Runtut.com

Anak Pesisir Dinilai Menanggung Dampak Pembangunan yang Mengabaikan Krisis Iklim dan Hak Antar Generasi

Krisis iklim semakin mengancam masa depan anak-anak, terutama di wilayah pesisir. WALHI menilai pembangunan telah mengabaikan kerentanan lingkungan.

3 menit baca
4
Pesisir Demak
Pesisir Demak — Mongabay Indonesia

Jakarta, 26 Juni 2026 – Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) menilai krisis iklim telah berkembang menjadi persoalan keadilan antar generasi, bukan lagi sekadar fenomena cuaca ekstrem. Dalam konferensi pers yang digelar di Jakarta, WALHI memaparkan bahwa anak-anak menjadi kelompok yang paling rentan terhadap dampak perubahan iklim, terutama di kawasan pesisir.

Mengacu pada Children’s Climate Risk Report 2026 yang diterbitkan UNICEF, hampir seluruh anak di dunia kini terpapar risiko perubahan iklim. Sebanyak 1,1 miliar anak menghadapi tiga ancaman sekaligus, yakni kekeringan, panas ekstrem, dan gelombang panas.

Pengkampanye Perlindungan Pesisir dan Laut WALHI, Mida Saragih, mengatakan, “Berdasarkan laporan global UNICEF tentang Children’s Climate Risk Report 2026, anak-anak berada di garis depan krisis iklim. Sedikitnya 33 juta anak terdampak banjir pesisir dan 337 juta terdampak banjir sungai. Kerentanan mereka semakin kompleks karena faktor usia, gender, dan kondisi disabilitas, terutama saat harus mengungsi dan hidup dalam ketidakpastian.”

Menurut WALHI, kondisi tersebut juga tercermin di kawasan Pantai Utara Jawa. Berdasarkan kajian BRIN tahun 2026, sebanyak 65,8 persen wilayah pesisir mengalami erosi sepanjang periode 2000–2024 yang diperparah oleh penurunan muka tanah.

“Tingginya paparan bencana iklim di pantai utara Jawa menciptakan tekanan lingkungan dan ekonomi, serta tekanan fisik dan psikologis yang berdampak langsung pada tumbuh kembang anak. Akibatnya, mereka terpaksa tumbuh dalam situasi yang mengancam kesehatan, pendidikan dan masa depan,” pungkas Mida.

WALHI juga mengungkapkan bahwa Jawa Tengah memiliki 341 desa pesisir yang tersebar di 17 kabupaten/kota. Berdasarkan data WALHI Jawa Tengah, sebanyak 96,6 persen desa pesisir di provinsi tersebut tergolong rentan terhadap dampak bencana iklim.

Kabupaten Demak, khususnya Kecamatan Sayung, disebut sebagai salah satu wilayah dengan kondisi paling kritis. Banjir rob dilaporkan telah menggenangi sekitar 1.266 hektar lahan dan terjadi secara berulang, sehingga memaksa warga Desa Sriwulan, Bedono, dan Sidogemah meninggikan rumah mereka setiap beberapa tahun.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2023, luas Desa Bedono mencapai 739 hektar atau sekitar 9,38 persen dari total wilayah Kecamatan Sayung. Namun, penelitian WALHI Jawa Tengah pada 2024 menggunakan metode pemetaan partisipatif dan analisis spasial menunjukkan luas daratan desa tersebut telah menyusut secara signifikan.

Hasil penelitian itu mencatat daratan Desa Bedono kini hanya tersisa sekitar 94,33 hektar. Penyusutan wilayah tersebut menyebabkan warga kehilangan tempat tinggal dan berpindah ke daerah lain. Dusun Tambaksari dilaporkan tenggelam pada periode 1999–2000, disusul Dusun Rejosari (Senik) pada 2006 dan Dusun Mondoliko pada 2023. WALHI menyebut kondisi tersebut dipengaruhi oleh kenaikan muka air laut sekitar 15,5 sentimeter per tahun serta penurunan muka tanah antara 7 hingga 21 sentimeter per tahun.

Direktur Eksekutif WALHI Jawa Tengah, Fahmi Bastian, menegaskan, “Bagi kami yang bermukim di Jawa Tengah, ini merupakan situasi mendesak untuk negara memenuhi kewajibannya melindungi generasi sekarang dan generasi akan datang. Jika terus membiarkan pesisir tenggelam, maka negara bukan hanya gagal melindungi anak-anak hari ini, tetapi negara juga sedang merampas hak generasi masa depan atas ruang hidup yang aman, sehat dan berkelanjutan.”

