Runtut.com

Kisruh Penamaan Danau Ontario Memanas, Kanada Tolak Perubahan Nama Menjadi Lake America

Kisruh penamaan Danau Ontario memanas setelah Trump menggantinya menjadi Lake America, sementara Kanada menegaskan nama Lake Ontario tetap digunakan.

3 menit baca
5
Runtut.com
Perdana Menteri Ontario Doug Ford berbicara kepada wartawan setelah memasang papan penegasan nama Lake Ontario di dekat perbatasan Kanada-AS. — Keito Newman/The Canadian Press via AP

KANADA - Pemerintah Provinsi Ontario, Kanada, menegaskan nama Danau Ontario tetap digunakan setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengeluarkan kebijakan untuk mengganti nama danau tersebut menjadi “Lake America”.

Perdana Menteri Ontario Doug Ford merespons langkah itu dengan memasang papan reklame besar bertuliskan “Lake Ontario — Now and Always” di kawasan pesisir Kanada yang berbatasan langsung dengan Amerika Serikat.

Papan reklame tersebut dipasang pada Sabtu di dekat perbatasan AS-Kanada, tepatnya di jalur utama yang banyak dilalui warga Amerika saat berkunjung ke Kanada. Pesan dalam papan itu ditulis dalam dua bahasa resmi Kanada, yakni bahasa Inggris dan Prancis, sebagai penegasan bahwa nama Lake Ontario tetap menjadi bagian dari identitas wilayah tersebut.

“Kita bisa menyebutnya apa pun yang mereka inginkan, tetapi saya dapat mengatakan seluruh dunia akan selalu menyebutnya Lake Ontario,” kata Doug Ford kepada wartawan.

Ford menyatakan Kanada akan mempertahankan kedaulatannya dalam menghadapi keputusan pemerintah Amerika Serikat. Menurut dia, perubahan nama tersebut tidak mengubah penyebutan danau yang selama ini digunakan masyarakat internasional.

Sikap Ford sejalan dengan pernyataan Perdana Menteri Kanada Mark Carney yang sebelumnya menyampaikan bahwa suatu wilayah harus disebut berdasarkan nama yang telah digunakan secara historis.

Melalui unggahan di platform X, Carney menyebut masyarakat Kanada memahami bahwa Danau Ontario tetap bernama Lake Ontario “hari ini dan selamanya”.

Kontroversi ini bermula setelah Trump menandatangani perintah eksekutif yang mengarahkan pemerintah federal AS menggunakan nama “Lake America” untuk danau yang berada di antara Negara Bagian New York dan Kanada tersebut.

Kebijakan itu menjadi bagian dari rangkaian perubahan nama geografis yang dilakukan pemerintahannya, termasuk perubahan penyebutan Teluk Meksiko menjadi “Gulf of America”.

Trump menyebut perubahan nama itu sebagai bentuk penghormatan terhadap sejarah Amerika. Ia juga mengaitkan keputusan tersebut dengan memburuknya hubungan dagang antara AS dan Kanada setelah perundingan perdagangan kedua negara mengalami kegagalan.

Ketegangan perdagangan meningkat setelah Trump mengumumkan rencana penerapan tarif sebesar 50 persen terhadap berbagai produk impor dari Kanada. Pemerintah Kanada merespons dengan menyatakan akan memberikan balasan tarif dengan nilai yang setara.

Di sisi lain, keputusan perubahan nama Lake Ontario hanya berlaku bagi penggunaan resmi pemerintah Amerika Serikat. Danau tersebut merupakan wilayah perairan bersama dengan garis perbatasan AS-Kanada yang membentang di bagian tengahnya.

Perusahaan teknologi Google kemudian menyesuaikan tampilan layanan petanya mengikuti kebijakan pemerintah AS. Pengguna Google Maps di Amerika Serikat akan melihat nama “Lake America”, sementara pengguna di Kanada tetap melihat “Lake Ontario”. Pengguna di luar kedua negara akan melihat kedua nama tersebut secara bersamaan.

