Kejayaan 5 Kesultanan Islam di Sumatera Sebelum Kemerdekaan
Jejak Peradaban Kesultanan Sumatera Mengubah Wajah Nusantara. Intip profil singkat 5 kesultanan Islam legendaris di Pulau Sumatera dan peninggalan sejarahnya.
Sejarah Kesultanan Perlak (Peureulak) — Foto: CNN Indonesia
RUNTUT.COM– Pulau Sumatera memiliki sejarah panjang sebagai pusat peradaban, perdagangan, maritim, dan penyebaran agama di Nusantara sebelum kemerdekaan Indonesia. Kerajaan-kerajaan di Sumatera terbagi ke dalam beberapa fase, yaitu periode klasik (Hindu-Budha) dan periode Islam (Kesultanan).
Berikut adalah profil singkat kerajaan-kerajaan utama di Sumatera bercorak Islam.
1. Kesultanan Perlak (Peureulak)
Kesultanan Perlak berdiri pada 840 M (1 Muharram 225 H) di bawah pimpinan Sultan Alaiddin Syed Maulana Abdul Aziz Shah, dengan ibu kota bertempat di Bandar Khalifah.
Kerajaan ini berkembang menjadi pelabuhan niaga internasional strategis yang ramai disinggahi pedagang Arab, Persia, dan India berkat komoditas utama kayu perlak dan lada, serta telah mempergunakan mata uang dirham sendiri.
Selain sebagai pusat perdagangan, Perlak tumbuh pesat sebagai pusat pendidikan dan dakwah Islam.
Perlak sempat mengalami perpecahan internal antara kelompok Syiah (Perlak Baroh) dan Sunni (Perlak Tunong), serta pernah mendapat serangan dari Kerajaan Sriwijaya (986–1006 M) sebelum akhirnya bersatu kembali.
Kedaulatan Perlak resmi berakhir pada 1292 M setelah wafatnya raja terakhir, Sultan Makhdum Alaiddin Malik Abdul Aziz Johan Berdaulat, hingga akhirnya wilayah Perlak menyatu dengan Kerajaan Samudera Pasai melalui aliansi politik dan pernikahan.
sejarah Kesultanan Samudera Pasai — foto: Gramedia
2. Samudera Pasai
Kerajaan Samudera Pasai didirikan sekitar tahun 1267 M oleh Meurah Silu (Sultan Malik al-Saleh). Berlokasi strategis di Selat Malaka, kerajaan ini berkembang pesat menggantikan Sriwijaya dan dicatat oleh penjelajah dunia seperti Marco Polo (1292 M) serta Ibnu Batutah (1345 M).
Puncak kejayaannya dicapai di bawah Sultan Mahmud Malik al-Zahir dan Sultanah Nahrisyah (1406–1428 M).
Pasai menjadi bandar transit internasional yang mengekspor lada, sutra, dan emas menggunakan mata uang koin emas (dirham), sekaligus menjadi pusat studi dan penyebaran Islam bermazhab Syafi'i.
Kemunduran Pasai dipicu perselisihan internal, serangan Majapahit, pesatnya Kesultanan Malaka, serta invasi Portugis pada 1521 M.
Kedaulatan Pasai berakhir pada 1524 M setelah dilebur ke dalam Kesultanan Aceh Darussalam oleh Sultan Ali Mughayat Syah.
Peninggalan utamanya meliputi Makam Sultan Malik al-Saleh, koin dirham, Lonceng Cakra Donya, dan Hikayat Raja-raja Pasai.
sejarah Kesultanan Palembang Darussalam — foto:detikcom
Berawal dari Kerajaan Palembang (1547) yang didirikan oleh Ki Gede Ing Suro (bangsawan Demak), wilayah ini bertransformasi menjadi Kesultanan Palembang Darussalam pada 1659 di bawah Sultan Sri Susuhunan Abdurrahman.
Pada abad ke-17 hingga 18, Palembang mencapai puncak kejayaannya sebagai pusat perdagangan internasional (komoditas timah dan lada) serta pusat studi Islam—dilengkapi figur Sultan ternama seperti Sultan Mahmud Badaruddin II dan ulama Syekh Abdus Samad Al-Falimbani.
Perlawanan sengit Palembang melawan monopoli kolonial berakhir setelah kalah dari Belanda pada 1821.
Kesultanan resmi dibubarkan Belanda pada 7 Oktober 1823. Peninggalan utamanya meliputi Masjid Agung Palembang, Benteng Kuto Besak, dan Rumah Limas.
4. Kesultanan Siak Sri Indrapura
sejarah Kesultanan Siak Sri Indrapura — foto: CNN Indonesia
Kesultanan Siak didirikan pada 1723 M oleh Sultan Abdul Jalil Rahmat Syah (Raja Kecil), putra Sultan Johor.
Siak tumbuh menjadi kekuatan maritim utama di Selat Malaka yang menguasai perdagangan lada dan hasil hutan, mencapai kejayaan di bawah Sultan Syarif Ali hingga Sultan Syarif Hasyim sebelum akhirnya ditekan Belanda lewat Traktat Siak 1858.
Pasca-Proklamasi 1945, sultan terakhir, Sultan Syarif Kasim II, mengambil langkah bersejarah dengan menyerahkan kedaulatan dan harta kerajaan untuk bergabung dengan Republik Indonesia (dianugerahi pahlawan nasional).
Peninggalan utamanya yang megah adalah Istana Siak Sri Indrapura (1889) berarsitektur Melayu-Arab-Eropa.
sejarah Kesultanan Aceh Darussalam — foto: detikcom
Kesultanan Aceh Darussalam didirikan oleh Sultan Ali Mughayat Syah pada tahun 1496 setelah menaklukkan Kerajaan Lamuri dan menggantikan peran penting Samudera Pasai di Selat Malaka.
Aceh mencapai puncak keemasannya di bawah pimpinan Sultan Iskandar Muda (1607–1636). Wilayahnya meluas hingga mencakup pesisir Sumatra dan Semenanjung Malaya (Pahang, Kedah, Johor).
Sebagai penguasa perdagangan lada internasional, Aceh memiliki militer yang kuat, bersekutu dengan Kesultanan Utsmaniyah (Turki), serta dijuluki "Serambi Mekkah" sebagai pusat penyebaran Islam dan lahirnya ulama besar seperti Syekh Abdur Rauf Singkil dan Hamzah Fansuri.
Pasca-Sultan Iskandar Muda, Aceh melemah akibat konflik internal perebutan takhta.
Tekanan kolonial memicu Perang Aceh (1873) hingga akhirnya kesultanan ini runtuh setelah sultan terakhir, Sultan Muhammad Daud Syah, menyerah kepada Belanda pada Januari 1903.
Peninggalan utamanya yang bersejarah meliputi Masjid Raya Baiturrahman, Taman Sari Gunongan, Benteng Indra Patra, dan koin emas deureuham (dirham).