Tren mendaki gunung perlu diimbangi kepatuhan terhadap jalur resmi, persiapan keselamatan, dan tanggung jawab menjaga kebersihan serta kelestarian alam.
RUNTUT.COM - Mendaki gunung kini menjadi salah satu pilihan anak muda untuk mengisi waktu luang, mencari suasana baru, hingga menikmati pemandangan dari ketinggian. Perjalanan yang melelahkan bisa terbayar dengan udara sejuk dan panorama alam yang sulit ditemukan di tengah hiruk-pikuk perkotaan.
Namun, sebelum sibuk menyiapkan sepatu, tas carrier, dan perlengkapan untuk menikmati pemandangan, ada hal penting yang nggak boleh dilewatkan: memastikan jalur pendakian dibuka secara resmi, mempersiapkan kondisi fisik, dan memahami aturan yang berlaku. Sebab, mendaki bukan cuma soal sampai ke puncak, tetapi juga tentang menjaga keselamatan diri dan kelestarian alam.
Patuhi Jalur Pendakian yang Legal
Sebelum berangkat, calon pendaki perlu memastikan gunung yang dituju sedang dibuka untuk umum. Pendaftaran harus dilakukan melalui sistem atau pengelola resmi sesuai ketentuan kawasan, termasuk mematuhi kuota dan jadwal pendakian.
Pada 31 Agustus 2026, Kementerian Kehutanan mengumumkan pengaturan penutupan sementara dan pembukaan terbatas sejumlah jalur pendakian di kawasan konservasi. Kebijakan yang berlaku mulai 1 September 2026 tersebut diterapkan untuk mengantisipasi risiko kebakaran hutan dan lahan selama musim kemarau.
Dalam kebijakan itu, pendakian di Taman Nasional Gunung Gede Pangrango termasuk yang ditutup sementara, sedangkan beberapa kawasan lain, seperti Taman Nasional Gunung Rinjani, menerapkan pembukaan terbatas dengan pengawasan tambahan.
Kebijakan tersebut menunjukkan bahwa status pendakian bisa berubah mengikuti kondisi alam. Karena itu, pendaki perlu memeriksa informasi terbaru dari pengelola dan tidak memaksakan perjalanan ketika jalur masih ditutup.
Bawa Sampah Saat Turun
Selain mematuhi jalur resmi, menjaga kebersihan kawasan juga menjadi tanggung jawab setiap pendaki. Bungkus makanan, botol plastik, dan sampah lainnya yang ditinggalkan dapat merusak keindahan kawasan serta mengganggu ekosistem.
Pada Juli 2026, Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango kembali mengingatkan pendaki agar tidak membuang sampah sembarangan maupun menyalakan api di kawasan taman nasional. Imbauan itu muncul setelah tumpukan sampah di Alun-alun Suryakancana menjadi sorotan di media sosial.
Pengelola juga menegaskan bahwa pelanggaran, termasuk membuang sampah, menyalakan api, dan mencemari lingkungan, dapat dikenai sanksi sesuai tingkat kesalahannya.
Pendaki sebaiknya membawa kantong khusus sampah dan memastikan seluruh sampah yang dihasilkan selama perjalanan dibawa kembali turun. Jangan meninggalkan sampah dengan alasan akan dibersihkan petugas atau pendaki lain.
Nekat Mendaki Ilegal Bisa Kena Sanksi
Pelanggaran aturan pendakian juga dapat berujung pada sanksi administratif. Pada Oktober 2025, Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango menindak 36 pendaki ilegal yang memasuki kawasan saat jalur masih ditutup untuk pemulihan ekosistem.
Berdasarkan laporan ANTARA, para pendaki tersebut diwajibkan membayar biaya lima kali lipat dari tarif resmi dan membuat video permintaan maaf di media sosial. Pengelola juga menyebut pelanggaran tertentu dapat berujung pada larangan mendaki selama dua hingga lima tahun, bergantung pada jenis kesalahannya.
Kasus tersebut menjadi pengingat bahwa jalur tidak resmi bukan jalan pintas yang bisa dianggap sepele. Pendaki ilegal juga berisiko tidak tercatat dalam sistem registrasi, sehingga keberadaan mereka lebih sulit dipantau apabila terjadi keadaan darurat.
Karena itu, calon pendaki sebaiknya tidak tergoda tawaran jalur alternatif dari pihak yang tidak berwenang, terutama ketika jalur resmi sedang ditutup.
Persiapan Fisik dan Perlengkapan Tetap Penting
Keselamatan pendakian perlu dipersiapkan sejak sebelum perjalanan dimulai. Pendaki sebaiknya menyesuaikan pilihan gunung dan jalur dengan kemampuan fisik, membawa perlengkapan yang memadai, serta menyiapkan persediaan air minum dan makanan.
Memeriksa prakiraan cuaca juga penting agar pendaki dapat mengantisipasi perubahan kondisi di lapangan. Jika tubuh mulai kelelahan, cuaca memburuk, atau situasi tidak lagi aman, jangan memaksakan diri hanya demi mencapai puncak.
Pendaki juga perlu mengikuti arahan petugas, menjaga sumber air, tidak merusak vegetasi, serta menghindari aktivitas yang dapat memicu kebakaran. Hal-hal tersebut menjadi bagian dari tanggung jawab bersama untuk menjaga kawasan pendakian tetap aman dan lestari.
Menikmati Alam dengan Bertanggung Jawab
Mendaki gunung dapat menjadi cara untuk melepas penat sekaligus mendapatkan pengalaman baru. Namun, kegiatan ini tidak hanya berkaitan dengan keberhasilan mencapai puncak, tetapi juga dengan cara pendaki menjaga keselamatan dan lingkungan sepanjang perjalanan.
Menggunakan jalur resmi, mematuhi ketentuan pengelola, membawa turun sampah, dan mempersiapkan perjalanan dengan baik merupakan bagian penting dari pendakian yang bertanggung jawab.
Pada akhirnya, pengalaman mendaki yang baik bukan hanya tentang pemandangan yang didapatkan, melainkan juga tentang memastikan alam tetap terjaga dan setiap orang dapat pulang dengan selamat.
Punya keberatan terhadap pemberitaan ini? Ajukan Hak Jawab