Memimpin organisasi kepemudaan terbesar di Jawa Timur bukanlah tugas yang ringan. Dengan jutaan kader yang tersebar hingga tingkat ranting, H. Musaffa Safril, Ketua PW GP Ansor Jawa Timur, harus menakhodai organisasi di tengah pusaran era digital dan dinamika sosial-politik yang bergerak sangat cepat.
Namun, alih-alih melihatnya sebagai beban yang menakutkan, pria yang akrab disapa Gus Musaffa ini justru menghadapinya dengan filosofi kepemimpinan yang membumi. Ia memegang teguh petuah para kiai: pemimpin sejatinya bukan orang yang paling banyak dilayani, melainkan yang paling siap melayani.
"Ada satu pesan yang selalu saya ingat, jangan pernah macak gawat. Jangan merasa organisasi ini hebat karena kita. NU dan Ansor sudah besar jauh sebelum kita hadir. Kita hanya melanjutkan estafet, bukan memulai dari nol," tuturnya.

Meluruskan Miskonsepsi tentang Ansor dan Banser
Dalam ruang publik yang sering kali dipenuhi informasi sepotong-sepotong, Gus Musaffa menyadari adanya berbagai stigma yang menempel pada organisasinya. Salah satu yang paling mengakar adalah anggapan bahwa Ansor identik dengan politik praktis, atau Banser yang disamakan dengan kelompok massa biasa.
Dengan tegas, ia meluruskan pandangan tersebut. "Miqot atau titik orientasi utama Ansor adalah Nahdlatul Ulama. Kami tidak dibangun untuk kepentingan politik sesaat. Sementara Banser, ruhnya adalah ruh santri, komandonya adalah para kiai. Mayoritas anggota kami adalah orang biasa, guru ngaji, petani, pedagang yang rela menjaga pengajian, mengatur lalu lintas, hingga membantu korban bencana secara sukarela dengan biaya pribadi."
Ia juga menanggapi stigma terkait pembubaran pengajian yang kerap dialamatkan kepada Banser. Menurutnya, hal itu adalah penyederhanaan yang sangat tidak adil.
Menjawab Stigma Banser di Tengah Pusaran Kepentingan Politik dan Demokrasi17 Juni 2026 pukul 17.40"Mayoritas waktu dan energi Ansor justru dihabiskan untuk menyelenggarakan pengajian, pendidikan, dan pemberdayaan ekonomi. Kami lahir dari rahim pesantren, tidak mungkin kami memusuhi dakwah. Jika ada penolakan, itu karena prinsip dasar kami adalah menjaga ketertiban, merawat NKRI, dan mematuhi arahan kiai," jelasnya.
Membangun Rumah yang "Keren" bagi Generasi Z
Menghadapi perubahan zaman, Gus Musaffa memiliki visi yang tajam mengenai kaderisasi anak muda. Ia menilai karakter Generasi Z yang kritis dan praktis bukanlah sebuah masalah, melainkan realitas yang harus difasilitasi oleh organisasi.
"Ansor tidak boleh hanya meminta anak muda menyesuaikan diri. Organisasi juga harus memahami bahasa mereka. Nilai-nilai Ahlussunnah wal Jamaah tetap sama, tetapi cara penyampaiannya harus diperbarui. Anak muda butuh ruang untuk mengembangkan potensi, keterampilan digital, hingga kewirausahaan," paparnya.
Gus Musaffa menegaskan bahwa organisasi akan dianggap "keren" bukan karena seragam atau pencitraan, melainkan karena manfaat nyata yang dirasakan anggotanya. "Masuk Ansor bukan berarti hanya menambah kartu anggota, tetapi harus menambah kapasitas, memperluas jejaring, dan membuka peluang pengabdian."

Warisan yang Ingin Ditinggalkan
Ketika ditanya mengenai legacy (warisan) apa yang ingin ia tinggalkan di penghujung masa khidmatnya nanti, Gus Musaffa memberikan jawaban yang mencerminkan ketulusan seorang santri. Ia tidak menginginkan namanya diabadikan dalam kultus individu.
"Saya lebih berharap bisa meninggalkan fondasi kolaborasi ekonomi yang kuat antar kader. Dan jika suatu hari para sahabat di akar rumput mengingat saya, saya tidak ingin diingat karena jabatan. Saya lebih bahagia dikenang sebagai sahabat seperjuangan yang mau hadir ketika dibutuhkan," ungkapnya.
"Ketika masa khidmat ini berakhir, saya ingin pulang dengan tenang sebagai seorang kader biasa. Tidak meninggalkan cerita tentang kekuasaan, tetapi meninggalkan organisasi yang lebih kuat dan kader yang lebih optimis daripada sebelumnya," tutupnya tersenyum.








