Runtut.com

DPR Targetkan UU Perampasan Aset Disahkan Desember 2026, Dasco Siap Mundur Jika Gagal

DPR menargetkan pengesahan RUU Perampasan Aset pada Desember 2026. Regulasi ini mengatur mekanisme perampasan aset terkait tindak pidana.

3 menit baca
5
Runtut.com
Rapat paripurna DPR RI membahas agenda legislasi nasional, termasuk komitmen penyelesaian RUU Perampasan Aset yang ditargetkan rampung pada 2026. — Instagram/@andre_rosiade

JAKARTA — Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) memastikan Rancangan Undang-Undang (RUU) Perampasan Aset akan disahkan paling lambat 15 Desember 2026. Kepastian tersebut disampaikan dalam rapat paripurna DPR, Kamis (27/8/2026), setelah pimpinan parlemen menyatakan komitmen penyelesaian regulasi yang telah lama masuk dalam agenda pembentukan hukum nasional.

Wakil Ketua DPR Sufmi Dasco Ahmad menyampaikan target waktu tersebut berdasarkan kalender kerja DPR RI. Pernyataan itu mendapat persetujuan peserta rapat paripurna.

“Menurut Kalender DPR RI paling lambat tanggal 15 Desember 2026, apakah dapat disetujui?” ujar Dasco dalam rapat tersebut.

Ketua Komisi III DPR Habiburokhman menjelaskan pembahasan RUU Perampasan Aset membutuhkan waktu panjang karena regulasi tersebut merupakan aturan baru secara substansi, bukan sekadar revisi dari undang-undang yang sudah ada.

Proses penyusunan telah dimulai sejak 16 September 2025 setelah Komisi III menugaskan Badan Keahlian DPR menyusun naskah akademik dan rancangan awal beleid tersebut.

Dalam proses pembahasan, Komisi III DPR mengaku telah melibatkan berbagai pihak untuk memberikan masukan. Sebanyak 50 narasumber telah dipanggil dalam penyusunan draf RUU tersebut.

Selain itu, anggota Komisi III juga melakukan kunjungan kerja ke tiga daerah serta menyerap aspirasi masyarakat melalui kunjungan ke daerah pemilihan masing-masing.

Runtut.com
Wakil Ketua DPR RI Sufmi Dasco Ahmad menyampaikan keputusan terkait target penyelesaian RUU Perampasan Aset dalam rapat paripurna di Gedung DPR RI, Jakarta. — Instagram/@andre_rosiade

Habiburokhman mengatakan urgensi pembentukan UU Perampasan Aset berkaitan dengan sejumlah persoalan dalam mekanisme pengelolaan aset hasil tindak pidana.

Beberapa persoalan yang ditemukan antara lain rendahnya tingkat pemulihan kerugian negara, keterbatasan cakupan aset yang dapat dirampas, perbedaan prosedur penanganan, hingga tata kelola aset sitaan yang dinilai belum optimal.

Menurut dia, berdasarkan data yang diterima DPR, pengembalian kerugian negara dari perkara tindak pidana korupsi masih berada di angka sekitar 20 persen dibandingkan nilai kerugian riil.

Dalam draf RUU tersebut, aset yang dapat menjadi objek perampasan mencakup aset hasil tindak pidana, aset yang digunakan sebagai alat atau sarana melakukan tindak pidana, aset temuan yang diketahui berasal dari tindak pidana, serta aset pengganti kerugian.

RUU itu juga mengatur dua mekanisme perampasan aset. Pertama, perampasan berdasarkan putusan pidana terhadap pelaku tindak pidana atau in personam. Kedua, perampasan aset tanpa bergantung pada putusan pidana terhadap pelaku atau in rem.

Di sisi lain, pernyataan target pengesahan tersebut muncul setelah adanya tuntutan dari Aliansi Masyarakat Pati Bersatu (AMPB) yang meminta DPR segera mengesahkan RUU Perampasan Aset. Kelompok tersebut juga meminta pimpinan DPR bertanggung jawab apabila aturan tersebut tidak selesai sesuai tenggat.

