Runtut.com

DPR Temui Massa AMPB, Targetkan RUU Perampasan Aset Disahkan Desember 2026

DPR menemui massa AMPB dan menyampaikan komitmen pengesahan RUU Perampasan Aset paling lambat 15 Desember 2026.

2 menit baca
4
Runtut.com
Anggota DPR RI Andre Rosiade menyampaikan hasil audiensi kepada massa Aliansi Masyarakat Pati Bersatu di depan Gedung DPR RI, Jakarta. — Instagram/@andre_rosiade

JAKARTA — Sejumlah anggota DPR RI menemui massa Aliansi Masyarakat Pati Bersatu (AMPB) yang menggelar aksi di depan Gedung DPR RI, Jakarta, Kamis (27/8/2026). Dalam pertemuan tersebut, DPR menyampaikan komitmen untuk menyelesaikan pembahasan Rancangan Undang-Undang (RUU) Perampasan Aset dan menargetkan pengesahannya paling lambat 15 Desember 2026.

Anggota Badan Aspirasi Masyarakat (BAM) DPR RI yang menemui massa aksi di antaranya Wakil Ketua Komisi VI DPR Andre Rosiade, Anggota Komisi XIII DPR Rieke Diah Pitaloka, serta Anggota Komisi II DPR Ahmad Heryawan. Mereka keluar dari gedung parlemen untuk menerima aspirasi yang sebelumnya disampaikan AMPB.

Andre Rosiade kemudian menyampaikan hasil pertemuan tersebut dari atas mobil komando di hadapan massa aksi. Ia mengatakan pimpinan DPR telah menerima aspirasi AMPB dan menyepakati langkah penyelesaian RUU Perampasan Aset.

“Seluruh teman-teman tadi sudah diterima oleh pimpinan DPR. Aspirasi sudah disampaikan dan pimpinan DPR semua menandatangani,” kata Andre kepada massa aksi.

Menurut Andre, pimpinan DPR telah berkomitmen agar RUU Perampasan Aset disahkan menjadi undang-undang paling lambat pada 15 Desember 2026. Ia juga menyampaikan bahwa apabila target tersebut tidak tercapai, pimpinan DPR siap mengambil konsekuensi politik berupa pengunduran diri.

“Kalau tanggal 15 Desember 2026 Undang-Undang Perampasan Aset tidak disahkan, pimpinan DPR akan mengundurkan diri,” ujar Andre.

Sebelumnya, Koordinator AMPB Supriyono alias Botok menyampaikan hasil audiensi dengan pimpinan DPR kepada massa yang berada di luar gedung parlemen. Ia membacakan surat hasil pertemuan yang memuat komitmen DPR terhadap penyelesaian RUU Perampasan Aset.

“DPR RI berkomitmen agar pembentukan RUU Perampasan Aset harus diselesaikan paling lambat pada tanggal 15 Desember 2026!” kata Botok saat membacakan hasil audiensi.

Pernyataan tersebut mendapat respons beragam dari peserta aksi. Sebagian massa menilai tenggat waktu yang diberikan DPR masih terlalu lama dan meminta pengesahan dilakukan lebih cepat.

RUU Perampasan Aset menjadi salah satu isu yang didorong AMPB dalam aksi tersebut. Kelompok masyarakat asal Kabupaten Pati itu sebelumnya menyampaikan dua tuntutan utama, yakni percepatan pengesahan RUU Perampasan Aset serta penerapan hukuman mati bagi pelaku tindak pidana korupsi.

Dalam pembahasan sebelumnya, DPR menyebut RUU Perampasan Aset membutuhkan proses panjang karena mengatur mekanisme baru terkait penyitaan dan pengambilalihan aset yang berkaitan dengan tindak pidana. Regulasi tersebut dirancang untuk memperkuat upaya pemulihan kerugian negara serta memperbaiki tata kelola aset hasil tindak pidana.

Punya keberatan terhadap pemberitaan ini? Ajukan Hak Jawab

Komentar

Email tidak akan dipublikasikan. Komentar dimoderasi sebelum tampil.

Memuat komentar...

Artikel Terkait

Lihat semua
KMP Batumandi Terbakar, 460 Penumpang dan Kru Selamat
Nasional

KMP Batumandi Terbakar, 460 Penumpang dan Kru Selamat

Kapal Motor Penumpang (KMP) Batumandi milik PT ASDP terbakar saat hendak bersandar di Dermaga VI Pelabuhan Merak, Banten. 460 jiwa dengan selamat.

Lusianti Dwi Cahyani· 6 hari lalu
Kebakaran di Gunung Sumbing Kian Meluas, Pemadaman Api Terkendala Medan Terjal
Nasional

Kebakaran di Gunung Sumbing Kian Meluas, Pemadaman Api Terkendala Medan Terjal

Kebakaran di Gunung Sumbing makin meluas. Terjalnya medan di gunung, keterbatasan sumber air, serta sulitnya akses menjadi kendala utama yang dialami petugas.

Nurul Hidayah· 6 hari lalu
Pemerintah Respons Aksi Greenpeace dan Aspirasi Mahasiswa, Siapkan Stimulus Rp26,34 Triliun untuk Tekan Biaya Hidup
Nasional

Pemerintah Respons Aksi Greenpeace dan Aspirasi Mahasiswa, Siapkan Stimulus Rp26,34 Triliun untuk Tekan Biaya Hidup

Pemerintah merespons kritik Greenpeace soal krisis iklim dan biaya hidup serta lima tuntutan mahasiswa terkait lingkungan, ekonomi, demokrasi, dan pendidikan.

Rachmaddani Rizki Saputra· 6 hari lalu
Dua Tahun Pemerintahan Prabowo-Gibran, Demo Mahasiswa di Tugu Tani Soroti Isu Karhutla hingga Biaya Pendidikan
Nasional

Dua Tahun Pemerintahan Prabowo-Gibran, Demo Mahasiswa di Tugu Tani Soroti Isu Karhutla hingga Biaya Pendidikan

Dua tahun pemerintahan Prabowo-Gibran diwarnai aksi mahasiswa di Jakarta suarakan lima tuntutan terkait lingkungan, ekonomi, dan pendidikan.

Rachmaddani Rizki Saputra· 6 hari lalu
Krisis Iklim dan Biaya Hidup Jadi Pesan Utama Aksi Greenpeace di Bundaran HI
Nasional

Krisis Iklim dan Biaya Hidup Jadi Pesan Utama Aksi Greenpeace di Bundaran HI

Greenpeace Indonesia bentangkan dua spanduk raksasa di Bundaran HI dan mengajak warga mengirim karangan bunga digital untuk menyuarakan krisis iklim.

Rachmaddani Rizki Saputra· 6 hari lalu
Delapan Jam Diperiksa, Enam Aktivis Greenpeace Dibebaskan Usai Aksi di Bundaran HI
Nasional

Delapan Jam Diperiksa, Enam Aktivis Greenpeace Dibebaskan Usai Aksi di Bundaran HI

Panjat Monumen Bundaran HI, Greenpeace bongkar fakta mengejutkan: 41% warga tertekan akibat harga pangan melonjak gara-gara krisis iklim!

Lusianti Dwi Cahyani· 1 minggu lalu