SANGATTA, KUTAI TIMUR - Seliweran postingan foto dan rekaman video beredar luas di media sosial memperlihatkan pemandangan mencekam dari Sangatta: asap pekat membumbung tinggi menembus kegelapan malam saat lidah-lidah api merah tampak menyala berkobar hebat melahap puluhan hektare hamparan lahan gambut serta rimbunnya vegetasi ilalang gajah.
Peristiwa amukan si jago merah yang viral di jagat maya tersebut melanda kawasan Kecamatan Sangatta Utara dan Sangatta Selatan, Kabupaten Kutai Timur, Kalimantan Timur, sejak Selasa sore (13/10/2026) hingga Kamis (15/10/2026). Bahkan ancaman kebakaran belum sepenuhnya usai; kobaran api meluas hingga berjarak sangat dekat di belakang perumahan Puri Kencana serta dua kompleks sekolah. Amukan api melahap tak kurang dari 15 hingga 20 hektare tanah di koridor Jalan Guru Besar hingga merambat ke kawasan Kenyamukan, kian memperpanjang catatan kelam musibah kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di wilayah tersebut yang dalam tiga bulan terakhir saja telah menghanguskan akumulasi total seluas 101 hektare.
Di balik pekat yang menyelimuti pemukiman, membayang ancaman nyata bagi kesehatan ratusan jiwa. Hembusan angin membawa kabut asap racun merangsek masuk ke rumah-rumah warga, menyisakan sesak dan penderitaan hingga tercatat sedikitnya 572 warga, khususnya anak-anak dan lansia, terjangkit Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA). Besarnya skala kebakaran ini membuat warga panik dan berkali-kali melapor saat titik api kembali mendekati bangunan rumah mereka. Agus Kurniadi, salah seorang relawan pemadam kebakaran yang bertaruh tenaga di garda terdepan, mengungkapkan beratnya perjuangan tim relawan dan kepanikan warga di sekitar lokasi kejadian. "Istirahat cuma sebentar. Belum lama, warga sudah lapor api menyala lagi," tutur Agus menggambarkan situasi darurat di mana warga dan relawan bergotong royong menyiram lahan hingga menggali parit penyekat agar kobaran api tidak melompat masuk melahap rumah-rumah penduduk.
Musibah ini nyatanya bukan murni amukan alam, melainkan buah dari kelalaian jemari manusia. Evaluasi awal dan penelusuran di lapangan oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) bersama Polres Kutai Timur mengonfirmasi bahwa pemicu utama kobaran api berawal dari praktik pembukaan dan pembersihan lahan (land clearing) secara ilegal dengan cara dibakar oleh oknum tak bertanggung jawab di tengah teriknya cuaca kemarau.
Kerja Keras Tim Gabungan Penanggulangan Karhutla
Perjuangan menjinakkan si jago merah menjadi ujian ketahanan yang menguras peluh dan tenaga bagi Tim Gabungan Penanggulangan Karhutla. Selama hampir 13 jam nonstop hingga dini hari pada puncak kejadian, personil BPBD Kutim di bawah komando Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik, M. Naim, berbalut barisan petugas kepolisian, dinas pemadam kebakaran, dan relawan lokal, terus berjibaku menembus pekatnya asap. Perjuangan mereka dihadang medan yang terjal dan rawannya tanah gambut; meski permukaan tampak padam, bara api merayap diam-diam di bawah tanah (underground fire) dan siap meletup kembali sewaktu-waktu ditopang rapatnya ilalang gajah yang menyulitkan pergerakan slang air.
Melihat ganasnya dampak karhutla yang kian mendekati fasilitas umum dan pemukiman, peringatan tegas serta langkah penanggulangan darurat disampaikan oleh aparat berwenang di lapangan. Kapolsek Sangatta Utara, AKP Bambang Eko, menginstruksikan pengawasan ketat di zona rawan.







