Mojokerto Dolanan bukan sekadar acara bermain permainan tradisional. Di balik kegiatan ini, ada keresahan sosial tentang anak muda, gadget, kesepian, dan hilangnya ruang berkumpul yang sehat.

Putri, penanggung jawab acara Mojokerto Dolanan, menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan event rutin dari komunitas Infinithread Mojokerto. Komunitas tersebut menjadi wadah kreativitas bagi warga Mojokerto dan sekitarnya, tanpa batas usia. Di dalamnya ada content creator, affiliate, entrepreneur, pelaku UMKM, dan berbagai latar belakang lain.

“Mojokerto Dolanan adalah event rutinan yang diadakan oleh komunitas Infinithread Mojokerto. Setiap bulan akan ada event Mojokerto Dolanan, jadi Mojokerto Dolanan akan berseri,” kata Putri.

Kegiatan ini mulai berjalan sejak April 2026 melalui Vol.01, kemudian berlanjut ke Vol.02 dengan tema Back to Retro pada Mei 2026. Menurut Putri, salah satu dasar terbentuknya Mojokerto Dolanan adalah keresahan tim Infinithread melihat krisis identitas di kalangan anak muda.

“Kami merasa anak-anak muda memang butuh teman, butuh wadah untuk bercerita, sharing, dan meluapkan apa yang mereka rasakan,” ujarnya.

Selain soal ruang sosial anak muda, Mojokerto Dolanan juga lahir dari keresahan terhadap permainan tradisional yang semakin jarang dimainkan. Putri menilai anak-anak hari ini lebih banyak bermain secara individual melalui gadget. Mereka tetap bisa berinteraksi secara digital, tetapi kehilangan pengalaman bermain langsung bersama teman di dunia nyata.

“Banyak adik-adik atau teman-teman bermain, tapi lebih ke individu. Mereka lebih asyik dengan gadgetnya, jadi lupa kalau mereka juga punya teman di dunia nyata yang seru,” kata Putri.

Dari sinilah Mojokerto Dolanan mengambil peran sebagai jembatan. Kegiatan ini tidak menolak perkembangan digital, tetapi ingin menyeimbangkannya dengan kebudayaan lokal dan permainan tradisional.

Putri menyebut kondisi permainan tradisional saat ini sudah sangat krisis. Menurutnya, permainan seperti kelereng, gobak sodor, engklek, gasing, dan lompat tali semakin jarang ditemukan dalam kehidupan anak-anak.

“Permainan tradisional anak-anak saat ini sangat krisis. Kita jarang sekali melihat anak bermain kelereng, gobak sodor, dan lain sebagainya. Hampir tidak ada,” katanya.

Bagi Mojokerto Dolanan, permainan tradisional bukan hanya urusan nostalgia. Di dalam dolanan, ada nilai sosial yang kuat: anak belajar berkenalan, bekerja sama, menjaga sportivitas, menerima menang-kalah, dan berani berinteraksi langsung.

“Di sini tidak ada menang atau kalah. Yang penting kita bermain, seru, happy, saling mengenal, dan saling berinteraksi,” ujar Putri.

Kegiatan ini juga ingin menghidupkan kembali memori kolektif orang tua. Putri melihat, banyak orang tua dan anak hari ini sama-sama sibuk. Orang tua sibuk bekerja, anak sibuk sekolah, les, dan kegiatan lain. Melalui dolanan, orang tua dan anak bisa kembali membangun kedekatan emosional.

“Ini salah satu cara orang tua komunikasi dengan anaknya. Orang tua punya cerita, anak juga merasa senang. Bisa menghangatkan lagi suasana di rumah,” katanya.

Mojokerto Dolanan akhirnya menjadi ruang sosial yang lebih luas dari sekadar event. Ia ingin merawat budaya, mengurangi jarak sosial, menghidupkan ruang publik, mendukung UMKM, dan memperkenalkan Mojokerto sebagai kota yang punya kreativitas komunitas.

Harapan Putri, Mojokerto Dolanan dapat semakin dikenal, bukan hanya di Mojokerto, tetapi juga di luar daerah. Ia ingin Mojokerto tidak hanya dikenal sebagai kota onde-onde, tetapi juga sebagai kota yang punya ruang bermain dan budaya komunitas yang hidup.