Runtut.com
Pop CultureBreaking News

Rumah Berhantu Kian Diminati Anak Muda di Jepang, Apa Penyebabnya?

Rumah berstigma di Jepang diburu pembeli karena harganya bisa turun hingga 50 persen. Simak faktor di balik fenomena jiko bukken.

3 menit baca
1
Runtut.com
Sejumlah pembeli di Jepang mempertimbangkan properti berstigma sebagai alternatif hunian terjangkau. Diskon besar menjadi daya tarik di tengah kenaikan harga rumah dan biaya hidup. — Getty Images/@Behrouz Mehri

JEPANG—Stigma rumah berhantu di Jepang dapat menurunkan harga properti hingga separuh dari nilai pasarnya. Kondisi ini dimanfaatkan sebagian pembeli untuk memperoleh hunian dengan harga lebih terjangkau, meskipun bangunan tersebut memiliki riwayat kematian atau kejadian tragis.

Fenomena ini dikenal dengan istilah jiko bukken, yaitu properti yang memiliki stigma karena peristiwa tertentu, seperti bunuh diri, pembunuhan, atau kematian penghuni yang baru diketahui setelah beberapa waktu.

Di tengah kenaikan harga rumah dan biaya hidup, properti semacam ini mulai dipertimbangkan oleh orang-orang yang lebih mengutamakan keterjangkauan daripada reputasi bangunan.

Salah satu contohnya adalah Ryua, seorang penghibur muda yang menyewa apartemen seluas 25 meter persegi di Setagaya, Tokyo. Berdasarkan laporan BBC News Indonesia pada 30 Oktober 2026, ia membayar sewa 45.000 yen per bulan, lebih rendah daripada tarif normal sebesar 62.000 yen. Selisih tersebut mencapai sekitar 27 persen.

Ryua mengaku mengetahui bahwa seorang pria pernah meninggal akibat bunuh diri di apartemen itu. Ia juga meyakini pernah melihat sosok yang dianggapnya sebagai hantu ketika pertama kali mengunjungi tempat tersebut. Pengalaman itu merupakan pengakuan pribadi, bukan bukti bahwa fenomena supranatural benar-benar terjadi.

Contoh lain datang dari Diane Tincher, warga Amerika Serikat berusia 79 tahun yang telah tinggal di Jepang selama hampir empat dekade. Ia membeli rumah dengan tiga kamar tidur di Kagoshima seharga 20 juta yen.

Menurut laporan BBC, properti serupa di kawasan tersebut dapat mencapai harga 45 juta yen. Artinya, harga rumah yang dibelinya kurang dari separuh pembanding tersebut.

Tincher mengetahui riwayat rumah itu dari agen properti sebelum transaksi. Ia kemudian menemukan Oshimaland, situs yang memuat informasi mengenai properti berstigma di Jepang. Situs tersebut mengandalkan kontribusi pengguna untuk mencatat lokasi dan riwayat kejadian yang berkaitan dengan bangunan tertentu.

Keberadaan informasi tersebut berkaitan dengan karakter pasar properti Jepang. Riwayat kematian di suatu bangunan dapat memengaruhi keputusan calon pembeli atau penyewa. Sejumlah orang menghindari hunian yang pernah menjadi lokasi kejadian tragis karena alasan kepercayaan, kenyamanan psikologis, atau kekhawatiran terhadap pandangan sosial.

Di sisi lain, stigma itu menjadi pertimbangan harga bagi pemilik yang ingin menjual atau menyewakan propertinya. Diskon dapat membuka peluang bagi pembeli dengan anggaran terbatas, tetapi besarnya potongan bergantung pada kondisi bangunan, lokasi, dan riwayat kejadian. Harga murah juga tidak otomatis menjamin properti tersebut layak huni.

Fenomena ini memperlihatkan bahwa nilai sebuah rumah dibentuk oleh lebih dari sekadar luas bangunan dan lokasi. Riwayat properti, persepsi masyarakat, serta kemampuan ekonomi calon penghuni turut menentukan daya tariknya.

Bagi pembeli, keputusan mengambil hunian berstigma tetap perlu didasarkan pada pemeriksaan kondisi fisik, dokumen kepemilikan, dan keterbukaan informasi sebelum transaksi.

Punya keberatan terhadap pemberitaan ini? Ajukan Hak Jawab

Komentar

Email tidak akan dipublikasikan. Komentar dimoderasi sebelum tampil.

Memuat komentar...

Artikel Terkait

Lihat semua
Tren Solo Traveling Perempuan di Asia Tumbuh, Apa Pemicunya?
Pop Culture

Tren Solo Traveling Perempuan di Asia Tumbuh, Apa Pemicunya?

Solo traveling perempuan di Asia semakin diminati berkat kemandirian finansial, kebutuhan me time, dan kemudahan teknologi perjalanan.

Rani Masida· 3 hari lalu
Mendaki Gunung Makin Diminati, Aturan dan Keselamatan Tetap Diutamakan
Pop Culture

Mendaki Gunung Makin Diminati, Aturan dan Keselamatan Tetap Diutamakan

Tren mendaki gunung perlu diimbangi kepatuhan terhadap jalur resmi, persiapan keselamatan, dan tanggung jawab menjaga kebersihan serta kelestarian alam.

Muhammad Rafi Ashidiq· 5 hari lalu
Holistic Health Jadi Cara Gen Z dan Milenial Indonesia Memaknai Hidup Sehat
Pop Culture

Holistic Health Jadi Cara Gen Z dan Milenial Indonesia Memaknai Hidup Sehat

Holistic health mengubah cara pandang tentang hidup sehat, mulai dari menjaga kebugaran, mengelola stres, hingga membangun rutinitas yang lebih seimbang.

Muhammad Rafi Ashidiq· 1 minggu lalu
Mengapa Membawa Tumbler Penting untuk Mengurangi Sampah Plastik?
Pop Culture

Mengapa Membawa Tumbler Penting untuk Mengurangi Sampah Plastik?

Penggunaan tumbler semakin relevan sebagai pilihan praktis bagi masyarakat yang ingin menerapkan gaya hidup ramah lingkungan di tengah aktivitas sehari-hari.

Muhammad Rafi Ashidiq· 1 minggu lalu
Mencari Destinasi Underrated? Intip Keunikan Wisata Gili Trawangan
Pop Culture

Mencari Destinasi Underrated? Intip Keunikan Wisata Gili Trawangan

Cari pengalaman liburan berbeda? Gili Trawangan menawarkan pesona laut jernih, aktivitas seru, hingga panorama sunset dengan latar pegunungan.

Muhammad Rafi Ashidiq· 1 minggu lalu
Olahraga Komunal di Tengah Rutinitas Kerja, Padel Jadi Ruang Interaksi Pekerja
Pop Culture

Olahraga Komunal di Tengah Rutinitas Kerja, Padel Jadi Ruang Interaksi Pekerja

Olahraga komunal seperti turnamen padel menjadi pilihan pekerja untuk menjaga kebugaran, melepas penat, dan membangun relasi sosial di tengah rutinitas kerja.

Muhammad Rafi Ashidiq· 2 minggu lalu