Rumah berstigma di Jepang diburu pembeli karena harganya bisa turun hingga 50 persen. Simak faktor di balik fenomena jiko bukken.
JEPANG—Stigma rumah berhantu di Jepang dapat menurunkan harga properti hingga separuh dari nilai pasarnya. Kondisi ini dimanfaatkan sebagian pembeli untuk memperoleh hunian dengan harga lebih terjangkau, meskipun bangunan tersebut memiliki riwayat kematian atau kejadian tragis.
Fenomena ini dikenal dengan istilah jiko bukken, yaitu properti yang memiliki stigma karena peristiwa tertentu, seperti bunuh diri, pembunuhan, atau kematian penghuni yang baru diketahui setelah beberapa waktu.
Di tengah kenaikan harga rumah dan biaya hidup, properti semacam ini mulai dipertimbangkan oleh orang-orang yang lebih mengutamakan keterjangkauan daripada reputasi bangunan.
Salah satu contohnya adalah Ryua, seorang penghibur muda yang menyewa apartemen seluas 25 meter persegi di Setagaya, Tokyo. Berdasarkan laporan BBC News Indonesia pada 30 Oktober 2026, ia membayar sewa 45.000 yen per bulan, lebih rendah daripada tarif normal sebesar 62.000 yen. Selisih tersebut mencapai sekitar 27 persen.
Ryua mengaku mengetahui bahwa seorang pria pernah meninggal akibat bunuh diri di apartemen itu. Ia juga meyakini pernah melihat sosok yang dianggapnya sebagai hantu ketika pertama kali mengunjungi tempat tersebut. Pengalaman itu merupakan pengakuan pribadi, bukan bukti bahwa fenomena supranatural benar-benar terjadi.
Contoh lain datang dari Diane Tincher, warga Amerika Serikat berusia 79 tahun yang telah tinggal di Jepang selama hampir empat dekade. Ia membeli rumah dengan tiga kamar tidur di Kagoshima seharga 20 juta yen.
Menurut laporan BBC, properti serupa di kawasan tersebut dapat mencapai harga 45 juta yen. Artinya, harga rumah yang dibelinya kurang dari separuh pembanding tersebut.
Tincher mengetahui riwayat rumah itu dari agen properti sebelum transaksi. Ia kemudian menemukan Oshimaland, situs yang memuat informasi mengenai properti berstigma di Jepang. Situs tersebut mengandalkan kontribusi pengguna untuk mencatat lokasi dan riwayat kejadian yang berkaitan dengan bangunan tertentu.
Keberadaan informasi tersebut berkaitan dengan karakter pasar properti Jepang. Riwayat kematian di suatu bangunan dapat memengaruhi keputusan calon pembeli atau penyewa. Sejumlah orang menghindari hunian yang pernah menjadi lokasi kejadian tragis karena alasan kepercayaan, kenyamanan psikologis, atau kekhawatiran terhadap pandangan sosial.
Di sisi lain, stigma itu menjadi pertimbangan harga bagi pemilik yang ingin menjual atau menyewakan propertinya. Diskon dapat membuka peluang bagi pembeli dengan anggaran terbatas, tetapi besarnya potongan bergantung pada kondisi bangunan, lokasi, dan riwayat kejadian. Harga murah juga tidak otomatis menjamin properti tersebut layak huni.
Fenomena ini memperlihatkan bahwa nilai sebuah rumah dibentuk oleh lebih dari sekadar luas bangunan dan lokasi. Riwayat properti, persepsi masyarakat, serta kemampuan ekonomi calon penghuni turut menentukan daya tariknya.
Bagi pembeli, keputusan mengambil hunian berstigma tetap perlu didasarkan pada pemeriksaan kondisi fisik, dokumen kepemilikan, dan keterbukaan informasi sebelum transaksi.
Punya keberatan terhadap pemberitaan ini? Ajukan Hak Jawab