Menanggapi tuntutan itu, Dasco menyatakan dirinya bersama pimpinan DPR lainnya siap mundur apabila RUU Perampasan Aset tidak disahkan hingga 15 Desember 2026. Ia meminta masyarakat tidak meragukan komitmen DPR dalam menyelesaikan pembahasan regulasi tersebut.

Tahapan berikutnya, DPR akan melakukan rapat kerja dengan pemerintah, harmonisasi, pembahasan daftar inventarisasi masalah (DIM), hingga pengambilan keputusan tingkat pertama dan kedua melalui rapat paripurna pada Desember 2026.

Punya keberatan terhadap pemberitaan ini? Ajukan Hak Jawab

Komentar

Email tidak akan dipublikasikan. Komentar dimoderasi sebelum tampil.

Memuat komentar...

Artikel Terkait

Lihat semua
KMP Batumandi Terbakar, 460 Penumpang dan Kru Selamat
Nasional

KMP Batumandi Terbakar, 460 Penumpang dan Kru Selamat

Kapal Motor Penumpang (KMP) Batumandi milik PT ASDP terbakar saat hendak bersandar di Dermaga VI Pelabuhan Merak, Banten. 460 jiwa dengan selamat.

Lusianti Dwi Cahyani· 6 hari lalu
Kebakaran di Gunung Sumbing Kian Meluas, Pemadaman Api Terkendala Medan Terjal
Nasional

Kebakaran di Gunung Sumbing Kian Meluas, Pemadaman Api Terkendala Medan Terjal

Kebakaran di Gunung Sumbing makin meluas. Terjalnya medan di gunung, keterbatasan sumber air, serta sulitnya akses menjadi kendala utama yang dialami petugas.

Nurul Hidayah· 6 hari lalu
Pemerintah Respons Aksi Greenpeace dan Aspirasi Mahasiswa, Siapkan Stimulus Rp26,34 Triliun untuk Tekan Biaya Hidup
Nasional

Pemerintah Respons Aksi Greenpeace dan Aspirasi Mahasiswa, Siapkan Stimulus Rp26,34 Triliun untuk Tekan Biaya Hidup

Pemerintah merespons kritik Greenpeace soal krisis iklim dan biaya hidup serta lima tuntutan mahasiswa terkait lingkungan, ekonomi, demokrasi, dan pendidikan.

Rachmaddani Rizki Saputra· 6 hari lalu
Dua Tahun Pemerintahan Prabowo-Gibran, Demo Mahasiswa di Tugu Tani Soroti Isu Karhutla hingga Biaya Pendidikan
Nasional

Dua Tahun Pemerintahan Prabowo-Gibran, Demo Mahasiswa di Tugu Tani Soroti Isu Karhutla hingga Biaya Pendidikan

Dua tahun pemerintahan Prabowo-Gibran diwarnai aksi mahasiswa di Jakarta suarakan lima tuntutan terkait lingkungan, ekonomi, dan pendidikan.

Rachmaddani Rizki Saputra· 6 hari lalu
Krisis Iklim dan Biaya Hidup Jadi Pesan Utama Aksi Greenpeace di Bundaran HI
Nasional

Krisis Iklim dan Biaya Hidup Jadi Pesan Utama Aksi Greenpeace di Bundaran HI

Greenpeace Indonesia bentangkan dua spanduk raksasa di Bundaran HI dan mengajak warga mengirim karangan bunga digital untuk menyuarakan krisis iklim.

Rachmaddani Rizki Saputra· 6 hari lalu
Delapan Jam Diperiksa, Enam Aktivis Greenpeace Dibebaskan Usai Aksi di Bundaran HI
Nasional

Delapan Jam Diperiksa, Enam Aktivis Greenpeace Dibebaskan Usai Aksi di Bundaran HI

Panjat Monumen Bundaran HI, Greenpeace bongkar fakta mengejutkan: 41% warga tertekan akibat harga pangan melonjak gara-gara krisis iklim!

Lusianti Dwi Cahyani· 1 minggu lalu