Runtut.com

Dari Nongkrong Digital hingga Konten Mabuk: Membaca Fenomena Marapthon Reza Arap

Marapthon Reza Arap menjadi fenomena live streaming panjang yang ramai ditonton. Mengapa banyak orang betah menyaksikan, mendukung, bahkan memaklumi konten.

3 menit baca
8
Dari Nongkrong Digital hingga Konten Mabuk: Membaca Fenomena Marapthon Reza Arap
Marapthon: The Last Tale disebut berlangsung sejak 8 Februari 2026 dan dijadwalkan berakhir pada 20 Mei 2026, dengan durasi 101 hari penayangan nonstop. — Foto: Instagram/weareaaaclan

Marapthon Reza Arap bukan sekadar siaran langsung biasa. Ia menjadi salah satu fenomena hiburan digital yang memperlihatkan perubahan besar dalam cara masyarakat Indonesia menonton, berinteraksi, dan merasa terhubung dengan figur publik.

Program ini mengusung format live streaming maraton. Situs resmi Marapthon menyebut musim ketiga bertajuk The Last Tale menampilkan sembilan anggota AAA Clan, 18 mini games interaktif, panggilan video bersama penonton, dan pengalaman streaming langsung di kanal Reza Arap.

Dalam laporan detikPop, Marapthon: The Last Tale disebut berlangsung sejak 8 Februari 2026 dan dijadwalkan berakhir pada 20 Mei 2026, dengan durasi 101 hari penayangan nonstop.

Pertanyaannya, mengapa banyak orang betah menonton siaran seperti ini berjam-jam?

Jawabannya tidak hanya soal Reza Arap sebagai figur populer. Marapthon bekerja seperti “tongkrongan digital”. Penonton tidak selalu datang untuk mencari alur cerita yang jelas. Mereka datang untuk merasakan suasana: obrolan spontan, candaan, konflik kecil, interaksi dengan penonton, momen absurd, dan kedekatan semu dengan kreator.

Di era ketika banyak orang merasa kesepian meski terhubung internet, live streaming seperti Marapthon memberi rasa hadir. Penonton bisa merasa seperti sedang duduk di ruangan yang sama, mengikuti percakapan yang tidak selalu penting, tetapi terasa hidup.

Di sisi positif, Marapthon menunjukkan kemampuan kreator Indonesia membangun format hiburan baru. Tidak lagi hanya video pendek, vlog, atau podcast, tetapi pengalaman panjang yang interaktif. Format ini juga membuka ruang komunitas: penonton saling mengenal, membuat potongan klip, membahas momen tertentu, dan ikut menjadi bagian dari ekosistem konten.

Namun, di sisi lain, Marapthon juga menghadirkan pertanyaan etis. Sebagian penonton menyoroti momen yang dipersepsikan menampilkan kondisi mabuk atau konsumsi alkohol. Bagi sebagian orang, itu dianggap bagian dari spontanitas hiburan orang dewasa. Bagi yang lain, hal tersebut menimbulkan kekhawatiran: apakah perilaku seperti itu sedang dinormalisasi di hadapan penonton muda?

Di sinilah wilayah abu-abu muncul.

Secara platform, konten konsumsi alkohol tidak selalu otomatis melanggar aturan. YouTube memiliki kebijakan berbeda antara konten yang menjual barang diatur, konten berbahaya, dan konten yang mungkin dibatasi untuk iklan atau usia tertentu. YouTube menyatakan konten live stream tetap harus mematuhi Community Guidelines. YouTube juga melarang konten yang dimaksudkan untuk menjual barang atau layanan tertentu yang diatur, termasuk dalam kategori regulated goods, dengan pengecualian untuk konteks edukatif, dokumenter, ilmiah, atau artistik.

Dengan kata lain, “aman” di platform belum tentu berarti bebas dari pertanyaan sosial. Sesuatu bisa saja tidak langsung melanggar aturan, tetapi tetap layak dikritisi jika berpotensi memengaruhi perilaku penonton, terutama remaja.

