jawab

Komentar

Email tidak akan dipublikasikan. Komentar dimoderasi sebelum tampil.

Memuat komentar...

Artikel Terkait

Lihat semua