KPPS Samarinda Salurkan Donasi untuk Korban Kebakaran di Tenggarong
Komunitas Pemerhati Perempuan Samarinda menyalurkan donasi bagi warga terdampak kebakaran di Jalan Kartini, Tenggarong, yang mengakibatkan hangusnya 11 rumah.
Kondisi paska kebakaran di RT 61 dan RT 26 Kelurahan Loa Ipuh, Tenggarong. — Foto: Runtut.com
TENGGARONG, KUTAI KARTANEGARA - Solidaritas masyarakat lintas wilayah hadir bagi warga terdampak kebakaran di Jalan Kartini, Kelurahan Loa Ipuh, Kecamatan Tenggarong, Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur. Komunitas Pemerhati Perempuan Samarinda (KPPS) menggalang donasi dari para anggotanya dan menyalurkan bantuan melalui Posko Penanggulangan Bencana Kelurahan Loa Ipuh untuk membantu meringankan beban warga yang terdampak (18/10/2026).
Kebakaran yang terjadi pada Selasa malam, 13 Oktober 2026, tersebut menghanguskan 11 rumah. Berdasarkan keterangan Muhammad Ahyar, Ketua RT 61 di wilayah terdampak, delapan rumah berada di RT 61, sedangkan tiga rumah lainnya berada di RT 26.
Peristiwa tersebut juga menimbulkan korban jiwa. Di tengah dampak kebakaran yang dialami warga, inisiatif KPPS menjadi salah satu bentuk partisipasi masyarakat dalam membantu penanganan dampak bencana.
Sebelas Rumah Terbakar, Warga Kehilangan Tempat Tinggal
Muhammad Ahyar menjelaskan bahwa kebakaran mulai terjadi sekitar pukul 23.00 WITA pada Selasa malam. Berdasarkan keterangannya, api pertama kali muncul di area dekat sebuah mobil.
Muhammad Ahyar, Ketua RT 61 Kelurahan Loa Ipuh. — Foto: Runtut.com
Kebakaran kemudian berdampak pada rumah-rumah di dua wilayah RT, yakni RT 61 dan RT 26, dengan total 11 rumah terbakar.
Ahyar juga menyampaikan bahwa terdapat korban meninggal dunia dari satu keluarga, termasuk dua orang anak kakak beradik, Ahmad Ali Maulidya (7) dan Husin Taufiqqurahman (3) beserta ayah mereka, Hamri Noor.
Menurut Ahyar, proses pemadaman berlangsung sekitar tiga jam setelah kebakaran terjadi.
Kebakaran rumah dapat menimbulkan dampak yang melampaui kerusakan bangunan. Warga yang terdampak berpotensi kehilangan tempat tinggal, barang-barang pribadi, dan sumber daya yang dibutuhkan untuk menjalani kehidupan sehari-hari.
Dalam situasi tersebut, bantuan kemanusiaan dapat menjadi bagian penting dari upaya memenuhi kebutuhan warga selama masa tanggap darurat dan pemulihan.
KPPS Menggalang Donasi dari Anggota Komunitas
Informasi mengenai kebakaran di Tenggarong sampai kepada Komunitas Pemerhati Perempuan Samarinda melalui media sosial dan pemberitaan media.
Kiki Amelia, Ketua sekaligus Founder KPPS, mengatakan bahwa setelah mengetahui peristiwa tersebut, dirinya bersama para anggota berinisiatif mengumpulkan donasi untuk membantu warga terdampak.
“Informasi mengenai kebakaran ini kami peroleh dari media sosial dan media berita. Kemudian, saya selaku ketua bersama teman-teman anggota berinisiatif untuk berpartisipasi membantu meringankan beban korban bencana kebakaran ini,” ujar Kiki.
Donasi dikumpulkan dari anggota komunitas dan kemudian disalurkan melalui Posko Penanggulangan Bencana Kelurahan Loa Ipuh.