Google menjelaskan perubahan itu mengikuti kebijakan perusahaan terhadap wilayah geografis yang memiliki perbedaan nama resmi antarnegara. Kebijakan serupa sebelumnya diterapkan ketika pemerintah AS mengubah penyebutan Teluk Meksiko menjadi “Gulf of America”.

Penolakan juga muncul dari sejumlah pejabat Amerika Serikat. Gubernur New York Kathy Hochul menyatakan negaranya tidak akan menggunakan nama Lake America. Menurut Hochul, perubahan nama tersebut tidak berkaitan dengan kebutuhan utama masyarakat Amerika dan justru mengalihkan perhatian dari persoalan yang lebih mendesak.

Punya keberatan terhadap pemberitaan ini? Ajukan Hak Jawab

Komentar

Email tidak akan dipublikasikan. Komentar dimoderasi sebelum tampil.

Memuat komentar...

Artikel Terkait

Lihat semua
Menteri Luar Negeri Iran Menilai Surat Panggilan AS sebagai Langkah Positif
Internasional

Menteri Luar Negeri Iran Menilai Surat Panggilan AS sebagai Langkah Positif

Delegasi Iran di Doha berupaya membicarakan kemungkinan dialog tersebut dengan mediator. “Asisten saya saat ini berada di Qatar untuk melanjutkan konsultasi."

Andini Putri Lestari· 1 hari lalu
Menilik Tradisi Unik Perayaan Halloween di Berbagai Belahan Dunia
Internasional

Menilik Tradisi Unik Perayaan Halloween di Berbagai Belahan Dunia

Di balik kemeriahan akhir Oktober, ada sejarah ritual kuno Keltik, tradisi ziarah khidmat, hingga fenomena pop kultur modern di berbagai belahan dunia.

Lusianti Dwi Cahyani· 1 hari lalu
Bukan Soal Perang Dunia III, Ini Alasan Utama Inggris, Jepang, dan AS Minta Warganya Menyimpan Stok Makanan Darurat
Internasional

Bukan Soal Perang Dunia III, Ini Alasan Utama Inggris, Jepang, dan AS Minta Warganya Menyimpan Stok Makanan Darurat

Dikira sinyal krisis global, imbauan menyetok makanan di Inggris, Jepang, dan AS ternyata murni kampanye kesiapsiagaan menghadapi bencana alam. Simak alasannya!

Lusianti Dwi Cahyani· 2 hari lalu
Biaya Bahan Bakar Melonjak, Ratusan Penumpang Kapal Pesiar Mewah Amerika Serikat Terdampar di Kamboja
Internasional

Biaya Bahan Bakar Melonjak, Ratusan Penumpang Kapal Pesiar Mewah Amerika Serikat Terdampar di Kamboja

Ratusan penumpang penumpang kapal pesiar mewah Villa Vie Odyssey terpaksa diturunkan di Kamboja usai operator kapal gagal menutupi lonjakan biaya BBM.

Rani Masida· 2 hari lalu
Lonjakan Harga Gas LNG Eropa Tembus 100 Euro Bayangi Krisis Energi Musim Dingin
Internasional

Lonjakan Harga Gas LNG Eropa Tembus 100 Euro Bayangi Krisis Energi Musim Dingin

Melonjak tiga kali lipat, harga gas LNG di Eropa menyentuh level tertinggi dalam 4 tahun dan memicu ancaman krisis energi musim dingin.

Rani Masida· 3 hari lalu
Buntut Hinaan pada Mao Zedong, Mbappe Kehilangan Rp544 Milyar dan Diboikot Tiongkok
Internasional

Buntut Hinaan pada Mao Zedong, Mbappe Kehilangan Rp544 Milyar dan Diboikot Tiongkok

Ejek Mao Zedong, Kylian Mbappe rilis permintaan maaf terbuka usai terancam boikot media dan pemutusan sponsor dari Tiongkok.

Rani Masida· 3 hari lalu