Runtut.com

Visi Besar H. Musaffa Safril Menjawab Stigma Banser dan Membawa Ansor Ramah Generasi Z

Ketua PW GP Ansor Jatim, H. Musaffa Safril, angkat bicara soal stigma politik Banser dan visinya menjadikan Ansor ruang bertumbuh bagi Generasi Z.

3 menit baca
4
Visi Besar H. Musaffa Safril Menjawab Stigma Banser dan Membawa Ansor Ramah Generasi Z
H. Musaffa Safril, Ketua PW GP Ansor Jawa Timur, menghadapi amanah kepemimpinan dengan prinsip sederhana: pemimpin bukan untuk dilayani, tetapi hadir untuk melayani. — Dok. Pribadi H. Musaffa Safril

Memimpin organisasi kepemudaan terbesar di Jawa Timur bukanlah tugas yang ringan. Dengan jutaan kader yang tersebar hingga tingkat ranting, H. Musaffa Safril, Ketua PW GP Ansor Jawa Timur, harus menakhodai organisasi di tengah pusaran era digital dan dinamika sosial-politik yang bergerak sangat cepat.

Namun, alih-alih melihatnya sebagai beban yang menakutkan, pria yang akrab disapa Gus Musaffa ini justru menghadapinya dengan filosofi kepemimpinan yang membumi. Ia memegang teguh petuah para kiai: pemimpin sejatinya bukan orang yang paling banyak dilayani, melainkan yang paling siap melayani.

"Ada satu pesan yang selalu saya ingat, jangan pernah macak gawat. Jangan merasa organisasi ini hebat karena kita. NU dan Ansor sudah besar jauh sebelum kita hadir. Kita hanya melanjutkan estafet, bukan memulai dari nol," tuturnya.

Di tengah beragam pandangan tentang Ansor dan Banser, Gus Musaffa menegaskan bahwa ruh perjuangan organisasi tetap berakar pada nilai pesantren, khidmah, dan kepedulian sosial.
Di tengah beragam pandangan tentang Ansor dan Banser, Gus Musaffa menegaskan bahwa ruh perjuangan organisasi tetap berakar pada nilai pesantren, khidmah, dan kepedulian sosial. — Dok. Pribadi H. Musaffa Safril

Meluruskan Miskonsepsi tentang Ansor dan Banser

Dalam ruang publik yang sering kali dipenuhi informasi sepotong-sepotong, Gus Musaffa menyadari adanya berbagai stigma yang menempel pada organisasinya. Salah satu yang paling mengakar adalah anggapan bahwa Ansor identik dengan politik praktis, atau Banser yang disamakan dengan kelompok massa biasa.

Dengan tegas, ia meluruskan pandangan tersebut. "Miqot atau titik orientasi utama Ansor adalah Nahdlatul Ulama. Kami tidak dibangun untuk kepentingan politik sesaat. Sementara Banser, ruhnya adalah ruh santri, komandonya adalah para kiai. Mayoritas anggota kami adalah orang biasa, guru ngaji, petani, pedagang yang rela menjaga pengajian, mengatur lalu lintas, hingga membantu korban bencana secara sukarela dengan biaya pribadi."

Ia juga menanggapi stigma terkait pembubaran pengajian yang kerap dialamatkan kepada Banser. Menurutnya, hal itu adalah penyederhanaan yang sangat tidak adil.

"Mayoritas waktu dan energi Ansor justru dihabiskan untuk menyelenggarakan pengajian, pendidikan, dan pemberdayaan ekonomi. Kami lahir dari rahim pesantren, tidak mungkin kami memusuhi dakwah. Jika ada penolakan, itu karena prinsip dasar kami adalah menjaga ketertiban, merawat NKRI, dan mematuhi arahan kiai," jelasnya.

Membangun Rumah yang "Keren" bagi Generasi Z

Menghadapi perubahan zaman, Gus Musaffa memiliki visi yang tajam mengenai kaderisasi anak muda. Ia menilai karakter Generasi Z yang kritis dan praktis bukanlah sebuah masalah, melainkan realitas yang harus difasilitasi oleh organisasi.

"Ansor tidak boleh hanya meminta anak muda menyesuaikan diri. Organisasi juga harus memahami bahasa mereka. Nilai-nilai Ahlussunnah wal Jamaah tetap sama, tetapi cara penyampaiannya harus diperbarui. Anak muda butuh ruang untuk mengembangkan potensi, keterampilan digital, hingga kewirausahaan," paparnya.

Gus Musaffa menegaskan bahwa organisasi akan dianggap "keren" bukan karena seragam atau pencitraan, melainkan karena manfaat nyata yang dirasakan anggotanya. "Masuk Ansor bukan berarti hanya menambah kartu anggota, tetapi harus menambah kapasitas, memperluas jejaring, dan membuka peluang pengabdian."