Fahmi juga meminta pemerintah meninjau kembali arah kebijakan pembangunan di kawasan pesisir.

“Hak antar generasi menuntut agar tiap kebijakan pembangunan diuji dengan melihat apa kontribusinya pada keselamatan, keberlanjutan, dan kualitas hidup. Kami menghendaki penanganan bencana iklim yang menyentuh akar kerentanan, yakni penyelamatan pantura Jawa. Pembangunan yang bertumpu pada proyek skala besar akan memperparah kerentanan pesisir. Sehingga, Pemerintah sudah sepatutnya menghentikan pengembangan mega proyek Giant Sea Wall dan Kawasan Strategis Nasional Kedungsepur yang mencakup Kendal, Demak, Ungaran, Semarang, dan Purwodadi,” tutup Fahmi.

Punya keberatan terhadap pemberitaan ini? Ajukan Hak Jawab

Komentar

Email tidak akan dipublikasikan. Komentar dimoderasi sebelum tampil.

Memuat komentar...

Artikel Terkait

Lihat semua
KMP Batumandi Terbakar, 460 Penumpang dan Kru Selamat
Nasional

KMP Batumandi Terbakar, 460 Penumpang dan Kru Selamat

Kapal Motor Penumpang (KMP) Batumandi milik PT ASDP terbakar saat hendak bersandar di Dermaga VI Pelabuhan Merak, Banten. 460 jiwa dengan selamat.

Lusianti Dwi Cahyani· 5 hari lalu
Kebakaran di Gunung Sumbing Kian Meluas, Pemadaman Api Terkendala Medan Terjal
Nasional

Kebakaran di Gunung Sumbing Kian Meluas, Pemadaman Api Terkendala Medan Terjal

Kebakaran di Gunung Sumbing makin meluas. Terjalnya medan di gunung, keterbatasan sumber air, serta sulitnya akses menjadi kendala utama yang dialami petugas.

Nurul Hidayah· 5 hari lalu
Pemerintah Respons Aksi Greenpeace dan Aspirasi Mahasiswa, Siapkan Stimulus Rp26,34 Triliun untuk Tekan Biaya Hidup
Nasional

Pemerintah Respons Aksi Greenpeace dan Aspirasi Mahasiswa, Siapkan Stimulus Rp26,34 Triliun untuk Tekan Biaya Hidup

Pemerintah merespons kritik Greenpeace soal krisis iklim dan biaya hidup serta lima tuntutan mahasiswa terkait lingkungan, ekonomi, demokrasi, dan pendidikan.

Rachmaddani Rizki Saputra· 6 hari lalu
Dua Tahun Pemerintahan Prabowo-Gibran, Demo Mahasiswa di Tugu Tani Soroti Isu Karhutla hingga Biaya Pendidikan
Nasional

Dua Tahun Pemerintahan Prabowo-Gibran, Demo Mahasiswa di Tugu Tani Soroti Isu Karhutla hingga Biaya Pendidikan

Dua tahun pemerintahan Prabowo-Gibran diwarnai aksi mahasiswa di Jakarta suarakan lima tuntutan terkait lingkungan, ekonomi, dan pendidikan.

Rachmaddani Rizki Saputra· 6 hari lalu
Krisis Iklim dan Biaya Hidup Jadi Pesan Utama Aksi Greenpeace di Bundaran HI
Nasional

Krisis Iklim dan Biaya Hidup Jadi Pesan Utama Aksi Greenpeace di Bundaran HI

Greenpeace Indonesia bentangkan dua spanduk raksasa di Bundaran HI dan mengajak warga mengirim karangan bunga digital untuk menyuarakan krisis iklim.

Rachmaddani Rizki Saputra· 6 hari lalu
Delapan Jam Diperiksa, Enam Aktivis Greenpeace Dibebaskan Usai Aksi di Bundaran HI
Nasional

Delapan Jam Diperiksa, Enam Aktivis Greenpeace Dibebaskan Usai Aksi di Bundaran HI

Panjat Monumen Bundaran HI, Greenpeace bongkar fakta mengejutkan: 41% warga tertekan akibat harga pangan melonjak gara-gara krisis iklim!

Lusianti Dwi Cahyani· 1 minggu lalu