Runtut.com
UmumBreaking News

Kabut Asap Karhutla Meluas dari Kalimantan hingga Papua, Visibilitas di Sejumlah Wilayah Menurun

Kabut asap akibat karhutla memperpendek jarak pandang di Kalimantan, Sumatera, hingga Papua. Kenali wilayah terdampak dan bahaya beraktivitas di luar ruangan.

3 menit baca
3
Karhutla di Sumatera
Karhutla di Sumatera — Dok. Istimewa

RUNTUT.COM – Kabupaten Kotawaringin Timur (Sampit) dan Kotawaringin Barat (Pangkalan Bun) di Kalimantan Tengah menjadi wilayah dengan tingkat polusi pemandangan (kabut asap) terpekat dan paling ekstrem.

Di wilayah ini, asap karhutla berubah warna menjadi kekuningan dengan jarak pandang (visibilitas) yang merosot tajam hingga tinggal 30–200 meter, menyebabkan kondisi nyaris gelap gulita di siang hari serta mencatat indeks standar pencemar udara (ISPU) di level "Berbahaya". 

Daerah terparah & kondisi Visibilitas

1. Kalimantan

Karhutla di Kalimantan
Karhutla di Kalimantan — Dok. Istimewa
  • Kotawaringin Timur (Sampit) dan Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah: Jarak pandang dilaporkan hanya sekitar 30–200 meter. Kabut asap pekat menutupi sinar matahari sehingga suasana tampak kekuningan.

  • Palangka Raya, Kalimantan Tengah; Banjarbaru, Kalimantan Selatan; dan Ketapang, Kalimantan Barat: Wilayah-wilayah ini turut terdampak kabut asap yang berasal dari kebakaran lahan gambut.

2. Sumatera

Karhutla di Sumatera
Karhutla di Sumatera — Dok. Istimewa
  • Musi Banyuasin dan Ogan Komering Ilir, Sumatera Selatan: Asap tebal dari kebakaran lahan gambut menyebabkan jarak pandang menurun drastis hingga suasana siang hari tampak lebih gelap.

  • Bengkalis, Riau: Kabut asap yang terbawa angin mengganggu jarak pandang dan berpotensi memperburuk kualitas udara.

3. Papua

Karhutla di Papua
Karhutla di Papua — Dok. Istimewa
  • Merauke dan Boven Digoel, Papua Selatan: Peningkatan titik api memicu kabut asap yang berpotensi mengganggu aktivitas pelayaran lokal.

  • Sorong, Papua Barat Daya, dan Kaimana: Kabut asap mulai membatasi jarak pandang di ruang publik dan kawasan wisata.

Bahaya Beraktivitas di Tengah Polusi Penglihatan (Kabut Asap)

Kabut asap pekat dapat membahayakan keselamatan masyarakat, terutama ketika jarak pandang turun hingga di bawah 100 meter. Pengendara akan kesulitan melihat marka jalan, kendaraan di depan, maupun pejalan kaki sehingga risiko kecelakaan meningkat.

Kondisi serupa mengancam transportasi sungai, termasuk pelayaran di Sungai Mentaya, serta penerbangan domestik. Jarak pandang yang terbatas menyulitkan pengemudi dan operator transportasi memperkirakan jarak, mengenali rintangan, serta menentukan arah perjalanan dengan aman.

Dari sisi kesehatan, paparan kabut asap dapat memicu iritasi mata akibat partikel halus dan zat pencemar di udara. Gejalanya meliputi mata perih, merah, berair, hingga penglihatan buram. Kabut pekat juga menyulitkan seseorang mengenali kondisi lingkungan dan memperkirakan jarak saat beraktivitas di luar ruangan.

Berkurangnya cahaya matahari dan hilangnya garis cakrawala dapat mengganggu orientasi, terutama ketika seseorang berada di wilayah terbuka atau melakukan perjalanan.

Ancaman kesehatan berikutnya berasal dari partikel halus PM2.5 yang dapat masuk jauh ke saluran pernapasan hingga mencapai paru-paru. Paparan partikel ini berisiko memperburuk asma, memicu gangguan pernapasan, dan meningkatkan risiko infeksi saluran pernapasan akut (ISPA).

Masker kain atau masker medis belum tentu memberikan perlindungan optimal terhadap partikel berukuran sangat kecil. Masyarakat disarankan mengurangi aktivitas di luar ruangan saat kabut asap pekat, menggunakan respirator yang mampu menyaring partikel halus jika harus beraktivitas di luar, serta segera mencari pertolongan medis apabila mengalami sesak napas atau gangguan kesehatan serius.


Punya keberatan terhadap pemberitaan ini? Ajukan Hak Jawab

Komentar

Email tidak akan dipublikasikan. Komentar dimoderasi sebelum tampil.

Memuat komentar...

Artikel Terkait

Lihat semua