Bagi Gus Musaffa, ukuran keberhasilan bukanlah jabatan yang dikenang, melainkan organisasi yang semakin kuat dan kader yang semakin siap melanjutkan perjuangan.
Bagi Gus Musaffa, ukuran keberhasilan bukanlah jabatan yang dikenang, melainkan organisasi yang semakin kuat dan kader yang semakin siap melanjutkan perjuangan. — Dok. Pribadi H. Musaffa Safril

Warisan yang Ingin Ditinggalkan

Ketika ditanya mengenai legacy (warisan) apa yang ingin ia tinggalkan di penghujung masa khidmatnya nanti, Gus Musaffa memberikan jawaban yang mencerminkan ketulusan seorang santri. Ia tidak menginginkan namanya diabadikan dalam kultus individu.

"Saya lebih berharap bisa meninggalkan fondasi kolaborasi ekonomi yang kuat antar kader. Dan jika suatu hari para sahabat di akar rumput mengingat saya, saya tidak ingin diingat karena jabatan. Saya lebih bahagia dikenang sebagai sahabat seperjuangan yang mau hadir ketika dibutuhkan," ungkapnya.

"Ketika masa khidmat ini berakhir, saya ingin pulang dengan tenang sebagai seorang kader biasa. Tidak meninggalkan cerita tentang kekuasaan, tetapi meninggalkan organisasi yang lebih kuat dan kader yang lebih optimis daripada sebelumnya," tutupnya tersenyum.

Punya keberatan terhadap pemberitaan ini? Ajukan Hak Jawab

Komentar

Email tidak akan dipublikasikan. Komentar dimoderasi sebelum tampil.

Memuat komentar...

Artikel Terkait

Lihat semua
Malam Apresiasi Katadata 2026: Habibie, Gus Dur, dan William Soeryadjaya Raih Lifetime Achievement Award
Tokoh

Malam Apresiasi Katadata 2026: Habibie, Gus Dur, dan William Soeryadjaya Raih Lifetime Achievement Award

Katadata menganugerahkan Lifetime Achievement Award 2026 kepada B.J. Habibie, Gus Dur, dan William Soeryadjaya atas kontribusi besar mereka.

Lusianti Dwi Cahyani· 1 minggu lalu
Garda Terdepan Kemanusiaan: Dedikasi Aktivis dan Pejuang Lingkungan Lokal Merespons Bencana Alam
Tokoh

Garda Terdepan Kemanusiaan: Dedikasi Aktivis dan Pejuang Lingkungan Lokal Merespons Bencana Alam

Dari evakuasi mandiri hingga advokasi kerusakan alam, simak bagaimana komunitas lokal dan aktivis lingkungan menjadi pilar utama pemulihan pascabencana.

Lusianti Dwi Cahyani· 1 minggu lalu
Ketulusan Tanpa Batas: Kiprah Guru Inspiratif dan Pahlawan Literasi Menyalakan Asa di Pelosok Negeri
Tokoh

Ketulusan Tanpa Batas: Kiprah Guru Inspiratif dan Pahlawan Literasi Menyalakan Asa di Pelosok Negeri

Mengenal lebih dekat dedikasi Koko Triantoro, Ibu Een Sukaesih, hingga pejuang perahu pustaka yang mendedikasikan hidupnya demi meratakan kualitas pendidikan.

Lusianti Dwi Cahyani· 1 minggu lalu
Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie: Anak Harus Dipandang Setara dengan Orang Dewasa
Tokoh

Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie: Anak Harus Dipandang Setara dengan Orang Dewasa

“Sebagai orang dewasa, kita perlu memandang tubuh anak-anak dengan kesetaraan, tidak dinilai kualitasnya berdasarkan usia, atau dituntut memenuhi standar lain,”

Andini Putri Lestari· 1 minggu lalu
Kejayaan 5 Kesultanan Islam di Sumatera Sebelum Kemerdekaan
Tokoh

Kejayaan 5 Kesultanan Islam di Sumatera Sebelum Kemerdekaan

Jejak Peradaban Kesultanan Sumatera Mengubah Wajah Nusantara. Intip profil singkat 5 kesultanan Islam legendaris di Pulau Sumatera dan peninggalan sejarahnya.

Lusianti Dwi Cahyani· 2 minggu lalu
Dr. (H.C.) Martha Tilaar Wafat, Dimakamkan di San Diego Hills
Tokoh

Dr. (H.C.) Martha Tilaar Wafat, Dimakamkan di San Diego Hills

Tokoh kecantikan Indonesia Dr. (H.C.) Martha Tilaar wafat di usia 89 tahun. Almarhumah dimakamkan di San Diego Hills berdampingan dengan sang suami.

Mila Nabilah· 2 minggu lalu