Runtut.com

Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie: Anak Harus Dipandang Setara dengan Orang Dewasa

“Sebagai orang dewasa, kita perlu memandang tubuh anak-anak dengan kesetaraan, tidak dinilai kualitasnya berdasarkan usia, atau dituntut memenuhi standar lain,”

2 menit baca
1
Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie menjadi pembicara dalam kegiatan Sarasehan Festival Sastra Bulan Bahasa (FSBB) di Fak. Ilmu
Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie menjadi pembicara dalam kegiatan Sarasehan Festival Sastra Bulan Bahasa (FSBB) di Fak. Ilmu Budaya (FIB) Universitas Brawijaya (UB), Sabtu (24/10/2026). — Dok. Pribadi

Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie merasa terkejut ketika banyak orang tertarik menggali makna dibalik pemilihan sudut pandang anak-anak di berbagai novelnya. Di kegiatan Sarasehan Festival Sastra Bulan Bahasa (FSBB) Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Brawijaya (UB), Sabtu (24/10/2026), ia menegaskan bahwa tidak ada yang istimewa dari hal tersebut. 

“Kenapa anak-anak perlu ditulis? Justru pemisahan seperti ini adalah induk kekejaman yang ada,” kata novelis perempuan itu.

Kegelisahan pembaca ketika mengikuti alur ceritanya yang menyoroti kelompok tertentu misalnya anak-anak, justru menuntut refleksi diri masing-masing, mengapa hal tersebut bisa mengganggu. Orang dewasa seringkali menolak mendengarkan anak-anak, tidak melihat mereka sebagai sosok manusia yang utuh, dan sering membungkam pertanyaan “kenapa” dari mereka.

“Kenyataan mereka disisihkan sama halnya dengan rasisme, sexisme, dan bentuk disparasi,” tambah Ziggy.

Baginya, anak-anak seringkali dilabeli sebagai pembangkang saat mengajukan protes. Ia mempertanyakan mengapa kemudian pertanyaan “kenapa” dari tubuh kecil itu direduksi dan tidak dipandang sebagai pertanyaan pengetahuan. Sementara, apabila pertanyaan yang sama disuarakan oleh orang dewasa malah dianggap filosofis. 

“Sebagai orang dewasa, kita perlu memandang tubuh anak-anak dengan kesetaraan, tidak dinilai kualitasnya berdasarkan usia, atau dituntut memenuhi standar lain,” ungkapnya.

Ia mengumpamakan salah satu novel populernya, Di Tanah Lada. Sebagian pembaca akan menilai karakter utama di novel tersebut sebagai anak nakal, bertengkar dengan orang tuanya, lalu kabur. Namun, ia berusaha menciptakan alur pikiran yang memperlihatkan kehendak dari tokoh tersebut. Kesalahan tidak hanya eksklusif hadir pada tubuh anak-anak, tapi juga orang dewasa. 

“Keinginan anak-anak sering tidak dipenuhi apabila tidak selaras dengan keinginan orang dewasa. Padahal kesalahan tidak eksklusif hadir pada tubuh anak-anak saja,” tutup Ziggy.

Punya keberatan terhadap pemberitaan ini? Ajukan Hak Jawab

Komentar

Email tidak akan dipublikasikan. Komentar dimoderasi sebelum tampil.

Memuat komentar...

Artikel Terkait

Lihat semua