Marapthon akhirnya menjadi cermin budaya digital hari ini. Penonton tidak hanya ingin hiburan yang rapi. Mereka justru tertarik pada yang mentah, spontan, tidak terduga, dan terasa “real”. Semakin tidak disutradarai, semakin terasa jujur. Semakin kacau, semakin mudah dipotong menjadi klip viral.

Itulah kekuatan sekaligus risikonya.

Marapthon berhasil membangun rasa kebersamaan. Tetapi ia juga menunjukkan betapa tipis batas antara hiburan, ekspos kehidupan pribadi, normalisasi perilaku bermasalah, dan ekonomi perhatian.

Pada akhirnya, fenomena ini bukan hanya tentang Reza Arap. Ini tentang masyarakat digital yang semakin betah menonton kehidupan orang lain secara langsung, terus-menerus, dan kadang tanpa tahu kapan harus berhenti.

Punya keberatan terhadap pemberitaan ini? Ajukan Hak Jawab

Komentar

Email tidak akan dipublikasikan. Komentar dimoderasi sebelum tampil.

Memuat komentar...

Artikel Terkait

Lihat semua
KKN Kelompok 17 dan Program PKM Resmi Selesai, Tutup Rangkaian Pengabdian di Desa Gempol Sari
Sosial Budaya

KKN Kelompok 17 dan Program PKM Resmi Selesai, Tutup Rangkaian Pengabdian di Desa Gempol Sari

Artikel ini membahas berakhirnya kegiatan KKN dan Program Pemberdayaan Masyarakat (PKM) Kelompok 17 di Desa Gempol Sari, Kecamatan Sepatan Timur, pada

Naira Khairani Aryadi· 5 hari lalu
RE COMIC Season 6 Buka Kesempatan bagi Komika Umum, Simak Syarat Pendaftaran dan Jadwalnya
Sosial Budaya

RE COMIC Season 6 Buka Kesempatan bagi Komika Umum, Simak Syarat Pendaftaran dan Jadwalnya

Standupindo Cilegon membuka kesempatan bagi komika baru dengan total hadiah mencapai jutaan rupiah.

Rachmaddani Rizki Saputra· 3 minggu lalu
Seniman Bersatu Gelar Aksi di Balai Kota DKI: Suarakan TRITURA FPS-TIM, Tolak Komersialisasi Taman Ismail Marzuki oleh Jakpro
Sosial Budaya

Seniman Bersatu Gelar Aksi di Balai Kota DKI: Suarakan TRITURA FPS-TIM, Tolak Komersialisasi Taman Ismail Marzuki oleh Jakpro

Seniman FPS-TIM menggelar aksi di Balai Kota dan DPRD DKI menolak komersialisasi TIM oleh Jakpro, menyerukan pemulihan marwah dan fungsi kebudayaan.

Mila Nabilah· 12 Agustus 2026
Paduan Suara SMAN 15 Surabaya Cetak Prestasi 2 Medali Emas di Ajang Internasional
Sosial Budaya

Paduan Suara SMAN 15 Surabaya Cetak Prestasi 2 Medali Emas di Ajang Internasional

Paduan Suara SMAN 15 Surabaya meraih 2 medali emas di ajang internasional. Prestasi Libels Voice mengharumkan nama Indonesia di Taiwan.

Betriani · 5 Agustus 2026
Jembatan Enang-Enang hingga Restorasi Hutan, Kiprah Partisipatoris Jerhemy Owen di Aceh
Sosial Budaya

Jembatan Enang-Enang hingga Restorasi Hutan, Kiprah Partisipatoris Jerhemy Owen di Aceh

Dari Jembatan Enang-Enang hingga pemulihan hutan Aceh Tamiang, Jerhemy Owen mengajak masyarakat berkolaborasi dalam aksi nyata menjaga lingkungan.

Mila Nabilah· 6 Juli 2026
Fenomena Gen Z Membawa Orang Tua Saat Wawancara Kerja
Sosial Budaya

Fenomena Gen Z Membawa Orang Tua Saat Wawancara Kerja

Fenomena Generasi Z yang membawa orang tua saat wawancara kerja atau dikenal dengan istilah career co-piloting menjadi sorotan publik pada tahun 2026.

Firza Syalia Ghaisani· 2 Juli 2026