PACITAN – Gempa bumi bermagnitudo 5,6 yang berpusat di Samudra Hindia, selatan Pacitan, Sabtu (27/6) pagi, menyisakan pertanyaan besar di tengah masyarakat. Meski tergolong berkekuatan sedang, guncangannya dirasakan hingga wilayah yang berjarak ratusan kilometer, termasuk kawasan Pantai Utara (Pantura) Jawa.

Fenomena geologi ini menarik perhatian praktisi sekaligus penggiat kebencanaan asal Pacitan, Bambang Setyo Utomo, S.Pd., M.M.B. Alumnus Magister Manajemen Bencana Universitas Pembangunan Nasional (UPN) "Veteran" Yogyakarta tersebut menjelaskan, luasnya jangkauan gempa berkaitan erat dengan karakteristik struktur geologi Pulau Jawa yang didominasi batuan keras di sejumlah wilayah.

Menurut Bambang, kawasan selatan Pacitan merupakan salah satu zona tektonik paling aktif di Indonesia. Di dasar Samudra Hindia, Lempeng Indo-Australia terus bergerak menunjam ke bawah Lempeng Sunda sehingga memicu aktivitas kegempaan. Berdasarkan hasil analisis, gempa yang terjadi akhir pekan lalu dipicu oleh mekanisme sesar naik (thrust fault).

"Batuan di kedalaman bumi melepaskan akumulasi tegangan secara tiba-tiba. Menariknya, episenter gempa kali ini hampir berimpit dengan gempa bermagnitudo 6,2 pada Februari lalu. Ini menunjukkan bahwa 'mesin subduksi' di selatan Jawa terus bekerja tanpa henti," ujar Bambang yang sehari-hari mengajar di SMP Negeri 1 Tegalombo, Minggu (28/6).

Saat patahan batuan terjadi, energi dilepaskan dalam bentuk gelombang seismik. Tahap pertama adalah Gelombang P (primary wave) yang merambat paling cepat dengan gerakan longitudinal atau maju-mundur. Gelombang ini umumnya hanya dirasakan sebagai getaran halus atau bunyi gemerincing pada kaca dan benda-benda ringan.

Beberapa detik kemudian menyusul Gelombang S (secondary wave) yang memiliki gerakan mengayun ke samping dan membawa energi lebih besar sehingga menjadi penyebab utama guncangan yang dirasakan masyarakat.

Lalu, mengapa getaran gempa dapat menjalar hingga wilayah utara Pulau Jawa?

Menurut Bambang, jawabannya terletak pada sifat batuan penyusun kerak bumi di bagian selatan Jawa. Kawasan tersebut banyak tersusun atas batuan beku dan batuan metamorf berumur tua yang bersifat sangat padat dan kaku.

"Dalam ilmu geologi, batuan seperti ini bekerja layaknya penghantar alami gelombang seismik. Berbeda dengan tanah lunak yang cenderung menyerap energi, batuan keras justru menghantarkan gelombang dengan sangat efisien sehingga getarannya mampu menjangkau wilayah yang jauh," jelasnya.

Ia mengibaratkan proses tersebut seperti rel kereta api yang dipukul menggunakan martil.

"Getarannya bisa merambat sangat jauh karena media penghantarnya padat," tambahnya.

Meski demikian, Bambang menegaskan bahwa cepat atau jauhnya rambatan gelombang gempa tidak selalu berbanding lurus dengan tingkat kerusakan yang ditimbulkan. Besarnya guncangan di permukaan sangat dipengaruhi kondisi geologi lokal atau soil amplification.

Ia mencontohkan, masyarakat yang berada dekat pusat gempa tetapi tinggal di atas batuan keras kemungkinan hanya merasakan hentakan kuat dalam waktu singkat. Sebaliknya, masyarakat yang berada jauh dari pusat gempa namun tinggal di atas tanah lunak, seperti endapan aluvial sungai atau bekas rawa, dapat merasakan guncangan lebih kuat dan berlangsung lebih lama karena gelombang seismik mengalami penguatan di dalam lapisan tanah tersebut.

"Jadi, persepsi kuat atau lemahnya gempa tidak hanya ditentukan oleh besar magnitudo. Letak geografis, jenis batuan, dan kondisi tanah di bawah permukaan memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap intensitas guncangan yang dirasakan masyarakat," tegasnya.

Melalui peristiwa ini, Bambang kembali mengingatkan pentingnya membangun budaya mitigasi bencana secara berkelanjutan. Menurutnya, karakter geologi Pulau Jawa yang sangat dinamis harus menjadi pertimbangan utama dalam penyusunan tata ruang, pembangunan infrastruktur, hingga penerapan standar bangunan tahan gempa.

"Dalam skala waktu geologi, manusia sesungguhnya hanya menumpang hidup di atas bumi yang terus bergerak. Memahami mekanisme bumi bukan sekadar urusan sains, tetapi juga bentuk penghormatan terhadap alam agar kita dapat hidup berdampingan dengan lebih aman dan selamat," pungkasnya.