Kiki Amelia, Founder KPPS di Posko Penanggulangan Bencana Kelurahan Loa Ipuh. — Foto: Runtut.com
Langkah tersebut merupakan bentuk partisipasi masyarakat sipil dalam merespons bencana yang terjadi di wilayah sekitarnya. KPPS memandang bahwa kepedulian terhadap warga yang mengalami musibah tidak harus dibatasi oleh wilayah administratif tempat tinggal.
Kedekatan geografis antara Samarinda dan Tenggarong turut menjadi salah satu alasan komunitas tersebut mengambil inisiatif membantu.
Bagi KPPS, bencana yang menimpa masyarakat merupakan persoalan kemanusiaan yang membutuhkan kepedulian dan keterlibatan bersama.
Kiki menegaskan bahwa solidaritas antarmasyarakat sangat penting, terutama ketika warga menghadapi bencana yang berdampak besar terhadap kehidupan mereka.
Menurutnya, KPPS berupaya memberikan perhatian terhadap berbagai musibah yang dialami masyarakat. Inisiatif penggalangan donasi untuk korban kebakaran di Tenggarong menjadi salah satu wujud nyata dari kepedulian tersebut.
“Kami memang di komunitas selalu memperhatikan adanya musibah-musibah yang dialami oleh warga sekitar. Kebetulan kami di Samarinda dan Tenggarong tempatnya masih sangat dekat. Jadi, kami berinisiatif memberikan bantuan untuk meringankan beban,” kata Kiki.
Ia menekankan pentingnya semangat saling membantu ketika masyarakat menghadapi kesulitan.
“Jadi, satu sama lain supaya saling bahu-membahu. Saling bahu-membahu untuk meringankan beban siapa pun yang terdampak bencana. Itu pasti akan menjadi perhatian kita di komunitas,” ujarnya.
Pernyataan tersebut menggambarkan bagaimana solidaritas dapat diwujudkan melalui tindakan kolektif. Pengumpulan donasi oleh anggota komunitas menjadi salah satu cara untuk menerjemahkan kepedulian menjadi bantuan yang dapat disalurkan kepada warga terdampak.
Dalam penanganan bencana, keterlibatan masyarakat dapat melengkapi upaya pemerintah dan petugas penanggulangan bencana. Meski demikian, efektivitas bantuan tetap bergantung pada kesesuaiannya dengan kebutuhan warga, ketepatan penyaluran, serta keberlanjutan dukungan selama masa pemulihan.
Selain mengajak masyarakat untuk saling membantu, KPPS berharap pemerintah memberikan perhatian terhadap warga yang mengalami musibah.
Kiki menyampaikan harapannya agar Pemerintah Kota Samarinda semakin memperhatikan kebutuhan masyarakat, terutama ketika terjadi bencana.
“Kami berharap Samarinda bisa lebih baik lagi, termasuk juga perhatiannya kepada warga, kepada masyarakat, terkhusus ketika memang terjadi bencana-bencana seperti ini,” kata Kiki.
Ia juga berharap pemerintah turut berpartisipasi dalam upaya membantu warga yang terdampak bencana.
“Kami berharap pemerintah, khususnya Pemerintah Kota Samarinda, turun berpartisipasi membantu sesama untuk meringankan beban,” ujarnya.
Harapan tersebut menyoroti pentingnya keterlibatan berbagai pihak dalam penanganan bencana. Masyarakat dapat berkontribusi melalui penggalangan bantuan dan solidaritas sosial, sedangkan pemerintah memiliki tanggung jawab sesuai kewenangannya dalam penanganan darurat, pemenuhan kebutuhan dasar, serta pemulihan kehidupan warga terdampak.
Bagi warga yang kehilangan tempat tinggal, kebutuhan setelah kebakaran tidak selalu selesai ketika api berhasil dipadamkan. Dukungan dapat tetap diperlukan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, memperoleh tempat tinggal sementara, dan memulihkan kehidupan mereka.
Karena itu, penanganan bencana membutuhkan perhatian yang tidak hanya terpusat pada saat kejadian, tetapi juga pada kondisi warga setelah masa darurat berlalu.