Kekalahan Viktor Orbán dan kemenangan Lula da Silva menunjukkan dukungan Donald Trump tidak selalu menentukan hasil pemilu di negara lain.
BRAZIL - Dukungan Presiden Amerika Serikat Donald Trump kepada tokoh politik yang sehaluan dengannya tidak selalu berujung pada kemenangan elektoral. Kekalahan Viktor Orbán di Hungaria pada April 2026 dan kemenangan Luiz Inácio Lula da Silva di Brasil pada Oktober 2026 memperlihatkan bahwa hasil pemilu tetap ditentukan oleh dinamika politik domestik, termasuk kondisi ekonomi, kepercayaan publik, dan pilihan pemilih.
Orbán kehilangan jabatan perdana menteri setelah 16 tahun berkuasa. Partai Tisza yang dipimpin Péter Magyar mengalahkan Fidesz, partai yang selama ini menjadi kendaraan politik Orbán. Kekalahan itu menjadi pukulan bagi kelompok nasionalis-konservatif Eropa yang selama bertahun-tahun menjadikan Orbán sebagai salah satu figur utamanya.
Trump sebelumnya menyatakan dukungan terbuka kepada Orbán menjelang pemilihan parlemen Hungaria. Wakil Presiden Amerika Serikat JD Vance bahkan datang ke Budapest untuk mendukung kampanyenya. Namun, dukungan tersebut tidak cukup mempertahankan kekuasaan Orbán ketika pemilih memberikan suara kepada oposisi yang menjanjikan perubahan arah pemerintahan.
Kekalahan serupa dialami Flávio Bolsonaro dalam pemilihan presiden Brasil pada 25 Oktober 2026. Senator yang merupakan putra mantan Presiden Jair Bolsonaro itu kalah dari Lula, yang berhasil mempertahankan posisinya dan memperoleh masa jabatan keempat yang tidak berlangsung berturut-turut.
Berdasarkan hasil resmi otoritas pemilu Brasil, Lula meraih 51,79 persen suara sah atau sekitar 64,26 juta suara. Flávio memperoleh 48,21 persen atau sekitar 59,83 juta suara. Hasil tersebut membalikkan keunggulan Flávio pada putaran pertama, ketika ia memperoleh 47,03 persen suara, sedangkan Lula meraih 45,16 persen.
Kemenangan Lula memperlihatkan bahwa keunggulan pada putaran pertama belum tentu bertahan hingga pemungutan suara terakhir. Dalam sistem pemilihan dua putaran, kandidat perlu memperluas dukungan di luar basis pemilih awalnya untuk memperoleh mayoritas pada putaran berikutnya.
Persaingan di Brasil juga berlangsung di tengah polarisasi politik antara kelompok kiri dan kanan. Lula mengusung keberlanjutan pemerintahannya, sedangkan Flávio berupaya menghidupkan kembali pengaruh politik keluarga Bolsonaro. Trump memiliki kedekatan politik dengan keluarga tersebut dan sebelumnya mendukung Jair Bolsonaro dalam pemilihan presiden Brasil 2022.
Meski menang, Lula masih menghadapi tantangan besar. Komposisi Kongres Brasil yang cenderung konservatif berpotensi menyulitkan pemerintahannya dalam menjalankan agenda legislasi dan kebijakan ekonomi. Sementara itu, Flávio menyatakan akan menggugat hasil pemilu, meskipun otoritas pemilu telah mengumumkan kemenangan Lula.
Dua hasil pemilu tersebut menunjukkan bahwa dukungan dari pemimpin negara lain dapat memperkuat posisi politik seorang kandidat, tetapi tidak menggantikan dukungan pemilih di dalam negeri. Pengaruh internasional tetap berhadapan dengan persoalan lokal, rekam jejak pemerintahan, dan penilaian masyarakat terhadap calon pemimpin mereka.
Punya keberatan terhadap pemberitaan ini? Ajukan Hak Jawab